Cinta menjadi tema umum dalam cerpen-cerpen karya Sungging Raga yang terkumpul dalam buku Reruntuhan Musim Dingin. Tapi, ini bukan kisah cinta yang cengeng. Sungging Raga meramu kisah cinta yang tak biasa. Kalau kata Tia Setiadi dalam pengantarnya terhadap buku ini, "Sungging Raga bersikeras menampilkan kisah-kisah cinta yang, syukurnya, tak terjerumus ke dalam lautan klise."
Kisah-kisah cinta dalam cerpen-cerpennya ditulis dengan penggambaran yang datar, yang berjarak. Namun meski demikian, Sungging Raga tak membiarkan cerpennya kering kerontang. Penulis memainkan akrobat kata dan menampilkan atraksi frasa. Rangkaian kata-katanya seperti menari-menari dengan anggun dan indah saat menceritakan suatu keadaan atau perasaan. Silakan baca resensi lengkap buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga di sini.
Banyak rangkaian katanya bisa menjadi quote yang bagus. Berikut ini kutipan-kutipan bagus dari buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga.
Barangkali, tidak ada perpisahan yang lebih menyenangkan untuk dirayakan daripada sepasang kekasih yang berpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Sepasang kekasih yang kemudian akan saling bertanya: mengapa cinta tidak cukup kekal untuk menjadikan dua manusia bersama selamanya? (Cerpen "Selebrasi Perpisahan") Cinta terkadang memang tak direncanakan, tapi ketika segalanya bersemi, artinya ada yang harus diperjuangkan. (Cerpen "Selebrasi Perpisahan") Setelah kebersamaan yang begitu panjang, mengapa kini hanya tersisa setengah jam? Apakah cinta tidak bisa diisi ulang? (Cerpen "Selebrasi Perpisahan") Memang. Selalu saja ada kisah tentang perempuan yang menunggu. Dan tidak ada kisah yang lebih menyedihkan daripada perempuan yang merasa yakin bahwa penantiannya yakin akan berbuah manis. Apakah perempuan selalu ditakdirkan untuk menunggu? (Cerpen "Dermaga Patah Hati") Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin darimu, untuk kemudian ditinggalkan. (Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin") Setiap kisah, setiap tokoh yang singgah dalam kehidupan kita, pada akhirnya akan menghilang, berpisah begitu saja, melanjutkan kisahnya bersama tokoh-tokoh lain yang tak kita kenal. Mereka hanya serpihan bagi kita, dan kita pun mungkin hanya selintas ingatan bagi mereka. (Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin") Mengapa ia tak bisa melepas kenangan yang awalnya datang begitu ringan? Apakah kenangan memang bisa tumbuh dan berkembang, menciptakan cabang berupa anak-anak kenangan yang lain? (Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin") Tidak terbayang jika aku hidup bersama seorang penulis. Pasti sangat menyusahkan. Menulis itu bukan pekerjaan, itu cuma semacam pengisi waktu luang.(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")
telah gugur sesosok daun yang sebelumnya telah kering di ranting ia awalnya adalah daun yang indah mengelok pandang, mengundang sanjung warnanya hijau meneduhkan ia dibesarkan oleh hangatnya belaian matahari
tahtanya tinggi di pucuk ranting berdekatan dengan bunga-bunga paling atas dilihatnya tanah, rumput, buah yang jatuh lalu membusuk di bawah sana dipandangnya anak kecil yang berlarian mengitari pohon yang duduk-duduk di akar besarnya yang mencuat keluar
telah gugur ia kini usianya berbatas, tugasnya purna ia melayang berkendara angin tujuannya ialah tanah basah di bawah sana tanah dan rumput yang dulu dipandanginya dari atas
seorang pejalan itulah aku. yang mencari aliran air itulah aku. yang menyusuri jejak pendahulu itulah aku. ikutilah aliran air sungai hingga tiba di samudera kekayaan itulah wasiat yang ditanamkan dalam batinku. maka di sinilah aku di sepanjang tepi aliran sungai.
bekalku adalah sepotong roti dan sebotol parfum. separo potong roti untuk pagi hari dan sisanya untuk menutup hari. kucelupkan separo potong roti itu ke dalam air sungai agar ia lembut dan mudah ditelan dan basah dan memberikan kesegaran. dan sebotol parfum itu kucipratkan pada pakaianku saat malam hari. parfum yang mengusir hawa kejahatan. yang mendekatkan kebaikan. yang menjadi perantara untuk memanjat tangga yang tercipta dari cahaya.
penglihatanku adalah matahati dan pendengaranku adalah matabatin. pengabarku adalah burung-burung terbang yang berkicau tentang sebuah gunung di ujung samudera yang di puncaknya bertahta sang raja. peneduhku adalah awan putih yang kadang menjelma menjadi pekat dan mencurahkan air yang memadamkan hasratku.
akulah pejalan yang menyusuri jejak pendahulu di sepanjang tepi aliran sungai menuju samudera kekayaan dengan bekal sepotong roti dan sebotol parfum.
akulah badai, engkaulah karang purnama memanggilku membakar renjana dalam diriku memercik memerciklah aku membesar membesarlah aku menggunung menggununglah aku
akulah badai, engkaulah karang dihentak bisingnya langit diguncang riuhnya kapal-kapal melindas, terlindas, menabrak, tertabrak hancurlah aku dibakar asap-asap di udara ditusuk racun-racun di air dan pepohonan mengaduh dari kejauhan merintih menuju kematiannya
akulah badai, engkaulah karang purnama memanggilku aku datang aku terjang aku yang malang telah menerima panggilan