Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Monday, January 10, 2022

Family Random Trip #1 Dari Hutan ke Pantai di Jogja

Minggu selepas azan Subuh, Sheikha---anak kami—sudah bangun. Minggu yang penuh semangat. Sejak beberapa hari yang lalu, istri saya sudah meminta untuk membelikan jeruk lemon. Rencana kami pada Minggu pagi adalah mencari jeruk lemon ke pasar.

Pagi yang belum sarapan ternyata mengubah rencana. Mumpung libur, kami sepakat ke alun-alun Sukoharjo untuk mencari sarapan. Kami sudah mandi. Sheikha pun sudah bersih wangi dan memakai baju cantik. Gasss… berangkat…

Pukul 07.30. Perjalanan dimulai.

Sampai di tengah perjalanan, kami berubah pikiran. Bagaimana kalau kita random trip saja, usul istri saya. Sebagai suami yang penurut dan penuh perhatian, saya “iyain” aja. Kalau ke arah timur---Tawangmangu—sudah sering sehingga tidak terlalu menarik. Saya pun berinisiatif membelokkan kendaraan ke arah barat. Klaten, sepertinya menarik.

Kami melewati persawahan yang hijau, jalan yang berkelok. Jalan alternatif Sukoharjo-Klaten ini mengingatkan kami pada masa dulu ketika manten anyar. Kami beberapa kali ke Jogja melewati jalan ini hingga hafal nama daerah yang kami lewati. Bahkan, kami hafal di mana ada lubang di tengah jalan, kami tahu mana bangunan yang dulu belum ada.

Sampai di Jalan Raya Delanggu, kendaraan bermotor terlihat ramai lalu-lalang. Ini hari Minggu, gitu loh. Ke manakah tujuan kita hari ini? Kami perlu ke tempat alam yang luas yang bisa dipakai Sheikha buat jalan-jalan dan eksplorasi lingkungan. Klaten sebagian besar menyediakan wisata air. Ciblon, renang. Sheika suka. Namun, pada hari Minggu, semua tempat wisata pastinya ramai. Kami berusaha menghindari keramaian.

Hutan Pinus pilihannya. Di kawasan hutan, Sheikha bisa bebas menjelajah. Tingkat kepadatan pengunjung pastinya juga rendah mengingat luasnya kawasan hutan pinus. Kami pun melaju melewati Kota Klaten dengan alun-alunnya yang selalu sibuk itu. Sepanjang perjalanan, kami melihat-lihat Klaten yang relatif tak berubah sejak tahun-tahun lalu.

Istri saya takjub dengan suasana Klaten yang dikatakannya bernuansa tahun 90-an. Beberapa bangunan masih tampak dengan ormanen lawas. Di sisi kiri dan kanan jalan utama terdapat jalur lambat. Pepohonan yang rindang membuat jalanan terasa teduh.

Selepas Prambanan, kami berbelok kiri. Menelusuri jalan ke arah Patuk. Menuju Bukit Bintang, jalan menanjak dan berkelok. Sopir butuh konsentrasi. Dan kopi, tentunya. Untungnya, saya sudah membawa bekal tumbler kopi. Gunung Kidul Handayani menyambut senyum kami.

Untuk menuju hutan pinus, dari perbatasan perbatasan Gunung Kidul kami berbelok ke arah barat. Jalan menyempit. Heha Skyview yang menyajikan wahana instagrammable, kami lewati. Dulu kami pernah mampir di parkiran objek wisata yang sering ramai ini. Di sini, pemandangan perbukitan dan kota Jogja di kejauhan bisa menemani pengunjung menikmati hidangan makanan di restonya.

Kami ingin wisata alam. Kami ingin ke Hutan Pinus Pengger. Hutan Pinus Pengger adalah objek wisata paling timur dari serangkaian wisata hutan pinus di Wonosadi. Beberapa bus terparkir di tempat parkir Pengger. Cukup ramai, tetapi tidak seramai dahulu sebelum pandemi. Tempat parkir masih luas. Setelah membayar tiket masuk sebesar sepuluh ribu rupiah per orang, kami menjelajahi Hutan Pinus Pengger. Hutan yang ditanami pinus ini terbilang bersih. Terdapat beberapa wahana untuk berfoto. Beberapa gazebo guna melepas lelah, atau duduk-duduk di rumput juga menyenangkan. Rebahan juga boleh.

Sheikha terlihat antusias dengan tempat baru. Ia melangkah ke mana saja pandangannya tertuju. Naik-turun, melompati pagar. Tentu kami yang kewalahaan. Maklum, timbunan lemak telah mengurangi ketangkasan kami dalam menjelajah alam.

Tak lupa, mendoan goreng, mie goreng, dan es degan menjadi hidangan pengobat lapar dan dahaga. Sheikha suka degan, dan es batu. Kami makan di sebuah warung dengan pemandangan bukit pinus di sekeliling dan dataran rendah di kejauhan.

Pukul sebelas siang, kami cabut dari hutan pinus. Ke mana lagi setelah ini?

Saya selalu penasaran, Hutan Pinus Mangunan dengan Hutan Pinus Pengger apakah termasuk satu kawasan. Jika satu kawasan, semestinya dari Pengger bisa menuju Mangunan. Dari Mangunan bisa ke Imogiri atau ke Kota Jogja.

Setelah bertanya ke petugas parkir—dan mengonfirmasinya dengan google map—kami menuusuri jalan sepanjang hutan pinus menuju Mangunan. Kami melewati Puncak Becici, kawasan wisata hutan pinus yang lebih besar dari Pengger. Saya sudah beberapa kali ke Becici.

Dari Becici, kami terus ke barat. Kami melewati kawasan wisata Lintang Sewu, kemudian Pinus Asri. Setelah itu, kami sampai di Hutan Pinus Mangunan, Dlingo. Wilayah Mangunan cukup terkenal dengan beberapa tempat wisata. Hutan Pinus Mangunan salah satunya. Cukup ramai siang itu. Kami tidak berhenti di Mangunan. Sheikha sedang tidur dengan lelap di pangkuan emaknya.

Selepas Hutan Pinus Mangunan, kami melewati Rumah Hobbit dan Seribu Batu. Objek wisata yang cukup terkenal. Kami melewati semuanya sambil melihat orang-orang yang lalu-lalang menikmati wisata alam tersebut. Dalam pikiran, saya sudah memiliki tujuan ke mana kami akan menghentikan kendaraan kami.

Kami menyusuri Jalan Imogiri yang naik turun dan berkelok. Jalanannya bagus, halus. Dengan pemandangan perbukitan yang hijau dan dataran rendah dengan kotak-kotak bangunan di kejauhan. Dulu kami pernah ke Kebun Buah Mangunan ketika istri saya hamil lima bulan. Habis Subuh, kami berangkat dari penginapan dengan mengendarai sepeda motor. Jalanan sepi, dan dingin. Sungai Oya yang meliuk menyambut kami di Kebun Buah Mangunan. Tentu saja kami juga disambut oleh semangkuk soto, sepiring mendoan, dan segelas teh manis.

Dari Jalan Imogiri, kami menuju barat, kemudian berbelok ke arah selatan. Jalan Parangtritis. Entah berapa lama saya tidak pergi ke Pantai Parangtritis. Sudah terlalu sering sehingga bosan dengan suasana Parangtritis, saya lebih senang menjelajah pantai-pantai yang relatif baru dan belum banyak dikenal orang.

Sheikha masih tidur lelap, emaknya ikutan tidur. Jalan Parangtritis ramai lancar. Beberapa bus dan mobil berseliweran. Beberapa sepeda motor melintas, dengan sepasang kekasih duduk di atasnya.

Kami sampai di pos retribusi kawasan Pantai Parangtritis, sepuluh ribu per orang. Sebelum sampai Parangtritis, kami membelokkan kendaraan ke arah barat. Kami tidak ke Parangtritiis. Terlalu ramai di sana. Kami melewati Parangkusumo, kemudian Gumuk Pasir. Fenomena alam yang unik, membuat Gumuk Pasir selalu mendapat kunjungan yang ramai. Tempat ini seperti gurun pasir. Kita bisa main sandboarding di sini. Atau sekadar meluncur dengan menaiki papan kayu. Pukul 12.00, Gumuk Pasir sedang panas-panasnya.

Di seberang Gumuk Pasir adalah Pantai Cemara Sewu. Di parkiran tampak beberapa bus dan mobil. Ramai juga Cemara Sewu. Kami terus ke barat. Mencari pantai yang relatif sepi. Mentok di barat, kami tiba di Pantai Depok.

Pantai Depok adalah surga kuliner seafood. Kita bisa berbelanja ikan di tempat pelelangan ikan atau pasar ikan yang cukup luas. Jangan sampai kalap, karena di sini dijual banyak jenis ikan, dengan harga yang standar. Ikan yang kita beli bisa kita berikan ke warung makan untuk dimasakkan sesuai dengan selera kita. Pasti puas makan seafood di sini.

Kami tidak jadi masuk ke Pantai Depok karena ternyata ramai. Parkiran penuh. Maklum, jam makan siang. Kami berbalik ke timur. Sebelum Pantai Cemara Sewu tadi kami melihat pantai kecil yang terlihat sepi.

Kami berhenti di Pantai Tall Wolu. Pantai kecil dengan jumlah warung makan yang bisa dihitung dengan jari satu tangan. Kami langsung memesan makan siang. Ikan bakar manis dengan sambal kecap lombok. Ikan yang disajikan jenisnya cakalang. Ukurannya sedang, agak memanjang dengan tekstur daging yang tebal dan padat.

Sheikha mau juga makan nasi dengan lauk ikan. Dan es susu cokelat untuk minumnya.

Menghabiskan satu porsi nasi dan satu ekor ikan cakalang cukup membuat perut kewalahan. Setelah salat, kami beristrirahat dan bermain di bawah rindangnya pohon cemara udang. Pohon cemara udang bentuknya tidak lancip, tapi melebar seperti pohon talok. Daunnya berbentuk seperti batang lidi.

Pohon cemara udang efektif memecah angin di pantai yang relatif kencang. Pohon ini banyak dijumpai di pantai daerah Bantul sehingga ada pantai dengan nama Pantai Cemara Sewu (karena banyaknya pohon cemara) dan Pantai Gua Cemara (karena banyaknya pohon cemara sehingga terlihat seperti gua).

Setelah matahari tidak terlalu terik, kami menyongsong air laut yang sedari tadi memanggil-manggil. Sheikha yang awalnya terlihat takut karena ombaknya yang besar, menjadi girang setelah ombak menjilat kaki mungilnya yang menjejak pasir pantai.

Ini adalah kedua kalinya Sheikha bermain di pantai. Anak kecil selalu suka air. Sheikha kegirangan setiap air laut “mengejarnya” di pantai. Ia berlarian maju mundur. Ketika air surut, ia berlari menuju air laut. Saya mesti selalu mengejarnya dan memegang tangannya. Ombak di pantai kawasan Bantul memang relatif besar.

Selama hampir satu jam, kami berlarian, berteriak, berbasah-basahan, bermain pasir.

Waktunya untuk pulang, jangan sampai kemalaman sampai di rumah. Setelah berbersih diri dan menenggak es degan, kami menyalakan kendaraan dan memulai perjalanan pulang. Ada tiga rute yang bisa kami ambil. Pertama, kembali membelah hutan Wonosadi dengan jalan naik turun berkelok dengan risiko jalanan yang relatif gelap. Pilihan kedua, melewati jalur Ring Road Selatan kemudian ke timur menuju Solo. Terakhir lewat Kota Jogja dengan risiko macet.

Kami sepakat lewat Kota Jogja, melewati Malioboro, meskipun kami tahu bakal terjadi kemacetan. Jalanan kota menuju Malioboro cukup lancar. Mendekati Malioboro, kemacetan mulai terjadi. Di Malioboro, kendaraan berjalan 10 km/jam, kadang berhenti sejenak. Kami tidak turun di Malioboro, hanya menikmatinya dari dalam kendaraan.

Malioboro masih seperti dulu: ramai, riuh, dan ngangeni.

Kami melanjutkan perjalanan pulang, menuju Solo. Melewati Klaten, setelah berhenti sejenak di Masjid Al-Aqsha yang megah itu. Sampai rumah, waktu menunjukkan pukul 21.00.

Sungguh perjalalan yang melelahkan. Namun, kami merasa bahagis. Dan seporsi mie rebus menyempurnakan kebahagiaan kami hari itu.

 

***

Sukoharjo, Oktober 2021

 

Friday, February 14, 2020

Bagaimana Cara Menjaga Daya Baca Buku?




Jumlah buku yang saya baca tahun ini hanya setengah dari jumlah buku yang bisa saya rampungkan tahun lalu. Tahun ini kesibukan bertambah sehingga cukup sulit meluangkan waktu untuk membaca buku. Namun, saya selalu berusaha menjaga daya baca buku saya agar tidak menurun drastis.

Menjaga daya baca buku tidaklah mudah. Kita selalu beralasan tidak punya waktu untuk membaca. Alasan itu terkadang benar, tetapi lebih banyak tidaknya. Nah, berikut ini tips saya dalam menjaga daya baca buku.

(1) Sediakan Buku Dekat dengan Kita
Saya menyediakan buku di tempat-tempat yang sering saya tinggali. Di kamar tidur, saya menaruh beberapa buku, juga ruang tengah tempat makan yang sekaligus tempat rak buku.

Ketika di rumah, mudah bagi saya untuk meraih buku yang saya ingin baca. Begitu pun di tempat kerja. Saya menaruh beberapa buku di atas meja kerja. Sewaktu-waktu ingin membaca, saya bisa memilih salah satu buku tersebut.

(2) Baca Beberapa Buku dalam Rentang Waktu Bersamaan
Maksudnya, saya membaca beberapa buku dalam satu waktu secara bergantian. Terkadang saya merasa bosan membaca satu buku secara terus menerus sehingga saya perlu mengalihkan minat baca pada buku lain.

Oleh karena itu, dalam satu waktu ada beberapa buku yang sedang dalam proses pembacaan. Ketika bosan dengan fiksi, saya beralih ke nonfiksi. Bosan dengan satu buku, beralih ke buku lain.

(3) Wajib Baca Buku Setiap Hari
Saya meniatkan diri untuk membaca buku setiap hari meskipun hanya satu halaman. Jika sedang santai dan nyaman dalam membaca, sekali duduk saya bisa membaca puluhan halaman.

Namun, adakalahnya waktu dan temapt kurang mendukung. Dalam keadaan seperti itu, saya akan berusaha membuka buku, membacanya seberapapun banyaknya, meskipum hanya satu halaman. Hal ini penting dilakukan agar daya baca buku tidak menurun drastis.

Dengan membiasakan membaca buku setiap hari, saya merasakan aktivitas membaca menjadi sebuah kebutuhan. Rasanya ada yang kurang jika dalam satu hari tidak membuka buku.

(4) Secangkir Kopi Pelengkap Membaca Buku
Aktivitas membaca buku paling menyenangkan ketika sambil minum secangkir kopi. Kopi dan buku adalah perpaduan luar biasa untuk menikmati pagi atau sore hari.

(5) Berbincang Buku
Membicarakan isi buku dengan orang lain dapat meningkatkan minat baca. Membicarakan isi buku bisa dilakukan kepada orang-orang terdekat atau kepada khalayak umum melalui media.

***
Minggu, 22 Desember 2019
Ttd.

Kaum rebahan di hari libur.




Tuesday, February 11, 2020

3 Buku Nonfiksi Terbaik Tahun 2019


Tahun 2019 saya membaca sebanyak 23 buku nonfiksi berbagai genre: sejarah, budaya, sastra, dan sains popular. Dari 23 buku tersebut saya memilih 3 buku nonfiksi terbaik yang saya baca pada tahun 2019.

(1) TUJUH PELAJARAN SINGKAT FISIKA
Penulis: Carlo Rovelli | penerjemah: Zia Anshor | penerbit: Gramedia | terbit: 2018 | tebal: viii + 70 halaman

Fisika adalah salah satu pelajaran yang tak menarik minat saya saat sekolah. Konsepnya begitu abstrak dan rumus-rumusnya begitu rumit. Itu pun baru teori Fisika yang diajarkan pada jenjang sekolah menengah.

Teori tentang relativitas umum, mekanika kuantum, zarah-zarah dasar, gravitasi, lubang hitam, dan arsitektur jagat raya menjadi lebih rumit lagi. Satu pembahasan dari hal-hal tersebut sudah membuat orang bisa membenci. Namun, Carlo Rovelli telah menyelamatkan Fisika dan menyelamatkan orang-orang dari ketidaktahuan gambaran besar alam semesta.

Dalam 78 halaman, Carlo Rovelli menjelaskan secara sederhana dengan bahasa popular tentang tujuh pelajaran dalam Fisika. Saat membaca halaman per halaman, kita seperti didongengi oleh kakek yang bijaksana yang membuat perhatian kita tak mau beralih darinya. Di tangan Rovelli, Fisika menjadi sosok yang bersahabat dan ramah.
"Ada garis depan tempat kita belajar, dan hasrat kita akan pengetahuan terus membara. Pengetahuan ada di sudut-sudut terkecil tatanan ruang, di asal usul jagat raya, di hakikat waktu, di fenomena lubang hitam, dan di proses pemikiran kita sendiri. Di sana, di ujung pengetahuan kita, di depan samudra ketidaktahuan, bersinarlah misteri dan keindahan dunia. Sungguh menakjubkan."

(2) THE HARMONY OF HUMANITY
Penulis: Raghib Sirjani | penerjemah: Fuad Syaifudin Nur, dkk | penerbit: Pustaka Al Kautsar | terbit: 2015 | tebal: xii + 796 halaman

Dalam The End of History, Francis Fukuyama mengemukakan bahwa demokrasi liberal merupakan titik akhir evolusi ideologi umat manusia. Namun, kenyataan sejarah membuktikan sebaliknya: demokrasi liberal mengalami kemunduran dan bahkan penolakan di beberapa negara.

Di sisi lain, Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilization meniscayakan adanya benturan yang terjadi antarperadaban. Beberapa pihak ditudingnya sebagai ancaman --bagi Amerika Serikat-- sehingga perlu diwaspadai dan diantisipasi. Bagi Huntington, benturan antarperadaban tak terelakkan.

Raghib Sirjani beranggapan lain. Dunia tidaklah bisa menganut demokrasi liberal seluruhnya. Dunia tidak pula harus menjadi ajang benturan antarperadaban. Raghib Sirjani menawarkan teori baru: pergaulan antarperadaban. Teori ini didasari atas persamaan manusia.
"Karena kita semua memang warga dari umat manusia. Oleh karena itu, kita pasti 'sama' dalam begitu banyak hal yang berkali-kali lipat jumlahnya dibandingkan hal-hal yang kita berbeda di dalamnya."

Solusi yang ditawarkan oleh Raghib Sirjani ialah pergaulan antarperadaban, proses saling mengenal dan memahami.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal." (Q.S. Al-Hujurat: 13)

(3) ASTROFISIKA UNTUK ORANG SIBUK
Penulis: Neil deGrasse Tyson | penerjemah: Zia Anshor | penerbit: Gramedia | terbit: 2018 | tebal: xii + 146 halaman

Terkadang saat memandang bintang-bintang di langit malam, kita bertanya-tanya: ada apa di luar sana, seberapa luas semesta, bagaimana awal dari segalanya ini. Namun esok hari, kesibukan menenggelamkan pertanyaan-pertanyaan tersebur.

Nah, Neil deGrasse Tyson bersedia meluangkan waktunya menjelaskan alam semesta kepada orang-orang yang tak punya waktu khusus untuk mempelajarinya. Tyson membeberkan hal-hal terkait astrofisika secara sederhana dan bakal mudah dipahami. Tentang big bang, relativitas umum, zat gelap, energi gelap, cahaya, planet dan lainnnya. Semakin kita memahami alam semesta, semakin kita kagum dengannya.
"Kita bukan sekadar hidup di alam semesata. Alam semesta hidup dalam diri kita."



Review Film Green Book (2018)


"Karena jenius saja tidak cukup. Butuh keberanian untuk mengubah hati orang."

***
Amerika Serikat tahun 1960-an.
Diskriminasi ras masih kuat. Rasisme terhadap orang berkulit hitam masih menjadi budaya kebanyakan masyarakat kulit putih. Orang kulit hitam menduduki kelas kedua. Bahkan, bagi seorang pianis terkenal, Don Shirley (Mahershala Ali).

Don Shirley yang berkulit hitam bersama dua rekannya yang berkulit putih --Oleg dan George-- mengadakan tur musik di berbagai kota. Untuk itu, Don Shirley membutuhkan seorang sopir sekaligus bodyguard, yaitu Tony "Lip" Vallelonga (Viggo Mortensen), seorang berkulit putih berkebangsaan Itali.

Selama perjalanan tur tersebut, terjadi banyak pertentangan antara Don Shirley dan Tony karena sifat keduanya yang bertolak belakang. Namun, akhirnya terjalin persahabatan di antara mereka. Dalam salah satu adegan, Don Shirley membantu Tony menulis surat bagi istrinya. Dalam adegan lain, Tony menyelamatkan Don Shirley dari keroyokan orang kulit putih di bar.

Don Shirley adalah orang berkulit hitam yang berpendidikan, memiliki tata krama, dan bertutur kata sopan. Ia adalah orang kaya --yang menjadikannya berbeda dengan orang berkulit hitam lainnya.

"Dan aku menderita sendirian karena aku tak diterima kaumku karena aku juga tak mirip mereka. Kalau aku tak cukup hitam dan tak cukup putih dan tak cukup jantan, lalu siapa aku?"

Karakter Tony berkebalikan dengan Don Shirley. Ia adalah orang kulit putih yang urakan, cenderung arogan, dan suka berkata kotor. "Aku tinggal di jalanan. Kau duduk di singgasana. Jadi, ya, duniaku lebih hitam daripada duniamu," kata Tony kepada Don Shirley.

Konser musik Don Shirley dihadiri oleh kalangan atas orang kulit putih. Di atas panggung, Don Shirley adalah bintang. Namun, ketika turun panggung orang-orang tetap bersikap rasis.

"Kulit putih kaya membayarku bermain piano untuk mereka karena itu membuat mereka merasa berbudaya. Namun, saat aku keluar panggung, aku kembali menjadi Negro bagi mereka," ungkap Don Shirley.

Pada satu adegan, Don Shirley tidak diperbolehkan oleh manajer restoran untuk makan di restoran tempat ia akan tampil bermain piano.

Don Shirley lebih memilih mengadakan tur musik ke beberapa kota daripada di satu tempat --yang bayarannya tiga kali lipat-- karena ingin mengubah pandangan masyarakat tentang kulit hitam.

"Kau pernah tanya mengapa Dr. Shirley melakukan ini? Kuberi tahu," kata Oleg kepada Tony, "karena jenius saja tidak cukup. Butuh keberanian untuk mengubah hati orang."

Naskah Green Book ditulis oleh Nick Vallelonga --anak dari Tony "Lip" Vallelonga. Film ini diinspirasi dari kisah nyata persahabatan kedua karakter: Don Shirley dan Tony Vallelonga. Persahabatan yang ganjil pada masa itu karena tak biasa ada persahabatan antara kulit putih dan kulit hitam.

Film yang disutradari oleh Peter Farrelly ini menyajikan alur yang datar. Namun, karakter Don Shirley dan Tony berhasil diperankan secara apik. Interaksi keduanya begitu hidup menghadirkan ketegangan, simpati, hingga komedi.

Green Book memenangi 3 piala Oscar untuk kategori:
- Best Motion Picture of the Year
- Best Performance by an Actor in a Supporting Role
- Best Original Screenplay

***
- Judul: Green Book
- Sutradara: Peter Farelly
- Penulis naskah: Nick Vallelonga, Brian Hayes Curry, Peter Farelly
- Aktor: Viggo Mortensen, Mahershala Ali, Linda Cardellini, Dimiter D. Marinov, Mikke Hatton
- Genre: biografi, komedi, drama
- Tahun rilis: 2018
- Durasi: 130 menit


***
GREEN BOOK
☆ 8,0


Monday, July 22, 2019

Review Film Hindi Medium (2017)


Pendidikan kembali menjadi sorot utama dalam film India ini. Hindi Medium mengikuti jejak 3 Idiots dalam membuka lebar borok sistem pendidikan. Jika 3 Idiots mengobok2 sistem pendidikan di perguruan tinggi, Hindi Medium menyingkap permasalahan di sekolah dasar.

Raj (Irfaan Khan) dan Mita (Saba Qamar) adalah pasangan suami istri yang menginginkan anaknya, Pia (Dishita Shegal), masuk ke sekolah elit di India. Untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah "favorit" tersebut, Raj dan Mita --serta sebagian besar orang tua yang memiliki tujuan yang sama-- memasukkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar agar bisa lulus tes masuk sekolah.

Pia setiap hari harus mengikuti bimbingan dengan program belajar yang padat. Tak terkecuali Raj dan Mita juga harus mengikuti pelatihan wawancara.

Muncul masalah ketika dari 5 sekolah elit, Pia tidak lulus tes masuk satu pun. Raj dan Mita pun melakukan apa saja agar Pia bisa masuk ke sekolah idaman (orangtua)nya tersebut. Termasuk cara-cara tidak jujur yang sudah menjadi semacam rahasia yang dilazimi.

Soal bimbingan belajar tes masuk sekolah itu saya ingat novel Chetan Bhagat yang berjudul Revolusi 2020. Dalam novel tersebut, penulis menggambarkan bagaimana para calon mahasiswa harus mengikuti bimbingan belajar di lembaga terbaik agar diterima di perguruan tinggi terbaik.

Untuk bisa masuk ke dalam lembaga bimbingan terbaik itupun, calon mahasiswa berotak pas-pasan harus mengikuti bimbingan belajar khusus. Jadi mereka mengikuti bimbingan belajar agar dapat masuk ke dalam binbingan belajar terbaik agar kelak bisa lulus tes masuk perguruan tinggi terbaik.


Perfilman India patut diacungi jempol dalam hal muatan kritik dan pesan moral, yang dalam film Hindi Medium kritik dan pesan itu ditujukan pada sistem pendidikan.

Meski membawa misi yang berat, film ini cukul ringan untuk dinikmati. Paradoks dan satir pada beberapa adegan bakal mampu mengundang senyum. Ditambah akting para pemainnya yang sudah tak diragukan lagi kualitasnya.

***
HINDI MEDIUM
83


Review Film Dunkirk (2017)


Saya masih belum tahu bagaimana melafalkan judul film yang menjadi box office tahun ini.
Film yang disutradari oleh Christopher Nolan ini adalah jenis film yang selayaknya ditonton di bioskop dengan layar lebar dan sound system yang menggelegar.

Dunkirk mengambil setting Perang Dunia II ketika Jerman begitu digdaya. Sepasukan besar tentara Sekutu terkepung di Dunkirk. Mereka dengan mudah bisa dihancurkan oleh tentara Jerman. Satu-satunya pilihan bagi ribuan tentara Sekutu itu ialah bertahan hidup dan bisa pulang melalui jalur laut --di mana di atas lautan pesawat terbang Jerman sewaktu-waktu bisa memborbardir dan kapal selam Jerman sewaktu-waktu bisa meluncurkan roket bawah air.


Dunkirk adalah tentang bertahan hidup. Tentang keinginan untuk pulang. Dan tentang orang-orang yang peduli dengan nasib para tentara yang mengenaskan itu.

Sinematografi film ini sangat apik. Kita bisa merasa tersedot ke dalam ketegangan yang panjang pada sebuah peristiwa perang yang mencekam. Ditambah musik latar garapan Hans Zimmer yang seakan-akan menghentak-hentak jantung kita agar berdetak semakin kencang.

Dengan efek visual yang minim, sang sutradara benar-benar menampilkan totalitas dalam proses pembuatan film. Kabarnya sebuah pesawat benar-benar diledakkan dalam proses syutingnya.

Film yang berdurasi 106 menit ini terasa sangat singkat. Nyaris tak ada scene film yang patut dilewatkan. Ketegangan mewarnai keseluruhan film. Dan ketika film usai, pikiran dan perasaan terasa masih belum beranjak dari kesan ketegangan yang ditimbulkan film ini.

Dunkirk adalah film terbaik yang pernah saya tonton selama tahun 2017.

***
DUNKIRK (2017)
Nilai: 9



Review Film Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2018)



Guardian of the Galaxy (GOTG) vol. 2 adalah film hura-hura yang menyenangkan. Kita tak perlu repot-repot memikirkan alur ceritanya yang sederhana. Bahkan, pertarungan klimaksnya tak terlalu nendang dan tak berkesan sama sekali.

GOTG penuh dengan aksi pertarungan dengan senjata-senjata laser di luar angkasa. Mengingatkan kita pada Star Wars. Yang khas dari GOTG ialah joke-nya ringan tapi intens. Membuat film ini terasa sangat menghibur.

Dengan anggota baru, lengkaplah sudah GOTG menjadi kumpulan orang-orang aneh dengan karakter yang unik dan terkesan mengada-ada? Maklum, namanya juga alien.



Yang menjadi bintang dalam GOTG vol. 2 bagi saya ialah Baby Groot. Groot pada vol. 1 hancur karena melindungi teman-temannya, pada vol. 2 ini tumbuh kembali dari sebatang ranting hingga seusia "anak balita". Setiap penampilan Baby Groot selalu mengundang senyum dan tawa. Good Boy, Groot.

Setelah menonton film ini saya sempat punya keinginan untuk memiliki boneka Baby Groot. Dan hal itu tidak kesampaian hingga kini karena ternyata harganya cukup mahal.
.

***
GUARDIANS OF THE GALAXY Vol. 2
Nilai: 78