Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Sunday, November 13, 2016

Juara Umum Kemah Ukhuwah Wilayah (Kemwil) Jateng VII Pramuka SIT

Peserta Kemwil yang terdiri atas: para pembina, anggota regu putra, dan anggora regu putri.

Sepertinya sudah cukup lama saya tidak menulis. Adakah yang merindukan tulisan saya? Atau adakah yang merindukan... saya? : D

Kali ini saya mau cerita tentang kegiatan sekolah, yaitu kemah Pramuka. Saya menjadi pembina Pramuka di sekolah. Sejak tiga tahun yang lalu menjadi pembina, saya sudah mengikuti kegiatan kemah Pramuka sebanyak 5kali, di antaranya kemah internal sekolah, kemah tingkat kabupaten, kemah Jateng-DIY, dan Kemah Ukhuwah Wilayah Jateng. Yang disebut terakhir merupakan kemah yang paling besar karena melibatkan sebanyak 2.256 pelajar anggota Pramuka Penggalang dari SDIT dan SMPIT se-Jawa tengah. Kemah Ukhuwah Wilayah (Kemwil) VII dilaksanakan di Lapangan Tembak Akmil, Kabupaten Magelang, sekitar 4 km ke barat dari Borobudur.

Sekolah saya mengirimkan 2 regu: regu Elang (putra) dan regu Kamboja (putri). Regu kami memiliki julukan. Regu Elang berjuluk Sanggabara yang merupakan singkatan dari Pasukan Penggalang Bakti Negara. Regu Kamboja berjuluk Sanggadara, Pasukan Penggalang Mujahidah Mutiara Insan. Saya berlaku sebagai Koordinator Pramuka di sekolah, jadi saya bersama pembina lain menyiapkan peserta untuk mengikuti kemah dengan baik.

Pada Kemwil sebelumnya, tahun 2012 yang diadakan di Purbalingga, sekolah saya mengikutinya dengan persiapan yang belum optimal. Maklum saja karena masih sekolah baru. Kali ini, kami mempersiapkan dengan baik untuk mengikuti Kemwil, khususnya persiapan-persiapan lomba selama kemah. 



Logo Pramuka SIT dan logo Kemwil VII
Saya kebagian untuk melatih LKBB (Lomba Kreasi Baris-Berbaris). Pada Kembadharma yang dilaksanakan di Buper Borodubur bulan Mei 2016, saya juga melatih LKBB. Saat itu regu Elang memeroleh juara 2 LKBB (jumlah pesertanya cuma 9 sekolah). Kali ini, target saya tak muluk-muluk, bisa masuk final saja, Alhamdulillah, karena jumlah pesertanya ada 35 sekolah.

Dimulailah hari-hari berpanas ria berlatih LKBB. Tak ayal, kulitku semakin hitam saja. Tapi tak apa-apalah, hitam-hitam gini masih tetap cakep, kan. : D

Hari Jumat (4/11) malam kami berangkat ke Magelang dengan armada bus Wahyu Putra. Kemah selama 4 hari 3 malam berjalan seru dan begitulah-begitulah. Lomba-lomba kami ikuti dengan baik. Dan hasilnya di luar ekspetasi saya.

Kami berhasil mendapatkan 4 piala untuk regu putra dan 1 piala untuk regu putri. Salah satu piala itu ialah Juara 1 LKBB. Wow... luar biasa. Saya tak menyangka bisa mendapatkan juara 1 LKBB, padahal peserta lain juga menampilkan LKBB yang bagus-bagus. Piala yang kami dapatkan untuk regu putra ialah Juara 1 LKBB, Juara 2 Paradise Tent, Juara 2 Memanah, dan Juara 2 Semboyan (Semaphore), sedangkan untuk regu putri ialah Juara 3 Memanah.

Dan yang lebih emejing lagi ialah kami menjadi Juara Umum Kemwil Jateng VII. Kami mendapatkan piala Regu Tergiat. Sungguh, ini anugerah yang tiada terduga. Kami berangkat dengan rasa optimis yang biasa-biasa saja, pulang cukup membawa beberapa piala, tanpa berpikir akan menjadi juara umum. Sebagai pembina, saya merasa senang tiada terkira. 



Perolehan piala


Oleh karena itu, perlu kiranya saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak atas partisipasi, dorongan, dukungan, dan doa mereka.

Yang pertama dan utama ialah, terima kasih kepada Allah SWT. Segala puji bagi-Nya. Allah telah melimpahkan nikmat-Nya yang tiada terhingga. Di antaranya ialah kami bisa mengikuti kemah dengan lancar, tiada hambatan dan halangan yang berarti. Atas berkah dan rahmat-Nya sehingga kami menjuarai beberapa lomba dan menjadi Juara Umum Kemwil Jateng VII.

Selanjutnya, terima kasih kepada Ibu Maryati selaku kepala sekolah yang telah memberikan dukungan dan dorongan untuk kemajuan kegiatan Pramuka di sekolah. Juga selaku Kamabigus yang memberikan banyak kemudahan sehingga kegiatan kepramukaan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Juga selaku koki selama Kemwil –baru kali ini kepala sekolah menjadi koki selama kemah—yang telah menyediakan masakan yang enak selama 4 hari 3 malam di Kemwil. Sungguh, kebutuhan asupan makan yang enak dan bergizi sangat diperlukan selama kemah sehingga kami bisa menjalani kegiatan kemah dengan baik.

Terima kasih kepada pembina Pramuka putra: Kak Topik Budiantoro dan Kak Syaefudin. Terima kasih atas waktu, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan dalam melakukan persiapan dan selama mengikuti kegiatan Kemwil. Terima kasih kepada Kak Syaef yang membantu menyiapkan logistik dan makanan selama kemah.

Terima kasih kepada para pembina Pramuka putri: Kak Sugiyatmi dan Kak Dwi Safitri. Terima kasih telah membantu persiapan, melatih lomba, dan membantu membimbing para peserta putri.

Terima kasih kepada Bapak/Ibu guru di sekolah yang telah membantu, mendukung, dan mendoakan peserta Kemwil.

Terima kasih kepada adik-adik peserta Kemwil: 10 pelajar putra Tim Sanggabara dan 10 pelajar putri Tim Sanggadara. Kalian sungguh hebat dan luar biasa. Kalian telah menorehkan prestasi dalam bidang kepramukaan di tingkat Provinsi. Prestasi ini akan menjadi kenang-kenangan kalian bagi sekolah. Dan terkhusus, kenang-kenangan bagi saya pribadi karena kalian memberikan pengalaman yang sungguh berkesan bagi saya. Sanggabara dan Sanggadara, kalian sungguh hebat!

Atas kebahagiaan ini, sepertinya saya perlu untuk menghadiahi diri sendiri. Saya memang kadang menghadiahi diri sendiri, baik saat mengalami kegembiraan yang sangat maupun saat mengalami kesediahan yang mendalam. Kali ini saya akan menghadiahi diri saya sendiri berupa kaos dengan desain yang saya buat sendiri, 2 kaos sekaligus. Berikut ini desain kaos polo t-shirt yang berbahan lacoste dengan bordir tulisan.








Saturday, October 29, 2016

Kutipan Buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga


Cinta menjadi tema umum dalam cerpen-cerpen karya Sungging Raga yang terkumpul dalam buku Reruntuhan Musim Dingin. Tapi, ini bukan kisah cinta yang cengeng. Sungging Raga meramu kisah cinta yang tak biasa. Kalau kata Tia Setiadi dalam pengantarnya terhadap buku ini, "Sungging Raga bersikeras menampilkan kisah-kisah cinta yang, syukurnya, tak terjerumus ke dalam lautan klise."

Kisah-kisah cinta dalam cerpen-cerpennya ditulis dengan penggambaran yang datar, yang berjarak. Namun meski demikian, Sungging Raga tak membiarkan cerpennya kering kerontang. Penulis memainkan akrobat kata dan menampilkan atraksi frasa. Rangkaian kata-katanya seperti menari-menari dengan anggun dan indah saat menceritakan suatu keadaan atau perasaan.

Banyak rangkaian katanya bisa menjadi quote yang bagus. Berikut ini kutipan-kutipan bagus dari buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga.
Barangkali, tidak ada perpisahan yang lebih menyenangkan untuk dirayakan daripada sepasang kekasih yang berpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Sepasang kekasih yang kemudian akan saling bertanya: mengapa cinta tidak cukup kekal untuk menjadikan dua manusia bersama selamanya?
(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")

Cinta terkadang memang tak direncanakan, tapi ketika segalanya bersemi, artinya ada yang harus diperjuangkan.
(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")

Setelah kebersamaan yang begitu panjang, mengapa kini hanya tersisa setengah jam? Apakah cinta tidak bisa diisi ulang?
(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")

Memang. Selalu saja ada kisah tentang perempuan yang menunggu. Dan tidak ada kisah yang lebih menyedihkan daripada perempuan yang merasa yakin bahwa penantiannya yakin akan berbuah manis. Apakah perempuan selalu ditakdirkan untuk menunggu?
(Cerpen "Dermaga Patah Hati")

Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin darimu, untuk kemudian ditinggalkan.
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Setiap kisah, setiap tokoh yang singgah dalam kehidupan kita, pada akhirnya akan menghilang, berpisah begitu saja, melanjutkan kisahnya bersama tokoh-tokoh lain yang tak kita kenal. Mereka hanya serpihan bagi kita, dan kita pun mungkin hanya selintas ingatan bagi mereka.
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Mengapa ia tak bisa melepas kenangan yang awalnya datang begitu ringan? Apakah kenangan memang bisa tumbuh dan berkembang, menciptakan cabang berupa anak-anak kenangan yang lain?
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Tidak terbayang jika aku hidup bersama seorang penulis. Pasti sangat menyusahkan. Menulis itu bukan pekerjaan, itu cuma semacam pengisi waktu luang.
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")


Tuesday, October 18, 2016

Gugur


telah gugur sesosok daun
yang sebelumnya telah kering di ranting
ia awalnya adalah daun yang indah
mengelok pandang, mengundang sanjung
warnanya hijau meneduhkan
ia dibesarkan oleh hangatnya belaian matahari

tahtanya tinggi di pucuk ranting
berdekatan dengan bunga-bunga paling atas
dilihatnya tanah, rumput, buah yang jatuh lalu membusuk
di bawah sana
dipandangnya anak kecil yang berlarian mengitari pohon
yang duduk-duduk di akar besarnya yang mencuat keluar

telah gugur ia kini
usianya berbatas, tugasnya purna
ia melayang berkendara angin
tujuannya ialah tanah basah di bawah sana
tanah dan rumput yang dulu dipandanginya dari atas

tanah, aku datang padamu
daun, aku menyambutmu



(Sukoharjo, 31 Agustus 2016)


 

Pejalan


seorang pejalan itulah aku. yang mencari aliran air itulah aku. yang menyusuri jejak pendahulu itulah aku. ikutilah aliran air sungai hingga tiba di samudera kekayaan itulah wasiat yang ditanamkan dalam batinku. maka di sinilah aku di sepanjang tepi aliran sungai.

bekalku adalah sepotong roti dan sebotol parfum. separo potong roti untuk pagi hari dan sisanya untuk menutup hari. kucelupkan separo potong roti itu ke dalam air sungai agar ia lembut dan mudah ditelan dan basah dan memberikan kesegaran. dan sebotol parfum itu kucipratkan pada pakaianku saat malam hari. parfum yang mengusir hawa kejahatan. yang mendekatkan kebaikan. yang menjadi perantara untuk memanjat tangga yang tercipta dari cahaya.

penglihatanku adalah matahati dan pendengaranku adalah matabatin. pengabarku adalah burung-burung terbang yang berkicau tentang sebuah gunung di ujung samudera yang di puncaknya bertahta sang raja. peneduhku adalah awan putih yang kadang menjelma menjadi pekat dan mencurahkan air yang memadamkan hasratku.

akulah pejalan yang menyusuri jejak pendahulu di sepanjang tepi aliran sungai menuju samudera kekayaan dengan bekal sepotong roti dan sebotol parfum.



(Sukoharjo, 31 Agustus 2016)


Akulah Badai, Engkaulah Karang



akulah badai, engkaulah karang
purnama memanggilku
membakar renjana dalam diriku
memercik
memerciklah aku
membesar
membesarlah aku
menggunung
menggununglah aku

akulah badai, engkaulah karang
dihentak bisingnya langit
diguncang riuhnya kapal-kapal
melindas, terlindas, menabrak, tertabrak
hancurlah aku
dibakar asap-asap di udara
ditusuk racun-racun di air
dan pepohonan mengaduh dari kejauhan
merintih menuju kematiannya

akulah badai, engkaulah karang
purnama memanggilku
aku datang
aku terjang
aku yang malang
telah menerima panggilan

akulah badai, engkaulah karang
tenanglah, engkau membujuk dalam keteguhan
sabarlah, engkau merayu dalam kelembutan
akulah karang, engkaulah badai
hempaskan gejolakmu padaku

akulah badai, engkaulah karang
kuhempaskan hasratku padamu
kutumpahkan renjana yang telah dibakar purnama itu
kupadamkan apiku untuk menyatu denganmu
akulah badai, engkaulah karang



(Sukoharjo, 31 Agustus 2016)


 

Sunday, September 18, 2016

Saldo di Rekening Saya Tiba-tiba Berkurang 4 Juta!


 
Ini adalah pengalaman pribadi saya terkait layanan perbankan. Saya bekerja sebagai seorang guru di sebuah lembaga pendidikan swasta di bawah payung sebuah yayasan. Yayasan tersebut menggunakan Bank Mandiri Syariah sebagai jasa perbankannya. Termasuk dalam sistem penggajian karyawan. Setiap bulan, gaji saya ditransfer ke rekening saya.

Selama tiga tahun, tidak pernah ada masalah dengan rekening saya. Suatu sore saat melakukan transaksi di ATM, saya mengecek saldo rekening saya. Melihat jumlah saldo rekening saya di layar mesin ATM, saya merasa heran. Sepertinya saldo saya berkurang banyak. Saya mengingat-ingat apakah saya pernah melakukan transaksi debet (penarikan atau transfer) dengan jumlah uang yang cukup besar.

Saya belum sadar benar bahwa saldo rekening saya berkurang tanpa saya pernah melakukan transaksi debet. Setelah beberapa saat, saya menduga –saya baru menduga—bahwa saldo rekening saya berkurang sendiri. Saat itu hari sudah sore sehingga saya tidak bisa melakukan pengecekan di bank.

Hari berikutnya, saya datang ke kantor
Bank Mandiri Syariah cabang pembantu kabupaten saya. Saya disambut ramah oleh Pak Satpam. “Saya mau ke customer service,” kata saya kepada Pak Satpam.

Saya disambut customer service yang ramah pula. Saya sebut saja Mas CS. Tak pula ia beruluk salam terlebih dahulu –salah satu ciri khas bank ini. Saya bertanya kepada Mas CS apakah saya akhir-akhir ini melakukan transaksi debet dalam jumlah besar. Mas CS meminta buku tabungan dan KTP saya. Kemudian dia sejenak terlihat sibuk mengetik sesuatu di keyboard komputer.

Tak berapa lama, Mas CS memberitahukan bahwa ada transaksi debet sejumlah 4 juta dari rekening saya sekitar satu minggu yang lalu. Saya tak sadar bahwa sudah satu minggu hal tersebut terjadi. Mas CS mengatakan bahwa ada indikasi kegagalan transfer yang telah dilakukan beberapa waktu sebelumnya.

Sekitar tiga minggu sebelumnya saya menerima transfer sejumlah 4 juta dari seorang teman saya. Transaksi tersebut saat itu sudah berhasil. Baru setelah dua minggu kemudian, transaksi tersebut dinyatakan gagal sehingga dana transferan kembali kepada rekening pengirim, yaitu teman saya.

“Coba Bapak konfirmasi kepada temannya,” saran Mas CS. “Kalau proses transfernya gagal, uang tersebut akan kembali kepada pengirimnya.”
“Ada buktinya bahwa uang tersebut kembali ke pengirim, ya?” tanya saya memastikan.

“Untuk pengecekan lebih detail dan penge-print-an buktinya, Bapak bisa datang ke kantor cabang karena di sini tidak bisa,” kata Mas CS.

Setelah bertanya alamat kantor cabang, saya pun kembali dan segera menelepon teman saya sebagai pengirim dana transfer itu. Saya menanyakan kepada teman saya apakah saldo rekeningnya bertambah sejumlah 4 juta. Saat itu dia sedang berada dalam sebuah acara sehingga tidak bisa langsung mengecek ke ATM. “Nanti saya kabari, Mas,” kata teman saya.

Sore hari, teman saya tersebut mengirim pesan melalu Whatsapp yang menyatakan bahwa saldo rekeningnya tidak bertambah. Ia juga melampirkan sebuah foto yang menampakkan sejumlah uang di layar ATM yang jumlahnya dibawah satu juta.

Mulai saat itu pikiran saya agak tidak tenang. Meskipun saya percaya bahwa masalah seperti ini akan bisa diatasi, namun tetap ada sedikit was-was dalam diri saya.

Esoknya saya mendatangi kantor cabang. Saya disambut oleh Pak Satpam dengan senyum ramah. Di kantor cabang ini CS-nya juga laki-laki. Saya sebut saya Bang CS.

Saya kisahkan permasalahan saya. Kemudian, dengan pembawaan tenang dan suara lembut, Bang CS menjelaskan bahwa dalam proses transfer, bank menggunakan jasa pihak ketiga. Saya tidak bertanya lebih lanjut apa nama pihak ketiga tersebut. Gampangnya, begini 

mekanisme transfer: 
Pengirim (rekening teman saya) --> ATM --> [pihak ketiga] --> Penerima (rekening saya)

Saat transfer, proses terbaca berhasil oleh pihak ketiga sehingga dana transfer langsung diteruskan ke rekening saya. Selang dua minggu kemudian, terbaca kegagalan transfer di pihak ketiga sehingga dana transfer sejumlah 4 juta yang sudah berada di rekening saya ditarik kembali oleh pihak ketiga untuk kemudian (seharusnya) dikembalikan kepada rekening teman saya.

Karena saldo rekening teman saya tidak bertambah, berarti ada kesalahan sistem di pihak ketiga. Bang CS pun membuat sebuah laporan komplain secara online. Selanjutnya ia mengatakan bahwa saya akan dihubungi pihak bank maksimal 14 hari kerja. Wah, lamanya, batin saya. Saya pun pulang dengan dengan membawa janji tersebut.

Kekhawatiran mulai menggelayuti pikiran saya. Sudah ada beberapa kasus saldo rekening bank nasabah berkurang dan pihak bank enggan bertanggung jawab atau tidak serius mengatasi permasalahan tersebut.

Bagi saya, uang 4 juta tidaklah sedikit. Hei, itu kan hasil dari saya mengumpulkan recehan setiap bulan. Itu tabungan nikah saya, lho. : ) Jadi, kalau uang 4 juta itu raib, bakalan tertunda nikah saya karena saya harus menabung dari awal lagi.

Saya berpikir, ada kemungkinan uang saya kembali dan ada kemungkinan uang saya tidak kembali. Jika dalam waktu 14 hari kerja tidak ada kejelasan permasalahan ini, saya sudah memikirkan beberapa langkah.

Pertama, saya akan meminta yayasan tempat saya bekerja untuk mengurusi masalah ini. Pihak bank pasti mendapatkan keuntungan dari jasa perbankan yang digunakan oleh yayasan dengan jumlah karyawan mencapai seratus orang ini. Ada perputaran uang yang cukup banyak di sana.

Saya berencana akan mengusulkan kepada pihak yayasan agar menekan pihak bank untuk segera menyelesaikan masalah ini. Jika masalah ini tidak diselesaikan --dengan kata lain uang saya tidak kembali, saya usulkan pihak yayasan untuk tidak menggunakan layanan bank itu lagi. Demikian rencana saya.

Jika pihak yayasan tidak mau terlalu capek mengurusi masalah saya tersebut, saya memiliki rencana kedua, yaitu menyebarkan masalah ini di jagat maya. Saya akan membuat sebuah tulisan berisi komplain terhadap pihak bank. Kemudian, tulisan tersebut akan saya unggah di beberapa blog saya, di beberapa media internet, juda di medsos. Saya juga akan mengirimkan tulisan tersebut ke media massa. Dengan melakukan hal tersebut, saya berharap pihak bank tidak main-main dalam mengurus masalah saya.

Begitulah dua rencana saya jika dalam waktu 14 hari kerja, uang saya tidak kembali atau pihak bank tidak menghubungi saya. Selama beberapa hari saya sempat mengecek saldo rekening saya. Belum bertambah. Sepertinya saya harus menjalankan rencana yang telah saya susun tersebut.

Jikapun uang saya tidak dapat kembali dengan menjalankan rencana-rencana itu, saya merasa tidak terlalu bersedih atau mengeluh. Entah mengapa, perasaan saya saat itu –meskipun ada sedikit kekhawatiran—merasa cukup tenang. Jika uang kembali ya Alhamdulillah. Jika uang tidak kembali, berarti memang itu bukan rezeki saya. Itulah takdir yang mesti saya terima.

Namun, akhirnya kabar baik itu datang juga saat saya mengecek saldo rekening seminggu setelah Bang CS mengirimkan laporan komplain. Saldo rekening saya bertambah 4 juta. Alhamdulillah... Jadi nikah, deh. : )

Ternyata, pihak
Bank Mandiri Syariah benar-benar bertanggung jawab atas komplain nasabahnya. Saya pun berjanji dalam hati bahwa saya akan menuliskan pengalaman ini dan mengunggahnya di blog sebagai bentuk apresiasi terhadap profesionalisme kerja Bank Mandiri Syariah.

Berikut ini beberapa tips dari saya jika ada yang mengalami masalah yang serupa dengan saya.

  1. Usahakan rutin untuk mengecek saldo rekening. Jangan seperti saya yang baru mengetahui kalau saldo rekening saya berkurang setelah satu minggu.
  2. Usahakan rutin mencetak buku tabungan. Sejak memiliki rekening selama tiga tahun, saya belum pernah mencetak buku tabungan sekalipun. Buku tabungan bisa menjadi bukti transaksi. Mencetak buku tabungan bisa dilakukan seminggu sekali (jika sering melakukan transaksi), dua minggu sekali, atau sebulan sekali.
  3. Bersikaplah tenang saat menghadapi masalah. Kepanikan ketika tertimpa masalah justru sering membuat masalah menjadi besar. Misalnya, menyampaikan komplain kepada bank dengan penuh emosi akan membuat pihak bank malas untuk memroses komplain.
  4. Mintalah kejelasan sumber permasalahan kepada pihak bank agar tidak ada salah paham dan permasalahan bisa segera diatasi.
  5. Bersikaplah yang sopan dan berwibawa saat mengajukan komplain. Jika kita bersikap baik kepada lawan bicara, maka lawan bicara akan memberikan tanggapan yang baik pula.
  6. Mintalah bantuan kepada orang lain yang lebih paham dengan masalah yang sedang dihadapi. Saat mendapat masalah perbankan tersebut, saya berencana meminta bantuan pada pihak yayasan untuk mengurusnya jika dalam waktu 14 hari kerja uang saya tidak kembali. Tapi pada akhirnya saya tak perlu merepotkan pihak yayasan karena sebelum 14 hari kerja uang saya sudah kembali.
  7. Berdoalah kepada Tuhan. Manusia berencana dan berusaha, namun di tangan Tuhan-lah keputusannya. Usaha diiringi dengan doa. Inilah tawakal.
  8. Berpeganglah pada takdir Tuhan. Kita harus menyadari bahwa apa yang kita miliki di dunia ini adalah titipan Tuhan. Tuhan akan mengambil apa yang memang bukan milik kita. Dengan menyadari hal tersebut, jika kita kehilangan sesuatu, kita tidak akan terpuruk dan akan mudah bangkit.

***
Sukoharjo, 19 September 2016


Saturday, September 17, 2016

Hujan Berhari-hari



 
Hari ini hujannya awet
Sama seperti hari kemarin

Jika esok, dua, tiga hari lagi
Hujan masih menderas
Akan meluaplah air sungai
Membanjiri rumah-rumah

Serupa perasaanku
Jika esok, dua, tiga hari lagi
Kangenku padamu belum terobati
Akan meluaplah rasa rinduku
Membanjiri hatiku yang sedang kasmaran



(Sukoharjo, 17 September 2016)



Tulisan Terbaru

Recent Posts Widget