Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Sunday, February 18, 2018

Konser Nyanyian Puisi "Cerita Buat Lila"



oleh Jodhi Yudono
feat Noorca Massardi, Rayni N Massardi, Joshua Igho, Wage Tegoeh Wijono, Agung Tri Nugroho, Heri Prasetyo, Rumah Balada Indonesia (RBI) Solo
***

Rabu malam (14/02/2018) Solo diguyur gerimis kecil. Udaranya cukup dingin. Dengan segelas cokelat panas, suasana bakal jadi romantis. Tapi, ada hajatan di Balai Sudjatmoko malam itu yang tak kalah romantisnya.

Konser Nyanyian Puisi dihelat di ruangan balai yang tak cukup luas. Dengan tema "Cerita Buat Lila", acara tersebut menarik sekitar 50-an para penikmat seni. Saya salah satu di antara mereka, duduk lesehan berdekatan satu sama lain.

Lila. Saya penasaran siapa pemilik nama itu. Biasanya sebuah nama yang dipakai dalam acara seni budaya memiliki makna dan rujukan tertentu.

"Cerita Buat Lila". Lila ternyata adalah nama istri sang penampil utama, Jodhi Yudono. Sayangnya, sang istri telah meninggal setahun yang lalu, tepat pada bulan Februari. Konser ini boleh dibilang didedikasikan untuk mendiang istrinya.

"Judulnya Cerita Buat Lila," kata Jodhi Yudono dalam pengantarnya. "Besok 16 Februari itu tepat satu tahun kepergian istri saya, Lila. Violi Lila. Jadi, semua lagu-lagu ini saya persembahkan buat dia.

"Cerita Buat Lila itu sendiri adalah satu puisi yang kemudian saya bikin lagu yang dulu kalau menjelang tidur biasa saya nyanyikan buat dia, sampai kami tertidur sendiri. Mudah-mudahan dia juga tertidur dengan tenang.

"Genap satu tahun, rupanya dia nggak pergi-pergi juga dari pikiran dan hati saya."
#hikshiks

Mengetahui fakta tersebut, perasaan haru menelusup di hati saya. Betapa bahagianya jika kita meninggal nanti, seseorang yang mencintai kita terus mengenang, mengekalkan kita dalam kehidupannya.

Berikut ini kutipan bait puisi/lagu Cerita Buat Lila.


Kukejar bayangmu, duhai kekasih
Kuikuti jejakmu, duhai cinta
Di antara pasir dan desir angin
Pada terang siang dan gelap malam



Dalam acara ini ada pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Saya menikmati pembacaan puisi yang dilakukan oleh para penyairnya. Dan saya lebih menikmati musikalisasi puisi oleh Jodhi Yudono dan seniman lainnya.

Irama musiknya tak melulu melankolis. Ada irama yang agak menghentak juga. Membuat penonton ikut mengangguk-anggukkan kepala atau mengetuk-ngetukkan tangan.

Jodhi Yudono menyanyikan beberapa puisi. Ada satu yang sangat berkesan bagi saya. Saya hanyut dalam lirik puisinya, nada lagunya, dentingan piano, serta petikan gitar dan gesekan biola. Saya tak tahu judulnya.

Berikut ini larik puisi yang saya maksud.


Kekasih itu hanya memberi tanpa meminta
Seperti hujan yang mengairi sungai
Seperti sungai genangi laut
Seperti laut tumbuhkan awan
Seperti awan yang menjatuhkan hujan

Kekasih adalah matahari, sinari jiwaku
Kekasih adalah serupa embun pagi
Kekasih adalah rumpun bambu lahirkan simfoni alam
Nyanyian puisi yang tak pernah henti

Kauberi daku semangat hidup
Kau bagai arus sungai yang takkan pernah kering
Sempurna hidupku...

Berikut ini link youtube rekaman videonya via youtube



***
Sukoharjo, 17 Februari 2018











Wednesday, February 14, 2018

Kutipan Novel The Storied Life of A.J. Fikry Karya Gabrielle Zevin



"Ini Maya. Umurnya 25 bulan. Ia sangat cerdas, sangat pandai bicara untuk seusianya, dan anak yang sangat manis dan baik. Aku ingin ia tumbuh sebagai anak yang gemar membaca. Aku ingin ia dibesarkan di tempat dengan buku-buku dan di antara orang yang peduli dengan hal-hal semacam itu."

"Aku mencemaskanmu. Kalau kau mencintai semua orang, akhirnya kau akan sering terluka."

"Sebagai suatu bentuk karya, buku bergambar sama elegannya dengan cerita pendek."

"Jadi begini, awalnya aku cenderung tidak menyukai buku, tapi lambat laun aku jadi menyukainya, ya. Karena, kau tahu, ceritanya tentang detektif. Tapi alurnya cenderung lambat dan kebanyakan masalah tidak terpecahkan. Tapi kemudian aku berpikir, memang seperti itulah kehidupan."

"Cara pertama Maya mendekati buku adalah mencium aromanya. Ia melepaskan jaket buku, kemudian mendekatkannya ke wajah dan manangkupkan sampulnya di kedua telinganya. Biasanya buku beraroma seperti sabun Daddy, rumput, lautan, meja dapur, dan keju."

"Kau tahu segalanya yang perlu kau ketahui tentang seseorang dari jawaban atas pertanyaan ini: Apa buku favoritmu?"
"Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat."

"Dia kurang suka membaca. Tapi itulah yang menarik, bukan? Maksudku, rasanya menarik bersama dengan seseorang yang, eh, ketertarikannya sangat berbeda dari ketertarikanku."

"Saat membaca buku, aku ingin kau membacanya di saat bersamaan."
"Aku ingin kau jadi milikku. Aku bisa menjanjikanmu buku, percakapan, dan hatiku seutuhnya."
"Masalahnya dengan pernikahan adalah acara itu bisa membuat seseorang merasa sangat kesepian."

"Sebagai penjual buku, kuyakinkan kau bahwa memenangi penghargaan mungkin punya andil cukup penting bagi penjualan, namun jarang berarti dari segi kualitas."
"Sebuah tempat kurang sempurna tanpa toko buku."
"Maya, novel memang memiliki pesona tersendiri, namum ciptaan paling elegan dalam jagat prosa adalah cerpen. Kuasai cerpen dan kau akan menguasai dunia."
"Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian."
"Maya, kita adalah yang kita cintai. Kita menjadi diri kita karena kita mencintai."

"Di dunia ini tidak adayang seperti orang-orang perbukuan. Perbukuan adalah urusan pria dan wanita terpelajar."

"Aku senang mengobrol tentang buku dengan orang-orang yang suka mengobrol tentang buku. Aku menyukai kertas. Aku menyukai rasanya, dan aku suka rasa buku terselip di saku belakangku. Aku juga suka aroma buku baru."





Tuesday, February 13, 2018

Wisata Eling Bening yang Eksotis dan Romantis


Eling Bening namanya ya... bukan eling mantan. Apalagi eling utang-yang-belum-terbayar.
Lokasinya di Bawen, Semarang, dekat dengan jalan raya sehingga mudah ditemukan, nggak kayak jodoh yang sulit ditemukan. #uhuks
Asik nih tempat ini, gitu pikiran saya saat datang ke Eling Bening ini. Wahana wisata baru dibuka akhir tahun 2017. Tapi, sudah cukup terkenal. Ada apa aja di sini? Yang pasti tempatnya cukup adem. Sekitarnya di kelilingi bukit-bukit, dan terlihat gunung di kejauhan.
Banyak tempat untuk duduk-duduk sambil bersandar ke pundak seseorang, kalau nggak ada seseorang ya bersandar di tembok atau di tiang bangunan. Yang penting jangan bersandar pada harapan palsu.
Ada balai yang cukup luas, gazebo yang teduh, kursi dan meja yang bercita rasa seni. Ada kolam renangnya juga. Jadi, kamu bisa berenang atau main air sambil melihat pemandangan ke bawah atau ke kejauhan. Akan terlihat jalan-jalan yang bekelok, persawahan, danau, dan gunung di kejauhan.
Terdapat restoran di bagian atas dengan meja-kursi yang banyak. Kamu bisa milih meja-kursi di indoor atau outdoor. Ada wahana outbound di sini. Paintball, flying fox, dan aneka sarana outbound lainnya.
Mau foto pasca-wedding? Bisa banget. Ada banyak spot foto yang bagus dan romantis. Foto-fotomu bakalan bagus asala cuacanya mendukung.
Saya ke Eling Bening saat mendung menggelayut manja di pundak langit. Jadinya untuk foto-foto, background langit terlihat suram. Kalau pas cerah, tentunya langit berwarna biru dan awan-awan putih bakal melayang-layang bermalasan di sana.
Tempatnya yang luas cocok buat wisata keluarga atau komunitas. Ada tiket seharga enam belas ribu rupiah untuk masuk ke Wahana Eling Bening ini. Kamu akan dapat sebotol air mineral untuk peneman foto-foto di sini.











Tuesday, September 5, 2017

Ada cinta di Pramuka


Saya terjebak di Pramuka, terjerumus, hingga akhirnya tenggelam di dalamnya.

Sewaktu SD, saya mengikuti Pramuka hingga mencapai Penggalang Ramu, ada piagamnya –yang sekarang entah di mana rimbanya. Saat SMP, saya tak terlalu tertarik dengan Pramuka. Kelas 1 SMP, semua siswa diwajibkan ikut Pramuka. Tapi, lha wong pada hari masuk biasa aja saya sering bolos, kok. Apalagi, pas Pramuka. Jadi, selama satu tahun, kehadiran saya di kegiatan latihan Pramuka bisa dihitung dengan jari.

Selepas SMP, saya tidak bersentuhan lagi dengan ekstrakurikuler “di sini senang di sana senang” ini. Hingga akhirnya saya terjebak di Pramuka setelah 10 tahun kemudian, yaitu pada saat menjadi guru SMP. Dulu saat SMP saya menghindari Pramuka. Lhadalah, pas jadi guru SMP mesti membina Pramuka. Kalau kata orang-orang, katanya ini hukum karma.

Inilah takdir Tuhan, kata saya.

Saat itu tahun 2013. Saya lulus kuliah jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kemudian diterima mengajar di SMP di Sukoharjo. Pada awal masuk kerja itu, ada kegiatan kemah Pramuka, Jambore Kwarcab Sukoharjo. Sebagai “anak baru”, saya tak terlalu heran ditugaskan untuk mendampingi anak-anak kemah selama 4 hari 3 malam itu. Lagipula, guru yang ada terbatas jumlahnya. Itulah, sentuhan pertama Pramuka pada saya sejak terakhir di SMP dulu.

Akhirnya, saya resmi menjadi pembina Pramuka di SMP. Saya tak paham sedikit pun soal Pramuka. Bagaimana aba-aba PBB, membuat simpul, mendirikan tenda, bahkan mengajari tepuk dan yel-yel saja tidak bisa. Miris memang.

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu di dunia ini. Sebelum mengajarkan sesuatu kepada anggota Pramuka, tentu saya mesti belajar terlebih dahulu. Saya mesti belajar membuat simpul, mendirikan tenda, membuat yel-yel, dan lain sebagainya. Semuanya saya lakukan secara otodidak. Semakin lama, saya merasa pengetahuan dan keterampilan kepramukaan saya meningkat. Itulah gunanya belajar, bukan.

Sesungguhnya, menjadi pembina Pramuka itu capek. Banget, malahan. Setiap selesai kegiatan latihan Pramuka, biasanya badan saya terasa lemas. Latihan Pramuka seringnya di luar ruangan dan kegiatannya cukup menguras tenaga. Apalagi jika ada kegiatan kemah atau lomba Pramuka, benar-benar menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Jika boleh memilih, tentu saya tidak usah menjadi pembina Pramuka saja. Capek, bos...

Tapi, itu sudah menjadi tugas dan kewajiban. Saya berusaha untuk selalu bersikap nrima, menerima apa pun yang ditugaskan.

Pada tahun 2013, ada kegiatan pelatihan bagi pembina Pramuka: Kursus Mahir Dasar (KMD). Saya diikutkan kegiatan tersebut, dengan biaya sepenuhnya dari sekolah. Di situlah pertama kali saya mendapat bekal menjadi pembina Pramuka. Secara umum kegiatan KMD agak membosankan pada bagian penyampaian materi di ruangan. Bayangkan, ratusan orang duduk berhimpitan di dalam ruangan yang tak luas selama beberapa jam. Untuk kegiatan lapangannya cukup menyenangkan meskipun agak melelahkan.

Di kegiatan KMD itu terjadilah satu peristiwa yang cukup memalukan bagi saya. Saya mendapat hukuman menjadi petugas penurun bendera pada acara apel sore. Pada kegiatan itu, selain langkah tegap saya yang wagu dan jalan yang kebablasan (tidak pas dengan tiang bendera), saya –dan dua teman saya—hampir menjatuhkan bendera. Selama beberapa saat kami kesulitan melipat bendera itu hingga datanglah seorang pelatih untuk membantu. Itu semua terjadi di depan pembina upacara –yang kenal dengan saya-- yang mana saat itu saya sedang menaksir anak gadisnya yang cantik itu. #wakdesss


Ada ungkapan “Kesan pertama begitu menggoda”, maka dalam kasus saya yang berlaku adalah “Kesan pertama begitu memalukan”.

Sebagai seorang jomblo akhir zaman, saya memiliki pandangan bahwa: untuk mendapatkan gadis idaman, cara paling efektif dan efisian adalah dengan mengambil hati orangtuanya. #Yeah...

Saat itulah, dimulai “perseteruan batin” dalam diri saya. Saya yang tidak bisa apa-apa di Pramuka, mesti mengambil hati calon mertua yang seorang pengurus kwartir ranting dan pelatih pembina Pramuka. Betapa beratnya misi saya itu.

Lanjut...

Setelah mengikuti KMD saya sedikit lebih percaya diri dalam membina Pramuka. Sambil terus belajar, saya mengajarkan apa yang saya bisa kepada anggota Pramuka binaan saya. Saya belajar keterampilan kepramukaan secara otodidak. Mengambil sumber belajar dari buku dan internet.

Di sekolah saya dilaksanakan kemah Pramuka setahun sekali, biasanya di daerah Karanganyar, selama 3 hari 2 malam. Kegiatan kemah itu menyenangkan, saya suka berkegiatan di alam, di hutan. Kemah-kemah Pramuka itu membuat saya semakin nyaman di Pramuka. Nyaman? Kalau udah nyaman itu biasanya akan betah bertahan, iya nggak?

Beberapa kali, sekolah saya mengirim delegasi Pramuka untuk mengikuti lomba. Pada tahun 2016, saya membersamai dua regu mengikuti Kemah Bakti Dasa Darma (Kembadarma) di buper Borobudur, Magelang. Dalam kemah yang diadakan oleh Dewan Ambalan SMAIT Ihsanul Fikri, Magelang ini kami membawa pulang piala yang cukup banyak.

Lomba kemah yang kedua yaitu Kemah Ukhuwah Wilayah (Kemwil) Pramuka SIT se-Jawa Tengah di lapangan tembak Akmil, Magelang. Kemah selama 4 hari 3 malam ini diikuti oleh ribuan anggota Pramuka. Untuk tingkat SMP setidaknya ada 36 regu. Kemwil ini sangat menyenangkan dan berkesan. Dan sekolah kami pulang membawa piala juara umum.

Dalam kegiatan kemah Pramuka saya selalu terlibat. Dan lelahnya sungguh terasa. Tapi dalam rasa lelah itu ada kepuasan tatkala melihat anak didik bisa berkembang dan menunjukkan prestasi di Pramuka.

Kembali ke soal gadis cantik yang saya taksir itu, eh maksudnya kembali ke pembina upacara yang memiliki anak gadis yang cantik itu. Kita sebut saja namanya Pak A. Sebagai laki-laki yang baik saya harus menunjukkan kepada Pak A bahwa saya layak dijadikan menantu. Saya ikuti kegiatan-kegiatan Pramuka dan berharap suatu saat Pak A bisa melihat saya ketika menunjukkan prestasi, bukan saat terjadi tragedi seperti KMD dulu itu.

Ketika ada Kursus Mahir Lanjut (KML), saya pun ikut –lagi-lagi dengan biaya sepenuhnya dari sekolah. Sebagai pelatih pembina Pramuka, Pak A kemungkinan besar bakal menjadi peatih di KML ini. Saya mengikuti KML dengan baik, selamat sentausa tidak kurang satu apapun. Pada malam api unggun, saya ditunjuk menjadi pemimpin upacara api unggun. Betapa membanggakannya!

Suara saya terdengar lantang di lapangan meneriakkan aba-aba. Semestinya pada momen seperti ini Pak A melihat saya, tapi ternyata saat itu Pak A sedang tidak menjadi pelatih. Duh, sia-sia penampilan saya sebagai pemimpin upacara yang telah menguras habis suara.

Pada suatu kali, saya pernah satu mobil dengan Pak A. Di dalam mobil itu terjadilah percakapan. Salah satunya, Pak A mengatakan, “Nanti Mas Kris ikut KPD.”

“Iya, Pak,” jawab saya. Apapun akan saya lakukan demi anak bapak. Hehehe ...

Oya, KPD itu Kursur Pelatih Tingkat Dasar. Pelatihan bagi calon pelatih Pembina Pramuka yang dilaksanakan selama 10 hari. Saya bisa membayangkan beratnya pelatihan itu, tapi waktu itu saya iyain aja. Saya akan membuktikan bahwa pembina Pramuka adalah calon menantu idaman.

Semakin saya mengikuti kegiatan Pramuka, semakin saya memahami Pramuka, semakin saya merasa nyaman dengan anak gadisnya Pak A Pramuka. Semakin saya tenggelam di dalamnya.

Awalnya saya memang tidak suka, merasa berat, dan merasa tidak mampu menjadi pembina Pramuka. Tapi, seperti pepatah: witing tresna jalaran saka kulina. ‘Cinta karena terbiasa’.

Demikianlah.
Ada cinta di Pramuka.




Saturday, August 26, 2017

Resensi Buku Kumpulan Cerpen Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian Karya Karisma Fahmi Y.


Kisah-kisah Sendu di Antara Dongeng dan Realitas

Judul : Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian
Penulis : Karisma Fahmi Y.
Cetakan : November 2016
Tebal : 172 hlm
Penerbit : Basabasi
***
Karisma Fahmi, penulis muda asal Solo. Karya-karyanya telah dimuat di beberapa media massa nasional, bahkan beberapa dimuat dalam majalah sastra Horison --yang  versi cetaknya sekarang sudah tamat riwayatnya. Beberapa cerpennya yang dimuat di media massa ditambah beberapa yang belum dipublikasikan sehingga berjumlah 16 cerpen diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian.
Karisma Fahmi. Penulis perempuan yang berkerudung dan berkacamata ini memiliki wajah bundar yang bertaburan gula-gula. Meskipun demikian, saya tidak akan bermain hati dengannya. Jika saya jatuh cinta kepadanya dan ia jatuh cinta kepada saya, hingga suatu hari nanti entah bagaimana saya membuatnya patah hati, saya khawatir ia akan menikam saya, memotong-motong tubuh saya, kemudian menjadikan saya makanan ikan peliharaannya. Hal demikian memanglah sulit terjadi di dunia nyata. Tapi, penulis menceritakan kisah semacam itu dalam cerpennya yang berjudul “Sepasang Ikan Merah”.

“Sepasang Ikan Merah” menceritakan tokoh aku –yang memiliki peliharaan seekor ikan piranha merah—yang merasa kecewa dan sedih berkepanjangan karena kekasihnya berpaling hati. Suatu hari, mantan kekasihnya itu datang ke rumahnya untuk mengambil barang-barang miliknya. Di dorong kekecewaan dan kepedihannya, tokoh aku membunuh mantan kekasihnya, lalu memotong-motong tubuhnya, dan memberikannya kepada ikan piranha merah peliharaannya. Ia menganggap mantan kekasihnya itu bersemayam dalam tubuh ikan dan akan terus menemaninya. Sungguh kisah yang sadis sekaligus manis.

Satu kisah tersebut mewakili cerpen-cerpen dalam buku ini yang semuanya menceritakan kisah pilu nan sendu. Kepedihan menjadi benang pengikat di antara cerpen-cerpen tersebut. Ada kisah pendaki yang meninggal di gunung dan merasa kesepian dalam “Pendaki Bukit Nyanyian”. Ada ratap duka atas perang di padang Kurusetra yang tak terelakkan dari tokoh Bisma dalam “Tembang Lara Kesatria Kurusetra” dan Gandari dalam “Perempuan Gandari”. “Sayap-sayap Emas Yasmin” mengungkapkan seorang wanita karier yang merasa menyia-nyiakan suami dan anaknya, namun maut telah memisahkan mereka. “Tali Pusar Karna” mengungkapkan kepiluan seorang perantau yang ketika pulang mendapati ibunya sudah meninggal dan kampung halamannya berubah menjadi sebuah waduk besar.

Melalui cerpen-cerpennya, penulis seperti ingin mengatakan bahwa rasa sakit, rasa pedih, dan kecewa adalah bagian dari kehidupan. Seperti kata Gabriel Garcia Marquez, “Rasa sakit adalah risiko untuk tetap hidup.”

Kepiluan menjadi salah satu unsur keindahan di dalam cerita-ceritanya. Keindahan memang tidak melulu berada pada hal-hal yang romantis atau kisah yang berakhir bahagia. Ada sebuah keindahan dalam kisah-kisah sendu jika diceritakan secara baik. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Azwar dalam salah satu esainya yang termuat dalam buku Membaca Sastra Membaca Dunia (2016), “Keindahan karya juga bisa jadi terasa atas cerita kegetiran hidup manusia, keprihatinan, dan kepiluan yang mendalam. Bahkan, kondisi yang sangat buruk dalam realitas bisa menjadi indah setelah menjadi sebuah karya sastra.”


Dunia Wayang dan Kisah-kisah Supranatural

Selain mengungkap dunia realitas, penulis juga menceritakan dunia wayang. Wayang menjadi salah satu inspirasi kuat bagi penulis. Hal ini diungkapkan sendiri oleh penulisnya dalam kata pengantar, “Bagi saya, kisah wayang berikut tokoh-tokohnya, selalu mampu menembus batas imajinasi, sebuah dunia kecil yang bergerak di luar dunia nyata manusia.” (hal. 8)

Dua cerpennya merupakan reinterpretasi terhadap kisah pewayangan yang diambil dari Mahabharata. Dalam “Tembang Lara Kesatria Kurusetra”, penulis menceritakan gejolak hati Bisma yang merasa sedih dan kecewa karena perang Bharatayuda akan menghancurkan kedua belah pihak yang disayanginya. Dalam cerita itu juga sedikit disinggung tokoh wanita –Srikandi yang merupakan penjelmaan Dewi Amba-- yang menyiapkan senjatanya untuk menghabisi Bisma karena dendam masa lalu.

Kegelisahan Dewi Gandari dikisahkan dalam “Perempuan Gandari”. Gandari sebagai ibu dari kesatria Kurawa merasa was-was di dalam kerajaannya, sedangkan anak-anaknya berperang hidup-mati di padang Kurusetra. Gandari dengan mata yang selalu tertutup kain hitam merasa terpukul dengan berita yang dibawa kurir yang menyebutkan nama-nama anaknya yang tewas di medan pertempuran.

Bagi pembaca berlatar belakang budaya Jawa, kedua cerpen tersebut akan lebih termaknai karena ia mengetahui kisah-kisah pewayangan (Mahabharata) secara umum. Berbeda dengan orang yang tidak mengenal kisah Mahabharata, kedua cerpen tersebut tidak akan begitu menggugah hatinya. Pengaruh dunia wayang terhadap penulis juga terlihat dalam pemilihan nama tokoh. Penulis menggunakan beberapa nama tokoh pewayangan dalam ceritanya, misalnya Anjani dan Karna.

Selain dunia wayang, penulis juga mengungkap hal-hal supranatural dalam. Penulis mengisahkan dunia roh dalam “Pendaki Bukti Nyanyian” dan “Sayap-sayap Emas Yasmin”. Dalam kedua cerpen tersebut, penulis memunculkan tokoh roh orang mati yang berlaku, berbicara, dan mengungkapkan perasaannya.

Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa jika terdengar suara burung dares pada malam hari, berarti akan ada orang yang meninggal di kampung. Mitos tersebut diceritakan dalam “Tangan Kanan Malaikat Maut”. Tuyul sebagai makhluk ghaib warisan kepercayaan Jawa dimunculkan dalam cerpen “Brenges”.

Cerpen “Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian” –yang digunakan sebagai judul buku ini—mengemukakan dunia supranatural tentang adanya tokoh yang bisa memanggil hujan dan tokoh yang bisa membaca kematian seseorang melalui pandangan kedua matanya.

Mistisime terlihat dalam cerpen “Ketika Masnawi Menyanyikan Rumi”. Dalam cerpen ini penulis mengungkapkan kecintaan seseorang terhadap syair-syair Rumi. Beberapa bait syair Rumi pun dikutipkan dalam cerpen ini.

Alur yang Berliku dan Akhir yang Mengejutkan
Dalam hal penceritaan, sang penulis sungguh piawai “mempermainkan” alur. Dalam sebuah cerpen ada beberapa cabang alur. Ceritanya seperti melompat-lompat. Tokoh-tokohnya pada awal hingga pertengahan cerita seolah-olah tidak memiliki hubungan. Namun di akhir cerita, hubungan antar-alur dan antartokoh menjadi jelas. 
lika-liku alur ini bisa digambarkan sebagai beberapa cabang sungai yang awalnya tak berhubungan satu sama lain hingga akhirnya menyatu di lautan.

Dalam “Grambyangan Manyar Sewu” penulis membuka dengan kisah tokoh Pekik yang gusar karena terganggu suara gamelan di kepalanya. Cerita kemudian meloncat pada kisah dua penari, Arum dan Anjani, yang sedang pentas di atas panggung dan problematikanya. Lalu kisah beralih lagi pada tokoh Pekik. Alurnya yang melompat-lompat ini membuat pembaca merasa penasaran dan bertanya-tanya: apa hubungan antara kedua cerita ini dan apa hubungan antara kedua tokoh ini? Di akhir cerita, barulah pembaca bisa menghubungankan benang merah antarcerita dan antartokoh.

Itulah salah satu kekuatan cerpen-cerpen dalam buku ini. Penulis membuat cerita-cerita yang berlompatan sehingga membuat pembaca merasa penasaran dan menebak-nebak akhir cerita yang seringkali mengejutkan.

Kekuatan alur tersebut didukung dengan sudut penceritaan yang dinamis. Penulis tidak hanya menggunakan satu sudut pandang dalam ceritanya. Sebagian besar cerpennya menggunakan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga sekaligus. Pada bagian awal cerita, penulis sering menggunakan sudut pandang orang ketiga. Setelah masuk tahapan pemunculan konflik, penceritaan akan diambil alih oleh tokoh utama sehingga menggunakan sudut pandang orang pertama.

Kisah Naratif yang Tak Menjemukan
Dalam buku-buku panduan menulis cerpen, sebagian besar akan menyarankan penulisan cerpen dengan komposisi antara narasi dan dialog yang proporsional. Sebuah cerpen yang narasinya terlalu banyak, berisiko menjadi cerita yang kering dan membosankan. Jika dialognya yang terlalu banyak, resikonya cerpen tersebut akan terasa dangkal dan tidak menarik. Demikian garis besar pengaturan komposisi narasi dan dialog dalam sebuah cerpen. Namun, aturan tersebut tentu saja tidak berlaku bagi para penulis yang piawai menyusun kata-kata, baik dalam bentuk dialog maupun narasi.

Cerpen-cerpen dalam Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian hampir semuanya tersusun atas narasi. Dari 16 cerpen dalam buku ini, hanya 5 cerpen yang memuat dialog, itupun porsi dialognya sangat minim. Penceritaan dengan gaya naratif berisiko menjemukan bagi pembaca. Namun, penulis pandai memikat pembaca dengan gaya penceritaannya yang cenderung ekspresionis. Pembaca seolah didongengi oleh seorang tukang cerita yang andal yang setiap kalimatnya menimbulkan kekaguman dan setiap ceritanya menimbukan rasa penasaran.

Kadang penulis menyuguhkan realitas kehidupan tokoh dan konteks cerita. Pada banyak kesempatan, penulis mengajak pembaca menyelami batin tokohnya, merasakan kegetirannya, mengecap kepedihannya, dan menanggung penderitaannya. Penggalian konflik batin tokoh sangat dalam. Inilah salah satu kekuatan gaya penceritaan penulis.

Ha
yang kurang berkenan bagi saya pada buku ini ialah gambar sampulnya. Terus terang, saya kurang suka dengan gambar sampulnya. Saya membayangkan sampul buku ini menampakkan tokoh wayang "Gandari" yang penuh kepedihan dan dendam. Atau tokoh Bisma sebagai kesatria yang siap menerima kematian.



Wednesday, June 28, 2017

Kutipan (Quote) Novel Sunset & Rosie Karya Tere Liye

Kutipan (Quote) Novel Sunset & Rosie Karya Tere Liye

Novel ini terbit pertama kali tahun 2011. Buku yang saya miliki adalah cetakan ke-20 tahun 2017. Wow... Berarti dalam 1 tahun novel ini cetak ulang 2-3 kali. Best seller lah pokoknya.

Bagi pembaca yang sentimental, novel ini bakal mengaduk-aduk perasaannya. Dengan mudah ia akan jatuh cinta pada tokoh-tokohnya, juga jalan ceritanya yang bertaburan refleksi-refleksi perasaan atas kenangan.

Banyak kutipan-kutipan menarik di dalam novel Sunset & Rosie. Di antaranya sebagai berikut.

Aku tenggelam dengan segala aktivitas pekerjaan. Membutuhkan seluruh kesibukan untuk membunuh semua perasaan yang terlanjur datang. (hlm 9)
Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar untuk dua hal. Satu, karena jatuh cinta. Dua, karena kesedihan mendalam. (hlm 66) 
Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik. (hlm 68) 
Menangis dalam tidur. Kalau kalian tahu maksudnya itu sungguh lebih menyakitkan. Kaliam tidur, tetapi menangis dalam mimpi. Kalian tidur tapi hati tetap terisak sendu. (hlm 75) 
Aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri di sini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu. Tetapi agar waktu berbaik hati, kita juga harus berbaik hati kepadanya, dengan menyibukkan diri. (hlm 79-80)
Saat kau pergi, seseorang akan baru merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan. (hlm 410)



Resensi Buku Reruntuhan Musim Dingin Karya Sungging Raga

Resensi Buku Reruntuhan Musim Dingin Karya Sungging Raga

Judul : Reruntuhan Musim Dingin
Pengarang : Sungging Raga
Cetakan : Pertama, Januari 2016
Tebal : 204 hlm
Penerbit : DIVA Press

Memang. Selalu saja ada kisah tentang perempuan yang menunggu. Dan tidak ada kisah yang lebih menyedihkan daripada perempuan yang merasa yakin bahwa penantiannya yakin akan berbuah manis. Apakah perempuan selalu ditakdirkan untuk menunggu?
(Sungging Raga. "Dermaga Patah Hati")
Jika ada tema cerita yang selalu menarik perhatian dan hangat untuk dibincangkan itulah cinta. Banyak buku -fiksi dan nonfiksi- yang menyajikan seluk-beluk asmara manusia. Dari ulama hingga penulis picisan. Dalam ranah nonfiksi, sebut aja Raudhatul Muhibbin-nya Ibnu Qayyim, The Art of Love karya Erich Fromm, dan Men Are From Mars, Women Are From Venus milik John Gray. Belum lagi bejibunnya buku-buku popular di pasaran yang menyematkan kata cinta di dalam judulnya.

Dalam ranah fiksi, kisah Layla-Majnun dari Timur Tengah berhasil menggaungkan kisah kepedihan dan kegilaan karena cinta hingga ke seluruh dunia. Dari Barat, muncullah sejoli Romeo-Juliet. Tak kalah sendu, di Indonesia tersebarlah kisah cinta Hamid-Zainab dalam Di Bawah Lindungan Kakbah buah tinta dari Buya Hamka. Dari penulis yang sama lahir pula kisah Tenggelamnya Kapal van Der Wijck yang konon terinspirasi dari Majdullin karya Manfaluthi.


Cinta, Penantian, dan Kenangan
Cinta pula yang menjadi tema umum dalam cerpen-cerpen karya Sungging Raga yang terkumpul dalam buku Reruntuhan Musim Dingin ini. Tapi, ini bukan kisah cinta yang cengeng. Sungging Raga meramu kisah cinta yang tak biasa. Kalau kata Tia Setiadi dalam pengantarnya terhadap buku ini, "Sungging Raga bersikeras menampilkan kisah-kisah cinta yang, syukurnya, tak terjerumus ke dalam lautan klise."

Pembaca bisa menduga-duga sendiri mengapa penulis memilih tema cinta dalam sebagian besar cerpennya. Kita bisa menyelami alasan penulis dalam meramu cerpen-cerpennya tersebut melalui argumennya dalam pengantar buku ini, 
"Ketika penulis dan cerpen sudah saling mencintai, maka bukan penulis yang menentukan harus menulis tentang apa, tapi cerpen itu yang mengarahkan penulis tersebut untuk menulis tema tertentu. Terkadang, saya merasa seperti itu, bahwa cerpenlah yang mengantar saya menulis cerita-cerita tertentu." (hal. 21)
Mungkin memang benar, cerita itu yang mengarahkan penulis untuk menuliskan kisah-kisah cinta. Namun, jika boleh saya asal menebak, Sungging Raga banyak menulis kisah cinta karena jiwa mudanya sedang bergejolak. Penulis masih berusia muda --dan perlu dicatat-- masih jomblo (dan akhirnya menikah pada tahun 2017). Jadi, cinta memang menjadi magnet kuat yang menarik hati dan pikirannya hingga lahirlah kisah-kisah cinta singkat dalam cerpen-cerpennya.

Meski banyak cerpennya berkisah tentang kepedihan seorang kekasih, namun penulis tak menggambarkannya dengan ekspresif. Penulis menggambarkan kisah cinta yang pilu seolah-olah sebagai kejadian sehari-hari yang jamak terjadi hingga tak perlu dilukiskan dengan tinta darah dan air mata. Meski begitu, penggambaran penulis tak kalah sendunya.

Kisah perpisahan sepasang kekasih, oleh penulis picisan, mungkin akan deraikan dengan kata-kata kepedihan yang menyesakkan dada hingga seolah-olah seribu duka ditimpakan kepada sepasang kekasih itu. Tapi oleh Sungging Raga, perpisahan sepasang kekasih di sebuah terminal dalam "Selebrasi Perpisahan" disajikan biasa saja. Tidak ada air mata yang mengalir. Hanya berpisah, begitu saja. Namun, justru di situlah kekuatan ceritanya.

Barangkali, tidak ada perpisahan yang lebih menyenangkan untuk dirayakan daripada sepasang kekasih yang berpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Sepasang kekasih yang kemudian akan saling bertanya: mengapa cinta tidak cukup kekal untuk menjadikan dua manusia bersama selamanya?(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")
Kisah seorang perempuan yang selalu menunggu di sebuah dermaga diceritakan oleh penulis dengan datar-datar saja dalam "Dermaga Patah Hati". Penulis tidak terjerumus dalam penggambaran karakter dan perasaan tokoh. Sebaliknya, penulis mengambil jarak dengan si tokoh. Penulis bukanlah orang ketiga yang serbatahu. Penulis bertindak seperti pembaca lainnya: tidak tahu siapa perempuan itu, apa yang ditunggunya, dan bagaimana perasaannya. Kesenduan dalam penantian yang ditunjukkan oleh tokoh perempuan itu terasa menyesakkan justru karena tidak diceritakan secara jelas bagaimana latar belakang dan perasaannya.

Kisah serupa di atas adalah cerpen "Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis". Cerpen ini mengisahkan seseorang perempuan berpakaian serba merah yang selalu duduk melamun di pinggir jalan Carrow Road. Dan wanita itu hanya bisa dilihat dari bulan oleh para astronot. Di bumi, di Arrow Road, wanita itu tak ada, tak terlihat. Entah kepedihan apa yang ditanggung wanita itu hingga rembulan pun menangis dan mengeluarkan air mata yang jatuh hanya di sepanjang Carrow Road tempat wanita itu duduk melamun.

Cerpen-cerpen yang lain serupa dalam cerita dan teknik penceritaannya. Sebut saja "Reruntuhan Musim Dingin", "Selamanya Musim Semi", "Turbulensi Kenangan", "Kompor Kenangan", dan "Lovelornia" yang kesemuanya menawarkan perihnya penantian, kenangan, dan pengkhiatan.

Khusus "Reruntuhan Musim Dingin" yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini, penulis sepertinya memiliki ikatan khusus dengan cerpen ini. Ada beberapa unsur yang menyiratkan hal tersebut. Yang pertama, tokoh utamanya bernama Nalea. Jika Seno Gumira Ajidarma memiliki Alena, Sungging Raga memiliki Nalea. Nama Nalea beberapa muncul dalam cerpen-cerpennya.

Kedua, tokoh laki-lakinya berprofesi sebagai penulis sehingga perbincangan kedua tokoh itu menyerempet dunia buku. Uniknya, penulis seperti menyindir dan menertawai diri sendiri tentang profesi menulis ini. 
"Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin darimu, untuk kemudian ditinggalkan." (hal. 68).
"Tidak terbayang jika aku hidup bersama seorang penulis. Pasti sangat menyusahkan. Menulis itu bukan pekerjaan, itu cuma semacam pengisi waktu luang." (hal. 70)

Kisah Cinta yang Absurd
Selain kisah cinta yang realistis antara dua anak manusia, penulis juga "bermain-main" dengan kisah cinta yang absurd. Misalnya cinta seekor laba-laba kepada seorang gadis dalam "Melankolia Laba-laba". Sungai Serayu yang menjelma menjadi seorang perempuan dan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dalam "Rayuan Sungai Serayu". 

Hubungan cinta antara seorang laki-laki dan seorang perempuan jelmaan bunga edelweis yang melahirkan anak-anak (bunga) edelweis dalam "Sihir Edelweis". Kisah cinta sepasang tengkorak yang melangsungkan pernikahan dengan mengundang para penghuni makam dalam "Biografi Sepasang Rangka".

Dalam kisah-kisah yang absurd tersebut, penulis menggoyahkan logika pembaca. Seekor laba-laba bisa memiliki perasaan cinta kepada seorang manusia. Sebuah sungai bisa menjelma menjadi seorang perempuan yang bisa diajak jalan-jalan ke mall, berbelanja odol, sikat, dan sabun, menikmati es krim, dan menginap di sebuah losmen.

Sekuntum bunga edelweis bisa menjelma menjadi seorang perempuan. Jika di rumah, bunga itu berdiam di dalam pot di dalam kamar. Saat dibawa pergi oleh laki-laki yang dicintainya --misalnya ke hotel-- bunga itu menjelma menjadi perempuan dan mereka pun bercinta. Demikian selama puluhan tahun hingga lahirlah anak-anak mereka yang tinggal di dalam bunga.

Tengkorak di pemakaman bisa menjalani kehidupan layaknya manusia hidup. Mereka ngerumpi, bermain catur, jatuh cinta, melangsungkan pernikahan, dan berpesta. Di tangan Sungging Raga, kisah-kisah tak masuk akal tersebut diolah menjadi cerpen yang memikat.

Akrobat Kata
Meski kisah-kisah cinta dalam cerpen-cerpennya ditulis dengan penggambaran yang datar, yang berjarak, Sungging Raga tak membiarkan cerpennya kering kerontang. Penulis memainkan akrobat kata dan menampilkan atraksi frasa. Rangkaian kata-katanya seperti menari-menari dengan anggun dan indah saat menceritakan suatu keadaan atau perasaan.

Kutipan berikut ini bisa menggambarkan bagaimana akrobat kata yang ditampilkan oleh penulis.

"Mengapa ia tak bisa melepas kenangan yang awalnya datang begitu ringan? Apakah kenangan memang bisa tumbuh dan berkembang, menciptakan cabang berupa anak-anak kenangan yang lain?" (hal. 69-70)
"Aku seperti terayun dalam gelombang Sungai Serayu yang dahsyat, seolah sedang mengayuh perahu sendirian di malam badai, di mana hujan turun bersama angin dan aku terombang-ambing tanpa tujuan, sebuah keadaan kacau yang tak memberiku ruang sedikitpun untuk memberontak, melainkan tunduk pada alirannya, pada gulungannya, pada empasannya...." (hal. 88)
"Gadis itu bernama Kunnaila, lahir di bawah rembulan, tumbuh sepanjang ilalang." (hal. 146)
Melankolia yang Indah
Cerpen-cerpen dalam Reruntuhan Musim Dingin yang bertema cinta dengan baluran kisah-kisah sedih dan pilu itu berpotensi melahirkan melankolia yang indah. Pada sebagian kisah itu, mungkin pembaca akan mendapati dirinya seolah-olah menjadi tokoh utama yang sedang patah hati, yang sedang menanti, atau yang sedang jatuh cinta.

Pembaca mungkin akan diam dan merenung sejenak saat menjejaki cerpen-cepen itu. Mungkin ada yang teringat kenangan masa lalunya, yang teringat kekasih yang jauh tempatnya, yang teringat seseorang yang entah kapan datangnya.


(Sukoharjo, 28 Oktober 2016)