Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Wednesday, March 1, 2017

[semacam] Sinopsis Film Devdas (2002)


Shah Rukh Khan dalam Devdas (2002)



“Badi-ma, Dwijdas, Kumud, Padma, Dharamdas, di mana semua orang? Lihat, ini ada surat Devdas. Devdas akan kembali dari London!”
*
“Paro, Devdas akan pulang.”
“Sungguh?”
“Ya, Devdas akan pulang.”
*
“Bodoh, kau menangis? Jangan sampai air mata bahagia memadamkan lampunya sebelum Devdas pulang.”
“Tidak ada kekuatan di bumi ini yang bisa memadamkan lampu ini.”
*
Silsila yeh chaahat ka na maine bujhne diya... hooo... hmmm...
‘Aku tidak akan membiarkan lampu (rindu) ini padam’
Oh piya yeh diya naa bujha hai naa bujhega
‘Oh kasih, lampu ini tidak padam, dan tak akan pernah padam’
Mere chaahat ka diya mere piya ab aaja re mere piya
‘Ini nyala apiku, cintaku, datanglah padaku, cintaku’
*
“Bagaimana kabarmu, Paro? Tidak maukah kau berpaling untuk melihat wajahku? Kita bertemu setelah berhari-hari.”
“Hari? Bagimu, mungkin. Bagiku 10 tahun 6 bulan 4 hari dan 6 jam. Kau tidak merindukanku?”
“Aku merindukanmu.”
*

“Hai, Paro! Pernah sekali saat aku merindukanmu.”
“Kapan?”
“Saat aku bernapas.”
*
Bairi piya bada bedardi, ishq
‘Kekasih pendendam, sangat tak berperasaan’
Oh bairi piya bada bedardi
‘Oh, kekasih pendendam, sangat tak berperasaan’
Dil ka dard na jaane
‘Kamu tidak tahu sakit hatiku’
Saudaai harjaai zulmi ram duhaayi
‘Tidak setia, tidak adil, oh Tuhan’
Kaise kaho kaha se kaho haay ram
‘Bagaimana aku bisa tahu, siapa yang harus aku katakan, ya Tuhan’
Dil ka dard na jaane
‘Kamu tidak tahu sakit hatiku’
Na jaane na jaane na jaane jaane jaane jaane haay
‘Kamu tidak tahu, kamu tidak tahu, kamu tidak tahu’
*

“Tidak, Kaki-ma, tidak ada alasan. Malam ini kau bernyanyi dan menari.”
“Tidak, sayang, bukan aku...”
“Apakah kau malu? Bayangkan saja kau sedang menari di pernikahan Paro.”
“Sekarang aku tidak bisa menolak, kan.”
*
Jamuna ke teer baje mridang
‘Di tepi Sungai Jamuna, drum akan berbunyi’
Kare krishn raaz radha ke sang
‘Krishna akan menari dengan Radha’
*
“Apa ini?”
“Tanda pertunangan, anakku untuk anakmu. Paro dan Devdas.”
“Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu, Sumitra? Aku mengundang ibu dan anak untuk menghibur tamu-tamuku dengan sedikit tarian dan drama.”
*
“Cukup! Menjawabmu sama saja menjatuhkan martabatku. Dulu kau kupanggil Kakak. Mulai sekarang, cukup Kaushalya!”
*
“Tidak lama lagi kau akan berdiri terpaku menyaksikan kehancuran putramu. Aku bersumpah, putriku akan menikah dengan keluarga yang lebih kaya dari keluargamu.”
*

“Mengapa di sini sekarang?”
“Mengapa sungai mengalir ke laut? Mengapa bunga matahari selalu menghadap matahari? Dan mengapa Paro tidak menghiraukan harga dirinya dan kehormatan keluarganya sehingga aku mau menjelajah di dalam kegelapan malam. Mengapa aku berlindung di kakimu? Untuk semua pertanyaan itu hanya ada satu jawaban.”
“Untuk jawaban yang sama, terlalu banyak pertanyaan yang dikemukakan untuk dijawab.”
“Tidak ada pertanyaan. Tidak, selama kita bersama.”
“Itulah yang tidak mereka inginkan.”
“Apa yang kau inginkan?”
“Kebahagiaan untukmu. Tetapi, ayahku tidak akan melihatnya melalui cara pandang kita.”
“Kita akan mengalahkan dia.”
“Bagaimana jika dia tidak mengalah?”
“Di mana ada cinta, tidak ada ketakutan.”
“Di mana ada asap, di situ ada api. Dalam api perseteruan, aku tidak ingin kita habis terbakar.”
“Aku sudah hancur, apapun yang terjadi. Apakah itu bersamamu, atau tanpamu.”
*
“Dev pergi, Paro. Ujian yang dihadapinya sama denganmu. Lihatlah sendiri! Mana yang lebih dia pedulikan: kau atau keluarganya? Apakah dia membawamu bersamanya? Atau dia meninggalkanmu? Jika dia tidak membawamu bersamanya, maka kau harus memenuhi permintaan ibumu.”
*
“Berhenti, Deva! Aku takkan membiarkanmu pergi! Berhenti!”
“Menyingkir dari jalanku!”
*

“Chandramukhi.”
*
Dhaai shaam rok lai, aur chakmaka mukh choom lai
‘Khrisna menghentikannya, dia mengejutkan Radha dengan ciuman’
Mukh choom lai....mukh choom lai
‘Dengan ciuman... dengan ciuman’
*

“Dan setelah malam ini, tak seorang pun yang memanggilnya Paro. Hanya Parvati.”
Kaki-ma, Paro hai?”’Bibi, apakah Paro ada?’
“Prosesi pernikahannya sebentar lagi sampai. Kau boleh menemuinya.”
*
“Cukup! Hentikan, Paro! Kesombongan seperti itu tidak baik.”
“Mengapa aku tidak boleh sombong? Kau siapa Dev, selain kaya dan tampan? Aku memiliki kebajikan, kecantikan. Dan setelah malam ini, juga kekayaan. Mulai sekarang, aku melebihi dirimu. Jika kau adalah tuan tanah, aku dengan bangga akan menjadi bangsawan.”
“Sombong sekali. Bahkan bulan pun tidak sesombong itu.”
“Tapi, bulan telah terluka.”
*
“Apa yang telah kau lakukan?”
“Aku telah melukaimu, seperti bulan. Dengan tanda dari cintaku.”
*
Hamesha tumko chaaha, aur chaaha, aur chaaha... chaaha...chaha...
Selalu, kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta selamanya...’
Hamesha tumko chaaha, aur chaaha, kuchh bhi nahin...
‘Selamanya aku mencintaimu, dan aku tak mencintai yang lain...’
*
“Kaushalya! Waktu mempermainkan semua orang. Putriku merajut kehidupan yang indah sekarang. Tapi, lihatlah! Lihat anakmu! Adalah kebanggaan yang telah kaubakar. Ada dua babak dalam drama ini. Dalam babak pertama, aku dan putriku menari. Dan di babak kedua, sekarang kau dan anakmu yang akan menari.”
*

“Tapi, orang yang kau tunggu-tunggu tidak tertarik denganmu atau musikmu. Adalah kunang-kunang Paro yang terbang ke dalam apimu sambil berteriak, Paro... Paro... Dia tidak akan kembali Chandramukhi.”
“Dia akan datang, Kali-babu. Kau lihat saja nanti. Hatiku mengatakannya.”
*
Yeh kiski hai aahat
‘Langkah kaki siapa itu’
Yeh kiska hai saaya
‘Bayangan siapa itu’
Huvi dil mein dastak yahan kaun aaya
‘Siapa yang mengetuk pintu hatiku’
*
“Aku minum sehingga aku bisa memaksa diri untuk bisa melihatmu, menerimamu... sehingga aku bisa hilang kesadaran untuk membantuku melupakan Paro. Tapi Chandramukhi, kenangan akan Paro tidak membiarkanku untuk kehilangan kesadaran. Mengapa, setelah aku minum, kenangan dirinya selalu menghantuiku siang dan malam? Mengapa? Mengapa? Mengapa manusia bisa begitu naif? Mengapa membuat kesalahan? Mengapa manusia yang lemah mendapatkan hukuman yang begitu berat? Mengapa? Hanya untuk dihancurkan?”
*

“Apakah kau mencintaiku?”
“Atau kau bisa bertanya kepadaku apakah aku bernapas.”
“Kau bernapas, Chandramukhi? Apa yang akan kau dapatkan dari semua ini? Aku tidak punya rumah, tidak punya hati.”
“Mencintai bukan sekadar menerima. Cinta, telah kuperdagangkan berkali-kali. Tapi dicintai, hanya sekali.”
“Chandramukhi, menuang ke dalam cawan yang terisi penuh, dan apa yang terjadi?”
“Akan tumpah ke tanah.”
“Demikian pula dengan cangkirku yang telah dipenuhi dengan Paro. Lebih dari sekadar tumpah, jatuh, dan dalam kejatuhan akan membawamu juga.”
“Tapi dalam tumpahan itu, anggur pasti telah dibelai oleh cawannya.”
“Lalu tumpah... lagi...”
*

“Lihatlah, Paro! Dirimu apakah ingat? ‘Oh, Deva!’ ‘Ada yang terjadi, Paro?’ ‘Deva, aku kehilangan gelangku, apakah kau melihatnya?’ ‘Tidak, Paro. Aku tidak melihatnya.’ Aku mencurinya. Dan kau tahu mengapa aku melakukannya? Sepanjang hari, suara gemerincing dari gelang kakimu, dan-Deva-ini-dan-Deva-itu, dan ini pancimu, dan ini kenang-kenangan dari cinta kita, perpisahan kita. Kau pergi bergitu saja, itulah akhir dari hubungan kita. Tapi aku masih terikat dengan semua ini, Paro.”
“Dan aku terikat dengan kenanganmu.”
“Apa itu?”
“Beberapa koin.”
“Tiga rupee.”
“Nilainya setara dengan kenangan.”
“Milikku, bukan? Kau pencuri.”
*
“Berjanjilah padaku kau tidak akan minum lagi.”
“Bisakah kau berjanji kau akan melupakanku?”
*
“Aku tidak tahan melihatmu seperti ini. Aku merasa seperti sekarat, Dev. Aku merasa seperti sekarat.”
“Jika merawatku bisa membuatmu bahagia, maka baiklah, aku berjanji, sebelum aku mati, aku pasti akan datang ke depan pintu rumahmu.”
*

“Tak seorang pun di rumah ini yang memahamimu. Kami semua bertanggung jawab untuk kehancuranmu. Sebelum kami membuatmu menjadi lebih buruk lagi, tinggalkan rumah ini.”
“Babu-ji berkata tinggalkan desa, semua orang berkata, tinggalkan Paro. Paro berkata, tinggalkan minuman. Sekarang kau berkata, tinggalkan rumah ini. Suatu hari, Dia akan berkata, tinggalkan dunia ini.”
*

“Dari pandanganmu, kau tidak bisa melihat apa-apa. Dari pandanganku, kau akan menemukannya di mana-mana. Lihat, dia ada di sana, dalam nyala lampu. Di sana dia berbaring, dalam lipatan selimut. Dalam setengah dari cawan itu, rasa hausnya tergeletak, tak terpuaskan. Wangi tubuhnya masih melekat. Ambil semuanya, jika kau mampu. Cahayanya, lipatannya, wangi tubuhnya, semuanya. Semua milikmu. Tapi aku tak bisa memberikan Devdas kepadamu.”
“Kau tulus mencintai Dev?”
“Aku hanya memujanya.”
“Sekarang aku yakin Dev tidak sendirian lagi.”
*

“Dan ada Paro. Dan aku mencintainya. Kau tahu, sangat banyak. Sangat banyak, kan. Paro.... Sekarang dia terasing pula. Tapi ada satu orang, seorang Chandramukhi. Tulus mencintaiku. Tapi... Pendeta, pendeta, bisakah kau melakukan upacara terakhir?”
“Tentu saja. Siapa yang meninggal?”
“Devdas Mukherjee.”
*

Hey dola re dola re dola re dola
‘Aku bergoyang’
Haai dola dil dola mann dola re dola
‘Mengayunkan hatiku’
Hey dola re dola re dola re dola
‘Aku bergoyang’
Haai dola dil dola mann dola re dola
‘Mengayunkan hatiku’
*

“Apa kau memanggilku?”
“Ya, Parvati. Aku ingin tahu...”
“Siapa Devdas? Devdas adalah teman masa kecilku. Dia adalah raga, aku adalah jiwanya. Dia adalah cintaku dan dia adalah kebanggaanku dan dia bersamaku, selalu.”
“Sadarkah kau dengan apa yang kau katakan, Parvati?”
“Sama seperti apa yang kau katakan. ‘Kau sekarang adalah nyonya rumah ini, ibu dari anak-anakku. Tidak diragukan lagi. Tapi Subadra, aku tidak bisa melupakannya.’”
“Subadra adalah istriku.”
“Subadra adalah cinta pertamamu. Devdas adalah cinta pertamaku. Cinta pertama, seperti tahun-tahun yang tidak pernah bisa dihilangkan.”
*
“Kau tidak boleh melangkah keluar dari rumah ini. Itulah hukumanmu.”
*

Dhirk dhirk dil dhirk dhirk dil dhirktha jaaye re
‘Pukullah, pukullah, pukullah hati ini, pukullah’
Dhamk dhamk dham dhamk dhamk dham dhamk dhamk dham jaaye re
Dhamk dhamk dham dhamk mereka berbunyi
*
“Bahkan setetes alkohol adalah racun baginya.”
*
“Apa ini, Chandramukhi? Aku mengumpamakan dirimu sebagai ketabahan. Kau berubah menjadi apa? Boneka lilin? Lihatlah dirimu, meleleh. Akankah kau biarkan lilin mencair dan menyelimutiku dalam kegelapan? Kau melakukan terlalu banyak untukku, Chandramukhi. Satu bantuan lagi. Biarkan aku pergi.”
“Tidak! Kau tidak tahu apa yang kau derita.”
“Kau tahu dan aku yang menderita?”
“Lalu mengapa kau harus?
“Aku harus menghadapi diriku sendiri sebelum aku tersesat.”
“Bolehkah seorang pelayan mengikutimu?”
“Aku tidak tahan melihat kematianku tercermin di matamu.”
*
“Ini untukmu.”
“Tidak Chuni-babu, aku tidak minum.”
“Seseorang telah dipaksa berjanji?”
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu lakukan, demi persahabatan.”
*

“Apakah kita sudah sampai?”
“Perjalanan baru saja dimulai. Ada apa denganmu?”
*
“Lebih cepat, tolong.”
*
“Kita sudah sampai di Manikpur sebelum matahari terbit. Siapa yang ingin kau temui di Manikpur?”
*
“Paro... Paro... Aku di sini Paro...”
*
“Ada keramaian apa di luar?”
“Ada orang asing yang tergeletak di sana sepanjang malam. Mungkin sedang sekarat. Jiwa yang malang, pasti datang untuk mengembalikan sesuatu yang dia pinjam dalam hidup ini.”
“Semoga Tuhan menenteramkan jiwanya.”
*
“Tak ada peluang untuk hidup, Mahendra. Dia sedang sekarat.”
*
“Paro...”
*
“Ya Choti-ma, kau memanggilku?”
“Ya, siapa pria yang tergeletak di luar?”
“Seseorang dari desamu. Devdas Mukherjee.”
“Siapa?”
“Devdas Mukherjee.”
*
“Choti-ma, berhenti!”
“Apa yang terjadi dengan Choti-ma?”
“Apa yang terjadi di rumah ini? Mengapa berteriak? Ada apa, Mahendra?”
“Ibu mau keluar untuk menemui orang bernama Devdas.”
“Dia sudah gila. Hentikan dia! Behenti, Parvati! Jangan biarkan dia melangkah keluar dari rumah ini!”
*
“Deva... Oh, Deva... Oh, Deva...”
*
“Berhenti, Babu-ji melarangmu!”
“Deva....”
“Amankan pintunya!”
*
“Deva... Deva... Deva...Deva....”
*
“Paro...”
*
Di mana akan kutemukan kembali
kepolosanku yang hilang,
mimpi-mimpiku yang hilang,
masa kecilku yang hilang
Ke mana perginya bayangan dari sebuah pohon,
di mana aku merasa akan sudah ada di rumah.






Thursday, February 23, 2017

Hidupku Bukan Semacam Drama Korea

Lee Dong-wook dan Gong Yoo dalam serial Goblin (2016-2017)

Hamesha tumko chaaha aur chaaha, aur chaaha... chaaha...chaha...
Selalu, kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta selamanya...

Hamesha tumko chaaha aur chaaha, kuchh bhi nahin
Selamanya aku mencintaimu, dan aku tak mencintai yang lain...

(Hamesha Tumko Chaha, ost Devdas [2002])

Dalam kisah percintaan di kebanyakan drama Korea, ada tembok penghalang berupa derajat dan harta. Dan seringnya, si laki-laki digambarkan sebagai orang kaya yang cool dengan wajah yang “cantik” --kamu tahu maksudku kan. Rumahnya megah, dan mobil sportnya berjejer di garasi. Biasanya digambarkan sebagai pewaris perusahaan besar atau setidaknya adalah anak dari orang yang harta warisannya tak akan habis tujuh turunan. Si perempuan berada pada posisi sebaliknya: digambarkan sebagai gadis periang, pekerja keras, dan bersahabat dengan kerasnya kehidupan.

Lihat saja Coffee Prince (2007). Choi Han Kyul (Gong Yoo), seorang pewaris perusahaan besar, menyukai Go Eun Chan (Yoon Eun Hye), seorang wanita tomboi yang bahkan harus menyamar menjadi laki-laki agar bisa bekerja di kedai kopi. Boys Before Flowers (2009) menampilkan bintang 4 sekawan yang tampan dan kaya—Gu Jun-pyo (Lee Min-ho), Yoon Ji-hoo (Kim Hyun-joong), So Yi-jeong (Kim Bum), dan Song Woo-bin (Kim joon). Dan di antara “para pangeran” tersebut, terseliplah si rumput liar, Geum Jan-di (Ku Hye-sun), gadis pekerja keras dari keluarga pemilik toko laundry.

Lihat pula Secret Garden (2010) yang menceritakan hubungan cinta-benci-rindu Kim Joo-won (Hyun Bin) dan Gil Ra-im (Ha Ji-won). Kim Joo-won yang saking kayanya, ia merindukan menjadi pengangguran, sedangkan Gil Ra-im harus bekerja babak belur menjadi pemain pengganti (stuntwomen).

The Heirs (2013) memperlihatkan Lee Min-ho yang berperan sebagai Kim Tan, seorang anak konglomerat. Keadaannya berbanding terbalik dengan wanita yang disukainya, Cha Eun-sang yang diperankan Park Shin-hye. Drama populer terbaru yang tayang akhir tahun 2016 sampai awal 2017, Goblin, juga menyajikan hal yang tak jauh beda. Kim Shin yang diperankan oleh Gong Yoo adalah goblin yang takkan kekurangan harta karena mudah saja baginya memperoleh uang dan emas. Sebaliknya, Ji Eun Tak –sang pengantin goblin-- yang diperankan oleh Kim Go Eun adalah gadis SMA yang mesti kerja part time di rumah makan untuk mendapatkan uang.

Begitulah gambaran sebagian besar drama Korea.

Sekarang kita tengok tetangga jauhnya, India. Kalau India, saya akan membicarakan filmnya, bukan drama atau sinema berserinya. Film Devdas (2002) –yang lirik lagunya saya kutip di awal tulisan—memiliki kisah yang serupa. Devdas (Shah Rukh Khan), anak seorang tuan tanah, menyukai Paro (Aiswarya Rai) yang “hanya” anak orang biasa. Cinta keduanya pun mesti dipisahkan. Devdas yang merana mengantarkan Paro menuju prosesi perkawinan dengan laki-laki lain. #ugh nyesekkk

Kisah Devdas termasuk salah satu pengecualian dari gambaran umum kisah cinta dalam film India. Kebanyakan film India berkebalikan dengan romansa drama Korea. Lakon dalam film India ditampilkan sebagai sosok sederhana yang pekerja keras. Ia mencintai seorang wanita dari golongan ningrat, dan karena cintanya itu ia mesti menanggung banyak derita.

Film-film angry-youngman tahun 80an dan 90an yang dibintangi Amitabh Bhachan, Sanjay Dutt, Sunny Doel, kemudian Akhsay Kumar, Aamir Khan, dan Salman Khan memperlihatkan hal di atas. Si laki-laki dari rakyat jelata yang sering berdarah-darah dipukul ke sana kemari untuk memperjuangkan cintanya, atau hal yang dicitakannya semisal melawan kejahatan atau kesewenang-wenangan. Setelah tahun 2000, bisa kita lihat film Chalte-Chalte (2003) dengan Raj (Shah Rukh Khan), seorang sopir truk ekspedisi –yang kemudian bangkrut—yang mencintai Priya, wanita dari kalangan atas. Perbedaan kondisi keduanya mengakibatkan konflik yang mengancam pernikahan mereka.

Dalam Jab Tak Hai Jan (2014), Samar (Shah Rukh Khan) dan Meera (Katrina Kaif) saling jatuh cinta. Meera adalah putri pengusaha sukses, sedangkan Samar adalah seorang pekerja serabutan yang pernah menjadi penyapu salju, penjual ikan, pelayan restoran, dan penyanyi jalanan.

Film-film India masa sekarang memang sudah sangat berkurang kadar konflik fisiknya, berbeda pada era 80an dan 90an. Namun secara umum, film-film India tak menampilkan aktor dengan wajah lembut dengan pakaian jas rapi dan mobil mewah yang mentereng –seperti dalam drama Korea. Lakon dalam film India ditampilkan sebagai laki-laki biasa dengan pekerjaan biasa, namun penuh dengan perjuangan hidup yang luar biasa. Dalam ceritanya, si lakon akan diguncangkan hidupnya, diombang-ambingkan ombak dan diempaskan ke batu karang, hingga berdarah-darah raganya, berdarah-darah pikiran dan perasaannya.

Dengan melihat perbandingan drama Korea dan film India, maka aku akan katakan bahwa hidupku bukan semacam drama Korea. Pada suatu waktu, aku justru seperti sedang melakoni sebuah film India.

Kamu tahu, aku kadang merasa sedang dipukul dari berbagai arah. Hingga berdarah bibirku, bengkak pipiku, remuk tulangku. Dan hujan pun mengguyur deras. Tapi sebagaimana dalam film-film India, tokoh utama selalu bisa bangkit dan tertawa. Bukan tertawa karena menang, tapi tertawa terhadap keadaan babak belurnya. Setelah menertawai kondisinya, ia akan bangkit menghantam, mengalahkan lawan.

Menertawai keadaan diri yang memprihatinkan itu sungguh sulit. Tapi, aku selalu berusaha melakukannya. Kamu tahu kenapa? Karena hidup ini keras dan tak akan menjadi lunak dengan ratapan. Tertawa ketika jatuh dan terguling adalah cara untuk menghibur diri. Bahwa hidup ini memang beginilah jalannya. Jika tak bisa mengubahnya menjadi suatu keadaan yang nyaman tenteram, mengapa tak menikmati keadaan yang sekarang mesti penuh derita?

Aku berusaha menertawakan diriku sendiri saat masa kuliah dahulu, ketika aku mengajukan beasiswa berprestasi dan tak lolos. Hei, temanku yang nilainya di bawahku malah mendapat beasiswa. Aku juga tertawa saat mengajukan beasiswa kurang mampu dan tak lolos juga. Hei, temanku yang orangtuanya PNS mendapat beasiswa.

Dahulu, aku juga berusaha tersenyum dan tertawa ketika menghadiri pernikahan seseorang yang sebelumnya pernah ada kisah di antara aku dan dia. Dan aku membawa kado pernikahan untuknya. Hei, hidup ini sungguh lucu bukan.

Atau aku akan tersenyum dan tertawa ketika naik sepeda motor, hujan-hujanan karena lupa membawa mantol. Aku akan berusaha menikmati hujan dengan bersenandung meski badan menggigil.

Aku pernah tersenyum dan tertawa ketika akan keluar dari perusahaan dan bakal berpisah dengan teman-temanku dan dengan mesin-mesin yang selalu menemani malam-malamku yang sudah kuanggap selayaknya teman –bahkan, mesin-mesin itu aku beri nama dan kadang aku bercerita kepada mesin-mesin itu. Mungkin kamu bisa membayangkan tentang seseorang yang sedang terpuruk dan hanya benda mati yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya sambil tersenyum sinis.

Menyenangkan sekali bisa menertawakan diri sendiri dalam kondisi seperti itu. Meskipun kamu tahu, kan, ada deru tangis di kedalaman batin sana.

Menurutku, kemampuan menertawakan diri adalah sebuah bekal untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih baik, lebih menyenangkan. Orang lain mungkin saja merasa kasihan dengan kondisi kita. Tapi, heh, kita tertawa menikmatinya bukan?!

Aku akhiri tulisan ini dengan potongan lirik lagu Hamesha Tumko Chaha lagi.

O pritam, o pritam bin tere mere is jivan mein kuchh bhi nahin... nahin... nahin... kuchh bhi nahin
Kekasihku, kekasihku, tanpamu hidupku bukanlah apa-apa, bukan apa-apa, bukanlah apa-apa sama sekali

Hamesha tumko chaaha aur chaaha, aur chaaha... chaaha...chaha...
Selalu, kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta selamanya...

Haan chaaha chaaha chaaha chaaha
Ya, kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta

Bas chaaha chaaha chaaha chaaha
Hanya kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta

Haan chaaha chaaha chaaha chaaha
Ya, kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta

Aur chaaha chaaha chaaha chaaha...
Kaulah yang aku cinta, dan yang aku cinta, dan yang aku cinta


(Sukoharjo, 24 Februari 2017. 01.00 WIB)




Friday, February 17, 2017

Kutipan Novel Rindu Karya Tere Liye

Novel Rindu Karya Tere Liye
Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun Terbit: 2014
Jumlah halaman: 544 halaman
***

Rindu, sebuah novel tentang perjalanan. Perjalanan raga, juga perjalanan batin.
Sejumlah calon jamaah haji melakukan perjalanan laut menuju tanah suci. Mereka naik kapal Blitar Holland, sebuah kapal uap yang terkenal.


Di dalam kapal itu terjadilah interaksi antarpenumpangnya. Ada Gurutta Ahmad Karaeng yang ahli agama dan bijaksana. Ada Daeng Andipati, seorang pengusaha, yang membawa serta istri dan kedua anaknya yang bertingkah lucu dan menggemaskan, Anna dan Elsa. Ada Ambo Uleng, seorang pemuda murung yang patah hati dan menjadi kelasi kapal hanya agar bisa "melarikan diri" dari kesedihannya.

Dalam pelayaran yang panjang itu, setiap orang membawa perang batin sendiri-sendiri. Mereka memendam konflik batin yang berkepanjangan. Pada akhirnya, semua akan terurai seiring melajunya kapal membelah lautan.

Berikut ini beberapa kutipan dari novel Rindu karya Tere Liye.



"Izinkan aku menyampaikan rasa simpati yang mendalam atas kehidupanmu yang keras dan menyesakkan. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Maka saat itu ditakdirkan kepada kita, insya Allah karena kita mampu memikulnya." 

"Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia."
(hal. 312)


"Maka ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain."
(hal. 313) 


Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita.sendiri.
(hal. 313)


Kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena, toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.
(hal. 313-314)


Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.
(hal. 315)


Lihatlah kemari, wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri.
Lihatlah kemari, wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.

(hal. 315) 


Hidup ini akan rumit sekali jika kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu.
(hal. 331)  


"Untukmu, dalam situasi pagi ini mungkin kebahagiaan itu adalah berhenti membahas seandainya begini, seandainya begitu. Maka bahagia sudahlah kau."
(hal 332)



"Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi."
(hal. 372)


"Pikirkan dalam-dalam, kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal, kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh, itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri."
(hal. 373)
"Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."
(hal. 374)

Kutipan Novel Beside A Burning Sea Karya John Shors


Judul asli: Beside A Burning Sea
Judul terjemahan: Burning Sea, Bara Cinta di Tengah Deru Perang
Penulis: John Shors
Penerbit: Qanit
Tahun Terbit: 2009
Kota terbit: Bandung
Jumlah halaman: 516 halaman

----------------------------------------------------
Perang Dunia II tengah membakar daratan dan samudra. Benevolence, sebuah kapal rumah sakit Amerika Serikat, mengarungi Pasifik Selatan dalam misi damai. Namun, ulah seorang pengkhianat menyebabkan kapal itu diserang oleh torpedo Jepang dan tenggelam.

Hanya sembilan orang yang selamat dan berhasil mencapai pantai terpencil di sebuah pulau. Di pulah sepi dan tak berpenghuni itu, mereka berjuang untuk bertahan hidup dan mengatasi sisi gelap dalam diri masing-masing.

Di antara mereka terdapat Akira, seorang prajurit Jepang tawanan Amerika dan Anie, perawat muda Amerika. Akira yang telah muak akan kengerian perang, menenggelamkan diri dalam keindahan puisi Jepang, Haiku. Anie yang selalu gelisah dan mencari jati diri, menemukan dirinya tertarik pada tawanan misterius nan lembut itu. Cinta pun terjalin melintasi budaya dan kubu peperangan.

Di sebuah pulau terpencil, di tepian samudra membara, di tengah deru perang, Akira dan Anie mempelajai makna cinta, penebusan diri, dan penerimaan tanpa penghalang warna kulit, bangsa, dan perbedaan budaya.

Namun, tanpa mereka sadari, sang pengkhianat masih tersembunyi di antara mereka....
----------------------------------------------------
Berikut ini kutipan novel Beside A Burning Sea karya John Shors
"Kita tahu bagaimana peperangan mengubah orang baik menjadi orang yang sangat baik, dan orang jahat menjadi orang yang sangat kejam."
(hal. 226)

"Cinta seorang lelaki yang baik akan membuatmu tidak merasa sendirian."
(hal. 229)

"Karena hal-hal berharga kadang-kadang terlupakan. Tetapi, hal-hal seperti itu harus dinikmati. Puisi-puisi tentang keindahan itu harus ditulis dan tidak boleh terlupakan."
(hal. 267)

"Tapi, aku orang yang gagal. Dan bagaimana seorang guru bisa mengalami kegagalan?"
"Kau pikir para guru tidak membuat kesalahan? Bagaimana kau bisa belajar jika tidak pernah membuat kesalahan?"

(hal. 280)


Wednesday, February 15, 2017

Saya Menyerah Kali Ini


Cuaca siang ini mendung. Matahari sedang kumat malasnya. Masih asyik selimutan awan gelap. Mungkin sedang bermimpi bercumbu dengan rembulan yang tidak pernah bisa dijumpainya. Kasihan amat, deh.

Seperti biasa, pada hari ini, pukul segini, jadwal saya mengajar kelas VII A. Fyi, kelas VII A itu kelas super dan spesial dengan aneka bumbu: manis, pedas, kecut, asem. Tapi, saya pun tak mau kalah. Saya selalu mencoba memegang kendali, mengondisikan kelas agar tidak pecah perang dunia kedua setengah.

Di kelas ini saya mengajar setelah istirahat siang. Tahu sendiri, kan, bagaimana suasana siang di sekolah itu. Cuacanya bikin gaya gravitasi makin berat aja. Apalagi, setelah kenyang makan siang, ditambah langit mendung, dan embusan angin dari kipas yang wess...wess...wess....

Murid putra di kelas ini sebagian besar cenderung aktif. Saya harus sering-sering mengingatkan agar belajar dengan tenang. Kadang ada yang berseliweran ke meja temannya, ada yang saling ejek, ada yang teriak, ada yang menyembunyikan pulpen temannya, ada yang ngupil, ada yang pura-pura tidur, ada yang menggambar. Saya mesti sering menegur agar mereka konsentrasi.

Terkadang saya mendekat dan menasehati langsung satu siswa yang benar-benar butuh perhatian karena terlalu berisik atau tidak fokus mendengarkan. Terkadang saya mengeluarkan suara tegas agar seluruh siswa mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan, misalnya menjawab soal atau mencatat materi. Saya sering keliling kelas, mendatangi satu per satu siswa untuk memastikan mereka benar-benar mencatat dan mengerjakan soal.

Siswa putrinya sebagian besar juga cenderung aktif. Ada yang suara teriakannya melengking tinggi melampaui nada penyanyi opera. Mungkin gelas bisa retak jika dihadapkan pada suara teriakan itu selama 1 jam nonstop.

Pada setengah waktu pelajaran, kondisi kelas baik-baik saja. Mereka mencatat apa yang saya tulis di papan tulis yang kemudian saya terangkan. Mereka juga mengerjakan soal yang saya berikan meskipun ada yang bertanya bagaimana cara mengerjakan soal. Padahal, sebelumnya sudah saya jelaskan. Setelah itu, yang lain bertanya lagi dengan peratanyaan yang sama. Setidaknya ada tiga orang yang bertanya demikian. Wakdess... anaknya siapa inih, pengen saya lumat.

Kira-kira lima belas menit sebelum usai pelajaran, saya merasa kelas sudah tak terkondisikan. Banyak yang ramai, berjalan ke sana, berlari ke sini. Saya sudah peringatkan agar kembali tenang. Biasanya, mereka akan kembali tenang. Tapi, kali ini mereka tenang sebentar, kemudian kembali ramai lagi.

Siswa putri yang biasanya aktif dan bisa saya ajak interaksi dalam pelajaran, kali ini tampak bermalasan. Sebagian meletakkan kepala di atas meja. Saya memancing perhatian mereka dengan beberapa pertanyaan. Responnya negatif, mereka tampak malas, wajahnya lesu.

Siswa putra banyak yang ramai, siswa putri bermalas-malasan. Kali ini saya merasa tidak bisa mengondisikan kelas. Siswa putra yang saya nasehati agar tenang, tidak bisa sepenuhnya tenang. Siswa putri yang saya pancing perhatiannya, tidak memberi respon yang positif. Ada apa ini? Saya merasa ada gejolak di dalam dada. Anak-anak ini sungguh membuat saya ingin marah.

Sepuluh menit sebelum pelajaran berakhir –dan kondisi kelas belum bisa saya kendalikan, akhirnya saya meminta perhatian dengan tegas. Dengan suara tegas. Yang ramai kemudian diam. Yang tertunduk kemudian memberi perhatian.

Kali ini saya menyerah. Saya menyerah mengondisikan kelas. Saya menyerah memberikan nasehat sambil tersenyum. Saya hampir tidak bisa menahan marah. Rasanya mungkin melegakan jika saya menyemburkan amarah kepada mereka. Namun kata-kata yang keluar dari mulut saya seperti ini.

“Sepertinya hari ini kalian sedang tidak ingin belajar. Jika kalian tidak ingin belajar, buat apa kita belajar di sini. Buat apa Pak Guru mengajar kalian sekarang. Perbuatan kalian membuat Pak Guru mau marah. Tapi, jangan ada marah di antara kita, ya. Jangan ada marah di antara kita. Jika kali ini kalian sedang tidak ingin belajar, ya sudah, kita hentikan pelajaran hari ini. Masih ada waktu 10 menit. Kalian tidak ingin belajar, hal itu membuat Pak Guru tidak ingin mengajar kalian. Pelajarannya kita sudahi sekarang.”
Saya mengatakan hal di atas sambil menahan gejolak di dada. Sebenarnya, bisa saja saya mengeluarkan suara keras kepada mereka. Bisa saja saya memarahi mereka. Dan mereka akan diam mendengarkan, kemudian pelajaran bisa dilanjutkan. Tapi, saya tidak mau. Saya berusaha menahan. Menahan. Sabar.

Lagi pula, tingkah mereka yang kali ini sulit dikendalikan mungkin karena saya melakukan sebuah kesalahan, melakukan sebuah dosa. Saya ingat, ada seorang saleh pada zaman dulu yang mendapati hewan peliharaannya susah dikendalikan, yang karena hal itu ia mengetahui bahwa tingkah peliharaannya tersebut disebabkan karena sebuah kesalahan yang dilakukannya.

Setelah itu, saya pun keluar dari kelas. Tapi sebelumnya sempat berbincang dengan siswa putri. Saya bertanya mengapa mereka tampak lemas. Sedang berpuasa, jawab mereka. Oh, pantas saja wajah mereka tampak lelah. Mungkin lapar dan mengantuk. Nanti sore mau berbuka puasa bersama, kata mereka. Saya pun memberi pujian, bagus.

Ah, saya lelah.

Saturday, January 7, 2017

Daftar Baca Buku Nonfiksi Tahun 2017


Sebelumnya, saya sudah menyusun Daftar Baca Buku Fiksi Tahun 2017 yang berisi dua belas buku (novel dan kumpulan cerpen). Saya berusaha untuk menyeimbangkan bacaan saya antara fiksi dan nonfiksi sehingga saya juga menyusun Daftar Baca Buku Nonfiksi yang berisi dua belas buku nonfiksi.

Berikut ini Daftar Baca Buku Nonfiksi Tahun 2017.

1. TafsirAl-Quranil ‘Adzim Karya Ibnu Katsir
Sebagai seorang muslim, saya merasa sangat perlu untuk mempelajari Al-Quran. Selain berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas membacanya, syukur-syukur bisa menghafal sedikit demi sedikit, saya juga akan membaca tafsirnya. Dan kitab tafsir Al-Quran yang bagus dan cocok bagi saya yaitu karangan Ibnu Katsir.

Saya memiliki kitab Ibnu Katsir (terjemahan) yang terdiri atas 10 jilid. Saya masih teringat bagaimana perjuangan saya dahulu untuk memilikinya. Saya membelinya satu demi satu jilid, itu pun dengan memaksakan diri, bahkan kadang sampai meminjam uang kepada teman.

Saya sudah membaca beberapa tafsir sebagian surat Al-Baqarah. Saya meringkasnya, mengambil intisarinya, lalu saya tulis di buku catatan saya. Saya melakukannya karena saya berpikir bahwa dengan meringkas dan menuliskannya maka pemahaman saya akan lebih kuat.

Tahun 2017 ini saya akan memulai lagi membaca tafsir Al-Quran. Saya akan mengambil intisarinya kemudian akan saya tulis. Ada kemungkinan hasilnya akan saya unggah di blog umarkhalid-alkasidi.blogspot.co.id. Tentu saya tidak bisa mengkhatamkan 10 jilid tafsir Al-Quran ini dalam 1 tahun. Oleh karena itu, saya ingin mulai konsisten untuk membacanya mulai tahun ini. Entah sampai kapan selesainya.

Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dan keistikamahan kepada saya untuk mengamalkan niat baik saya itu. Amin.

2. Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri

Saya memiliki beberapa buku tentang sejarah Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau. Dan saya sama sekali belum pernah menamatkan satupun buku sirah Nabi. Sungguh keterlaluan diri saya. Bagaimana ada orang yang mengaku cinta, tetapi ia tidak berusaha untuk mengenal orang yang dicintainya itu.

Saya memang membaca buku sirah Nabi, tetapi sedikit-sedikit dan sebagian-sebagian. Mulai tahun ini saya akan membaca secara runtut agar bisa mengkhatamkannnya. Saya memilih sirah Nabi karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri yang saat ini menjadi salah satu buku sirah Nabi terbaik di dunia.

3. Rihlah Ibnu Batutah: Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan karya Ibnu Batutah
Rihlah Ibnu Batutah merupakan salah satu karya tulis berharga. Ibnu Batutah melakukan perjalanan mengunjungi berbagai negeri kemudian menuliskan perjalanannya tersebut. Jadi, sebelum tren travel writting masa sekarang, Ibnu Batutah sudah melakukannya pada abad pertengahan.

Membaca buku ini seperti berwisata menuju masa lalu, mengunjungi kota-kota lama yang sebagiannya bahkan kini sudah tak ada. Ibnu Batutah mengunjungi banyak negeri. Bertemu dengan banyak raja dan pangeran. Berinteraksi dengan masyarakat berbagai lapisan. Melihat budaya berbagai bangsa. Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara. Iya, Ibnu Batutah sampai juga di nusantara, khususnya di Samudera Pasai, Sumatera.

4. Shaid Al-Khatir karya Ibnul Jauzy
Shaid Al-Khatir adalah salah satu karya tulis berharga yang diwariskan Ibnul Jauzy. Ulama multidisiplin --tafsir, hadits, sirah—ini terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang menyentuh hati. Retorikanya memukau.

Shaid Al-Khatir memuat pengalaman-pengalaman dan renungan-renungan. Ibnul Jauzy menuliskannya dalam pasal-pasal yang tak terlalu panjang pembahasannya sehingga enak dibaca. Topik pembicaraannya beragam, dari yang ringan hingga berat. Saya sudah lama menginginkan buku ini, dan baru beberapa waktu yang lalu saya bisa membelinya.

5. La Tahzan karya Aidh Al-Qarni
Aidh Al-Qarni menjadi salah penulis favorit saya. Tulisannya mencerahkan. Bahasanya lembut, indah, dan mendalam. Saya memiliki dan sudah membaca beberapa bukunya. La Tahzan, saya baru membuka-bukanya.

Bolehlah dibilang La Tahzan adalah buku sejuta umat. Buku ini “meledak” di pasaran, baik di negeri asalnya –Arab Saudi-- maupun di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu penerbit di Indonesia menerbitkannya pertama kali pada tahun 2004. La Tahzan yanag saya miliki –dari penerbit tersebut—adalah cetakan ke-60 yang dicetak bulan Juni 2015. Luar biasa, bukan.

Sesuai judulnya, La Tahzan ‘Jangan Bersedih’, buku ini memaparkan hal-hal yang dapat mengikis kesedihan, membuat kita menghargai hidup, dan menambah rasa syukur. Bahasanya enak, runtut, logis. Al-Qarni mengisi bukunya dengan berbagai hikmah yang didapat dari Al-Quran, Hadist, sirah, sejarah, renungan, para pemikir dan penulis, baik dari Barat maupun Timur.

6. Fihi Ma Fihi karya Jalaluddin Rumi
Syair atau puisi menjadi salah kegemaran bacaan saya. Dan dalam dunia syair, Rumi menjadi sosok yang tak ikonik, khususnya dalam tasawuf. Saya sudah membaca beberapa larik syairnya yang diterjemahkan dari Matsnawi dan Diwan Syamsi Tabriz.

Selain menulis syair, Rumi juga menulis prosa. Salah satunya ialah Fihi Ma Fihi. Buku yang banyak dikaji, baik di dunia Barat maupun Timur, ini memuat ceramah dan nasehat spiritual yang disampaikan oleh Rumi kepada murid-muridnya.

Pada pasal pertama buku ini, saya mendapatkan kata-kata yang indah menawan dan dalam maknanya.
“Jangan terlalu yakin pada persepsi dan pikiranmu sendiri. Tidak bisa kita memastikan kebenaran hanya berdasarkan persepsi dan pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, jadilah manusia yang merendahkan diri dan takut di hadapan Allah."
Saya akan berusaha meneguk hikmah dari salah satu karya masterpice Jalaluddin Rumi ini, Fihi Ma Fihi. 


7. Pemenangan Pemilu PKS di Indonesia 1999-2009 dan AKP di Turki 2002-2007: Studi Perbandingan Karya Sitaresmi S. Sukanto
Saya terkadang membaca karya ilmiah akademis: skripsi, tesis, disertasi. Karya Sitaresmi ini menarik untuk disaksamai karena fenomena menarik yang ditunjukkan oleh partai politik berhaluan Islam di Indonesia dan Turki. Jika di Indonesia ada PKS, di Turki ada AKP.

AKP dan PKS secara umum memiliki garis ideologi yang sama. Perbedaannya, AKP di Turki telihat lebih “sukses” menjadi pemenang pemilu di Turki daripada PKS di Indonesia. Sangat menarik untuk mengetahui bagaimana perjalanan politik kedua partai di negaranya masing-masing untuk melihat persamaan dan perbedaannya.

8. Islamku, Islam Anda, Islam Kita karya Abdurrahman Wahid
Sebagian orang mungkin heran dengan buku pilihan saya ini. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang sosok yang kontroversial. Ia dipuja, juga dicela. Sebagian menganggapnya wali, sebagian menganggapkanya liberal. Namun, tak dapat dipungkiri, ia adalah tokoh hebat yang memiliki banyak pengaruh.

Salah satu cara mengenal Gus Dur ialah dengan membaca pikiran-pikirannya. Buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita merupakan kumpulan esainnya yang sebelumnya tersebar di berbagai surat kabar. Buku ini menggambarkan pemikiran Gus Dur dalam berbagai bidang: agama, politik, ekonomi, sosial, budaya.

9. Timur Leng karya Justin Marozzi
Awalnya saya membaca novel karya Indu Sundaresan tentang Kesultanan Mughal di India. Novel itu sangat bagus. Saya tersedot ke masa lalu saat-saat sebelum Taj Mahal dibangun. Saya pun semakin tertarik untuk mempelajari Kesultanan Mughal.

Tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari Kesultanan Mughal ialah Timur Leng. Ia adalah leluhur para sultan Mughal. Darinya lahir para pangeran dan raja yang memerintah kesultanan selama ratusan tahun. Pada abad ke-14, Timur Leng menjadi salah satu penakluk terhebat. Dari Timur hingga ke Barat. Perjalanannya dari orang biasa menjadi penakluk terhebat menarik untuk dicermati.

10. Dari Zaman Citra ke Metafiksi: Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ
Sastra masih menjadi kegemaran saya. Saya bisa merasa senang terjun dalam dunia sastra, minimal dengan membaca karya-karya sastra. Buku Dari Zaman Citra ke Metafiksi merupakan bunga rampai kritik sastra yang menjadi pemenang dan unggulan dalam Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007 dan Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009.

Beberapa novel yang ditelaah dalam buku ini antara lain Cala Ibi Nukila Amal, Misteri Perkawinan Maut karya S. Mara GD, dan Supernova: Akar karya Dee. Buku kumpulan puisi juga banyak ditelaah dalam buku ini, di antaranya Teman-temanku dari Atap Bahasa karya Afrizal Malna, Kolam Ridha Al-Qadri karya Sapardi Djoko Damono, sajak “Pembawa Matahari” karya Abdul Hadi W.M., sajak “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad, sajak-sajak Joko Pinurba, dan sajak-sajak Acep Zamzam Noor.

11. Membaca Sastra, Membaca Dunia karya Azwar
Buku ini memuat esai-esai sastra. Saya belum memilikinya sehingga belum bisa mengintip isinya. Saya pernah membaca tuntas kumpulan esai sastra karya Anton Kurnia dalam buku Mencari Setangkai Daun Surga. Saya menikmati membacanya dan saya mendapatkan banyak pengetahuan darinya. Saya juga berharap mendapatkan hal yang sama dari buku Membaca Sastra, Membaca Dunia karya Azwar ini.

12. Makelar Politik karya Puthut EA
Nama Puthut EA berseliweran di media sosial, khususnya Facebook. Saya menyukai gaya penulisannya. Menarik dan menggelitik. Ia adalah salah satu penulis yang produktif. Ia menjadi salah satu motor penggerak penulis-penulis muda lainnya. Saya memiliki beberapa bukunya –kumpulan esai, kumpulan cerpen, naskah drama—tetapi belum satu pun sayang saya baca.

Buku Makelar Politik memuat 50 tulisan atau catatan yang sebagian besar pernah tersebar di dunia maya. Saya membaca sekilas ini buku ini dan mendapatinya sebagai catatan reflektif atas sebuah peristiwa, pengalaman, ataupun renungan. Ini adalah jenis tulisan yang personal dan tidak membosankan.

 

***
Demikian Daftar Baca Buku Nonfiksi Tahun 2017 yang saya susun. Saya memasukkan buku-buku tersebut dalam daftar baca karena –selain menarik dan perlu—buku-buku tersebut sebagian besar cukup tebal. Jika saya tidak menargetkan untuk menyelesaikannya, akan semakin tertunda-tunda buku tersebut saya baca.

Buku-buku yang akan saya baca tentu saja tidak terbatas dalam daftar tersebut. Ada beberapa buku lain yang akan saya baca, tetapi prioritas utama tetaplah buku-buku di dalam daftar tersebut.

Daftar baca di atas melengkapi tulisan saya sebelumnya, yaitu Daftar Baca Buku Fiksi Tahun 2017. Semoga selalu ada keistikamahan dalam membaca karya, baik nonfiksi maupun fiksi.




Thursday, January 5, 2017

Daftar Baca Buku Fiksi Tahun 2017


Cukup banyak buku saya yang tertata rapi di rak, akan tetapi tak tersentuh jua karena alasan kesibukan kerja atau hal lainnya. Kiranya, saya perlu membuat daftar buku-buku yang akan saya baca selama satu tahun. Daftar itu seumpama target yang sebisa mungkin akan saya capai.

Saya membuat daftar baca buku fiksi yang akan saya baca selama tahun 2017. Berarti ada juga daftar baca buku nonfiksi yang akan saya baca. Saya akan menyusunnya dalam tulisan yang berbeda.

Dalam menyusun daftar ini, saya tidak memberlakukan kriteria tertentu. Saya memasukkan buku-buku yang saya kenal –minimal pernah mendengar judulnya—dan kiranya isinya bagus. Berikut ini Daftar Baca Buku Fiksi Tahun 2017.

1. Asmaraloka karya Danarto
Danarto adalah sastrawan Indonesia yang sudah sepuh. Karya-karyanya patut untuk dibaca oleh generasi sekarang. Asmaraloka adalah novel baru diterbitkan tahun 2016. Saya belum memiliki gambaran tentang novel ini. Oleh karenanya, saya kutipkan saja blurb novel ini.

Perang fatamorgana dalam novel Asmaraloka ini adalah sebuah rekayasa perang antarsuku-agama-ras-antargolongan. Sehingga perang ini menjadi komoditas, persis pertandingan sepak bola. Setiap orang bisa ikut berperang atau sekadar menonton. Orang lalu piknik perang, menonton perang di garis depan. Tak ketinggalan siaran pandangan mata oleh para wartawan perang sehingga yang tewas tidak hanya yang di medan perang, juga penonton televisi di rumah karena serangan jantung. Dari gaya perang macam ini, yang sudah berlangsung puluhan tahun, jangan-jangan sudah seratus tahun, lahir peradaban baru.

2. Setangkai Melati di Sayap Jibril karya Danarto
Buku ini memuat cerpen-cerpen karya Danarto. Ada unsur ketakterdugaan dalam cerpen-cerpennya. Saya kutipkan blurb dari buku ini.

Cerpen-cerpen Danarto, cenderung menghadirkan hal yang non-real, yang tak nyata, ke dalam bingkai kenyataan. Yang real dan non-real mewujud bukan sebagai sesuatu yang saling bertentang, bukan “dua dunia” yang tidak saling bersentuhan, tetapi justru sebagai yang saling berkelindan, jalin-menjalin, pengaruh-mempengaruhi. Yang real dan non-real, dalam cerpen-cerpen Danarto, melebur menerobos ruang dan waktu, sehingga sebagai dunia alternatif cerpen-cerpen Danarto membawa kita, pembaca, ke dunia sonya ruri, ke wilayah fantastis, ke dunia transenden, yang tidak real tapi juga tidak sepenuhnya tak terkenali.

3. Nagabumi II karya Seno Gumira Ajidarma
Seno Gumira Ajidarma menjadi semacam jaminan kualitas atas karya-karyanya. Novel Nagabumi ada dua jilid. Saya sudah merampungkan jilid pertama yang tebalnya 815 halaman. Nagabumi jilid II yang bertajuk Buddha, Pedang, dan Penyamun Terbang ini ini tebalnya 980 halaman. Wow...

Novel ini berlatar peradaban Jawa pada masa lalu ketika Kerajaan Sriwijaya masih berkuasa. Penulisnya benar-benar habis-habisan menggambarkan kehidupan masa lalu di Jawa. Novel ini –menurut saya—melebihi disertasi. Untuk jilid II, ada catatan akhir sebanyak 46 halaman dengan huruf-huruf kecil. Daftar pustakanya sebanyak 7 lembar. Membaca novel ini seperti membaca sebuah penelitian, seperti membaca buku sejarah.

4. Wisanggeni: Sang Buronan karya Seno Gumira Ajidarma
Wisanggeni adalah tokoh wayang yang tidak terlalu terkenal. Ia adalah tokoh yang tersingkirkan. Tentu sangat menarik ketika Seno Gumira Ajidarma menghidupkan tokoh ini. Novel ini kemungkinan mengandung unsur silat, filsafat, dan cerita yang menghibur. Novel tipis (108 halaman) ini menjadi salah satu buku yang saya cari di tahun ini karena saya belum memilikinya.

5. Lampuki karya Arafat Nur
Novel Lampuki menjadi Pemenang Unggulan Sayembara Novel DKJ 2010 dan Pemenang Hadiah Sastra Khatulistiwa 2011. Sebelumnya saya tidak terlalu tertarik untuk membaca novel Lampuki. Penulisnya belum saya kenal. Baru kemudian saya berteman dengannya di Facebook dan membacai statusnya yang bagus-bagus. Dari status Facebook-nya saya menandai ia orang yang rendah hati.

Saya justru membaca novelnya yang terbit kemudian, Burung Terbang di Kelam Malam. Novel ini sangat menarik sehingga dalam dua hari saya sudah menuntaskannya. Saya berpikir, tentu Lampuki juga menarik seperti Burung Terbang di Kelam Malam, malah bisa jadi lebih menarik lagi.

Novel Lampuki menjadi salah satu novel yang masuk daftar baca tahun 2017. Jika ada kesempatan, saya pun akan memburu karya Arafat Nur yang lain, yaitu Tempat Paling Sunyi dan Tanah Surga Merah.

6. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Karya Yusi Avianto Pareanom
Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori prosa. Novel yang mendapat banyak pujian ini merupakan dongeng para raja dan pangeran. Kata orang-orang yang sudah membacanya, novel ini sungguh-sungguh sangat memikat. Bahasanya ekspresif dan alurnya menarik. Saya ngebet sekali pengin membaca novel ini.




7. Namaku Merah karya Orhan Pamuk
Saya mengenal buku ini saat kuliah. Dahulu saya pernah meminjam buku ini dari perpustakaan kampus. Saya hanya sempat membaca beberapa halaman saja, kemudian buku itu saya kembalikan karena sudah habis masa pinjamnya. Saat itu, saya tidak memiliki waktu membaca yang cukup banyak.

Orhan Pamuk merupakan sastrawan pemenang Nobel Sastra tahun 2006. Novel Namaku Merah merupakan salah satu novel yang mengangkat namanya. Saya tertarik dengan novel ini –selain jaminan berkualitas bagus—karena isinya menceritakan peradaban Islam pada masa lalu di Turki. Saya suka dengan novel-novel dengan latar sejarah seperti itu. Selain mendapat hiburan, saya juga mendapat wawasan tentang sejarah.

Novel Namaku Merah cukup tebal, 764 halaman. Semoga saya tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengkhatamkannya.

8. Musashi karya Eiji Yoshikawa
Saya mulai membaca novel ini mungkin dua tahun yang lalu. Ah, sampai sekarang pun belum tamat juga. Salah saya sendiri juga, sih. Saya membacanya hanya saat luang saja. Pembacaan saya baru sampai pertengahan novel ini. Novel ini sangat tebal sehingga tidak mungkin bisa saya bawa ke mana-mana untuk dibaca. Tebalnya 1.247 halaman. Bayangkan!

Saya suka karya Eiji Yoshikawa. Karyanya yang sudah saya baca yaitu Taiko menjadi salah satu favorit saya. Novel Musashi juga menjadi favorit saya. Musashi adalah seorang legenda samurai di Jepang. Dalam novel ini dikisahkan perjalanan Musashi dari kecil hingga menjadi pendekar pedang takterkalahkan.

Musashi berlatar kehidupan Jepang pasca-Sekigahara. Saya sangat menikmati perjalanan Musashi yang penuh liku dalam latar kehidupan Jepang era Tokugawa ini.

9. Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis karya Jorge Amado
Saya tidak terlalu mengenal Jorge Amado. Sekilas sepengetahuan saya, dia adalah penulis dengar karya-karya yang mendunia. Konon, ia digadang-gadang bakal mendapatkan Nobel Sastra. Saya merasa perlu membaca karya sastra karya penulis terkenal. Untuk mengetahui sekilas isi buku ini saya kutipkan tulisan di sampul belakangnya.

Gabriela tidak cuma cantik, tetapi juga punya ciri khas. Warna kulitnya serupa kayu manis dan tubuhnya sewangi cengkih. Dia meninggalkan udiknya untuk bekerja di Ilheus, sebuah kota kecil di Brasil. Dia bekerja sebagai juru masak di rumah Najib, seorang warga negara Brasil keturunan Suriah yang mengelola sebuah bar, tempat anggota Klub Kemajuan berkumpul. Obrolan di bar itu mengungkap sisi lain kaum lelaki -- tek peduli kalangan agamawan, cendekiawan, rakyat jelata -- yaitu kegemaran mereka bergunjing mengenai politik dan perselingkuhan.

Najib menikahi Gabriela dan berusaha mengubahnya jadi perempuan terhormat. Namun, bagaimana perasaan Gabriela sebenarnya?

Di sisi lain, Ilheus sedang berkembang sebagai kota kakao dengan panen berlimpah. Keadaan ini membuat suhu politik menjelang pemilu memanas. Kota itu semakin heboh karena Kolonel Jesuino Mendoza yang memergoki istrinya selingkuh dengan dokter gigi menembak mati mereka berdua.

Banyak cara untuk menceritakan kehidupan di sebuah kota. Ada yang menceritakanya dengan muram. Namun, dengan selera humor yang cerdas, Jorge Amado -- pendongen ulung kelas dunia dan sering dicalonkan memenangi Hadiah Nobel Sastra-- mengangkat segi karikatural masyarakat dalam novel yang menghibur ini.

“Gabriela akan menaklukan dunia karena kisahnya penh dengan nilai kehidupan dan cinta”. -- Chicago Tribune

10. The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken karya Jostein Gaarder-Klaus Hagerup
Novel ini menjadi istimewa bagi pecinta buku. Ceritanya seputar buku dan perpustakaan. Orang yang suka membaca semestinya menyukai novel ini. Saya sempat membaca beberapa bab dalam novel ini. Pada tahun ini saya berusaha akan menyelesaikannya.

11. Rumah Kertas karya Carlos Maria Domingues
Tanggapan orang-orang yang sudah membaca novel Rumah Kertas sangat bagus. Bahkan, sebagian dari mereka mengatakan menyesal karena tidak dari dulu membaca novel ini. Kata mereka novel ini sangat menggiurkan bagi para pecinta aksara. Saya pun menjadi penasaran dengan novel yang cuma 76 halaman.

12. The American Adventures karya Mark Twain
Novel ini memuat cerita petualangan Tom Sawyer dan Huckleberry Finn. Karya sastra klasik ini menjadi bacaan favorit bagi remaja dan orang dewasa di berbagai negara. Dalam novel ini dikisahkan petualangan para remaja yang pemberani, dan “nakal”, dan setia kawan.


***
Demikian Daftar Baca Buku Fiksi Tahun 2017 yang saya susun. Buku-buku yang akan saya baca tentu saja tidak terbatas dalam daftar tersebut. Ada beberapa buku lain yang akan saya baca, tetapi prioritas utama tetaplah buku-buku di dalam daftar tersebut.

Saya juga akan membaca buku-buku kumpulan cerpen dan buku-buku kumpulan puisi yang rata-rata tidak terlalu tebal sehingga bisa saya bawa ke mana-mana.




Tulisan Terbaru

Recent Posts Widget