Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Friday, August 26, 2016

Fullday School: Prasangka, Permasalahan, dan Solusi (bagian 2)

Fullday School: Prasangka, Permasalahan, dan Solusi
Wacana Fullday school yang digulirkan Mendikbud mendapatkan tanggapan pro dan kontra. Banyak yang memberi tanggapan kontra hanya berdasarkan asumsi, anggapan, dan hal-hal negatif yang membayangi sistem fullday school. Sebagian besar dilatari ketidaktahuan terhadap sistem fullday school yang sudah berjalan. Sebagian memang sudah antipati terhadap wacana tersebut.

Fullday school
tentu tak bisa diterapkan untuk semua sekolah karena fullday school memiliki kekhasan tersendiri. Berikut ini beberapa masalah dalam sistem fullday school yang menjadi citra negatif bagi sebagian orang, beserta solusi yang bisa dipertimbangkan. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya: Fullday School: Prasangka, Permasalahan, dan Solusi (bagian 1)


4. Fullday School Menyita Waktu Guru
Guru memiliki kewajiban untuk mengajar minimal 24 jam per minggu. Dengan penerapan fullday school –pada beberapa sekolah pilihan-- kewajiban mengajar guru tentu tidak berubah, kecuali ada peraturan perundangan yang baru. Dalam fullday school, guru tidak mengajar dari pagi sampai sore. Ada pembagian kerja dan tugas sesuai dengan kewajiban dan hak guru.

Di sebagian sekolah swasta yang menerapkan fullday, guru mengajar pada jam reguler (pagi-siang). Jam setelah siang diisi program yang disesuaikan dengan kondisi anak. Jika waktu pagi-siang pembelajaran lebih cenderung pada pendalaman kognitif/akademis, waktu siang-sore diisi kegiatan yang lebih santai, kegiatan pengembangan minat-bakat, atau kegiatan ekstrakurikuler. Pembelajaran siang-sore ini diampu oleh guru/pembina di luar guru reguler. Atau, guru reguler bisa mengajar pada jam sore dengan waktu bergiliran (tidak setiap hari).

Jadi, penerapan fullday school tidak menyita waktu guru karena guru sudah memiliki kewajiban (beban jam mengajar) yang sudah ditetapkan oleh peraturan menteri. Penerapan fullday school justru membuka lowongan pekerjaan tenaga pendidik.
 

5. Fullday School Membutuhkan Biaya Besar
Memang benar fullday school membutuhkan biaya besar. Biaya tersebut digunakan di antaranya untuk gaji tenaga pendidik tambahan, penambahan fasilitas sekolah, penyiapan makan siang/makanan ringan, dll. Biaya yang besar ini idealnya dibebankan kepada pemerintah. Dan jika hal tersebut terealisasi, masyarakat tidak terlalu memikirkan permasalahan ini.

Selama ini, sekolah yang menerapkan fullday school hampir semuanya sekolah swasta yang membebankan biaya pendidikan kepada orang tua / wali siswa. Masyarakat sudah memberikan “cap” bahwa fullday school berbiaya mahal. Stigma inilah yang membuat banyak orang menolak penerapan fullday school.

Oleh karena itu, fullday school memang tidak bisa diterapkan bagi semua sekolah atau semua kalangan. Sekolah dengan sumber pembiayaan yang besar yang bisa menerapkan fullday school. Fullday school bisa juga menjadi alternatif bagi orang tua / wali siswa yang memiliki kemampuan pembiayaan yang cukup.

Peribahasa Jawa berbunyi “Jer Basuki Mawa Bea”, bahwa sebuah keberhasilan itu memerlukan pengorbanan, khususnya pengorbanan harta/biaya. Jika dirasa fullday school memiliki program yang baik, maka perlu mendapat dukungan dana, baik dari pemerintah maupun orang tua / wali siswa. Namun, sekali lagi, fullday school adalah pilihan. 


6. Fullday School Adalah Ide Konyol
Sebagian orang menganggap wacana fullday school adalah ide yang konyol, yang tidak bisa diterapkan, sebuah gagasan yang mengada-ada. Padahal, fullday school sudah sudah diterapkan beberapa sekolah.

Sebuah gagasan, pasti ada nilai positif dan negatifnya. Sebuah sistem yang sudah dijalankan pun ada kelebihan dan kelemahannya. Akan menjadi tidak proporsional jika kita hanya memandang salah satunya. Memandang keunggulannya saja sehingga hanya menghasilkan pujian tinggi. Atau sebaliknya, melihat kelemahannya saja sehingga terlihat sangat buruk.

Pihak-pihak yang berkompeten hendaknya mengkaji permasalahan fullday school secara mendalam dan saksama.

 

---
Demikian beberapa prasangka, permasalahan, dan solusi terkait sistem pendidikan fullday school. Tulisan di atas tentu mengandung banyak subyektifitas karena tak lepas dari latar belakang dan wawasan terbatas yang dimiliki oleh penulis.


***
Sukoharjo, 27 Agustus 2016


Wednesday, August 24, 2016

Buku Pelajaran yang Panjang Umur

sumber gambar: pedomanilmu.com
Seorang kawan dunia maya yang sudah tinggal beberapa tahun di Norwegia mengunggah sebuah foto buku pelajaran anaknya. Ia menulis bahwa buku tersebut merupakan pinjaman dari sekolah. Anaknya baru saja memasuki tahun pelajaran baru sehingga ia membawa buku-buku diktat pinjaman dari sekolah yang merupakan buku bekas yang pernah digunakan oleh kakak kelasnya. Buku-buku pinjaman tersebut ada yang sudah dipakai selama tujuh tahun, sebagian besar yang lain sudah dipakai minimal dua tahun.

Itulah uniknya sistem pendidikan di sana. Ada buku yang sudah digunakan selama tujuh tahun, tapi masih bisa dipakai hingga sekarang. Orang-orang di negeri kita menyebutnya dengan buku lungsuran. Buku lungsuran ini di beberapa perpustakaan sekolah memang ada. Tapi, sepertinya buku tersebut jarang disentuh dan dibaca siswa. Para siswa sekarang tentunya lebih suka buku yang baru, yang masih bersegel. Kalaupun lungsuran, jarang yang usianya lebih dari tiga tahun.

Saya bertanya-tanya: apa kabar buku-buku pelajaran yang dulu pernah saya pelajari di SD, SMP, atau SMA? Apakah buku-buku tersebut masih berujud? Ataukah sudah bermetamorfosis menjadi bungkus tempe? Jika masih ada, masihkah bisa dibaca dan dipelajari oleh siswa masa sekarang?

Bagi sebagian --besar-- orang, buku pelajaran adalah buku kenangan. Mungkin kita pernah berbenah rumah, lalu menemukan buku pelajaran yang sudah usang. Kita pun terbawa kenangan oleh buku tersebut. Kenangan masa kecil dan remaja. Hanya itulah manfaat dari buku pelajaran: sebagai kendaraan pembawa kenangan.

Apakah materi buku tersebut masih berguna dan bisa gali pengetahuannya pada masa sekarang? Mungkin kebanyakan kita malah menertawakan diri sendiri sambil berkata: mengapa saya dulu tidak bisa memahami materi semudah ini? Atau mengapa saya dulu mempelajari hal semacam ini?

Jika buku tersebut diberikan kepada anak yang bersekolah hari ini, apakah si anak mau menerima? Saya kira tidak mau. Buku itu tak berguna bagi mereka. Selain sudah usang, materi pelajaran yang diajarkan di sekolah sudah berbeda, sedikit ataupun banyak.

Apalagi dengan bergantinya kurikulum sudah pasti berganti buku yang dipakai. Akibatnya, buku pelajaran yang dipakai takbisa berumur panjang. Setidaknya paling lama lima tahun sudah tak bersesuai dengan kurikulum. Jika ada buku pelajaran berusia lima tahun, itu sudah hebat.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang manajer sebuah penerbitan besar yang mencetak buku-buku pelajaran untuk sekolah. Dulu, saat ramai-ramai penyusunan BSE (Buku Sekolah Elektronik) yang kemudian menjadi buku pegangan siswa untuk belajar di sekolah, manajer tersebut mengatakan bahwa ia mengalami kebimbangan: apakah mencetak buku pelajaran seperti tahun-tahun sebelumnya dengan risiko penjualan akan menurun, ataukah mengikuti tender untuk mendapatkan hak cetak buku-buku BSE dengan keuntungan yang takbanyak --karena pemerintah sudah menetapkan harga jual tertinggi untuk buku-buku BSE.

Pun dengan kurikulum yang berganti, struktur dan materi buku pelajaran pun berganti. Penerbitan-penerbitan menjadi bimbang kembali. Ada sekolah yang masih menggunakan kurikulum yang lama, ada sekolah yang sudah menerapkan kurikulum yang baru. Penerbit pun harus mencetak dua versi buku untuk dua kurikulum yang berbeda. Imbasnya tentu saja pada peningkatan biaya produksi.

Pemerintah juga mengeluarkan biaya yang besar untuk menyediakan buku pelajaran  baru yang sesuai dengan kurikulum terbaru. Pemerintah melakukan penjaringan ataupun sayembara untuk pengadaan buku teks, melaksanakan diklat penyusunan buku teks, dan mengadakan tender untuk pencetakan buku tersebut –yang tentunya berbiaya besar



Saya mengenal seorang guru yang mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk menyusun buku teks. Buku teks tersebut disusun berdasarkan kurikulum 2013. Guru tersebut telah mengikuti beberapa pelatihan penyusunan buku teks. Buku teks yang disusunnya pun telah jadi. Kemudian, ada rencana penyempurnaan kurikulum. Konsekuensinya, buku teks harus disusun lagi sesuai struktur kurikulum yang baru. Guru tersebut mengatakan bahwa buku yang disusunnya tersebut mungkin hanya digunakan 1 atau 2 tahun saja. Setelah penyempurnaan kurikulum, kemungkinan besar akan disusun buku teks yang baru.


Begitulah sistem pendidikan di Indonesia. Buku pelajaran fungsinya hanya beberapa tahun saja. Lebih dari tiga tahun sudah tak ada yang mau menggunakannya. Mereka maunya yang terbaru, yang sesuai dengan kurikulum terbaru.

Pertanyaannya ialah mengapa tidak menyusun buku pelajaran yang berumur panjang? Buku pelajaran –yang bahkan-- bisa diwariskan seorang ibu kepada anaknya. Buku pelajaran yang tetap bergeming tak terusik oleh pergantian kurikulum. Buku pelajaran yang masih bisa kita baca untuk masa yang lama.

Mungkin buku seperti itu berbentuk semacam ensiklopedia. Kita tahu bahwa buku ensiklopedia adalah buku yang berumur panjang. Buku ensiklopedia memuat pengetahuan dan wawasan yang masih bisa kita bacai meski sudah berusia tahunan.

Buku ensiklopedia juga bisa menjadi koleksi yang berharga. Buku ensiklopedia tentu dicetak dengan kualitas yang baik dan sampul hardcover. Harapannya, buku pelajaran tidak sedakar hanya menjadi buku kenangan setelah usianya di atas lima tahun. Orang tua yang memiliki empat anak, cukup membeli satu buku ensiklopedia untuk satu pelajaran yang bisa digunakan keempat anaknya secara berwarisan.

Dengan buku ensiklopedia, sekolah tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya banyak untuk berbelanja buku pelajaran setiap tahun. Sekolah tidak terlalu dipusingkan dengan pergantian menteri atau pergantian kurikulum yang mengharuskan pergantian buku teks.

Pertanyaan lanjutannya ialah bagaimana mengajarkan materi dalam buku ensiklopedia? Buku pelajaran selama ini kan disesuaikan dengan kurikulum yang memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar, soal-soal latihan, dan evaluasi akhir semester, termasuk prosedur cara mempelajarinya juga dimuat dalam buku tersebut. Kalau buku ensiklopedia yang isinya hanya pengetahuan tanpa soal-soal latihan, bagaimana mempelajarinya?

Itulah pertanyaan yang perlu pemikiran lebih mendalam untuk menjawabnya. Tapi saya yakin, pasti ada solusinya.


***
Sukoharjo, 24 Agustus 2016

Sunday, August 21, 2016

Membangun Kebersamaan Anak dan Orang Tua

Seminar Parenting "Tips & Trik Menjaga Quality Time Antara Orang Tua & Anak"

Seminar Parenting dengan tema “Tips & Trik Menjaga Quality Time Antara Orang Tua & Anak” menghadirkan pembicara dr. Marijati, seorang dokter yang juga pakar parenting. Sebagai seorang dokter yang berpraktik di sebuah klinik, dr. Marijati terkadang mendapat pasien seorang anak atau remaja. Apa yang beliau ceritakan tentang pasien remajanya tersebut sungguh membuat hati miris.

Ada seorang remaja --masih pelajar sekolah menengah-- dibawa ke klinik oleh orang tuanya setelah sebelumnya berobat di Puskesmas namun tak kunjung sembuh. Orang tuanya tidak tahu apa penyakit yang diderita anaknya tersebut. Setelah diperiksa secara saksama oleh dr. Marijati, hasilnya sungguh mengejutkan. Remaja tersebut ternyata tengah hamil.

Saat hasil pemeriksaan disampaikan, orang tua dari remaja tadi tidak percaya. Katanya, anak tersebut adalah anak baik, sering di rumah, tak pernah bermain keluar. Demikian kilah orang tua berusaha membenarkan rasa ketidakpercayaannya. Namun, faktanya remaja tersebut hamil.

Ada beberapa kisah serupa di atas --bahkan ada remaja yang melakukan aborsi sendiri-- yang disampaikan oleh dr. Marijati. Sebagai dokter yang terlibat langsung dengan masalah tersebut dan sebagai orang tua juga, dr. Marijati merasa miris dengan kenyataan bahwa banyak pelajar yang memiliki masalah akan tetapi orang tuanya tidak mengetahui. Orang tua mengetahui masalah anak setelah terlanjur mengalami kejadian fatal seperti di atas.

Seorang anak bisa saja terlihat baik-baik saja di rumah. Apalagi, jika orang tua memiliki kesibukan di luar sehingga waktu di rumah hanya sedikit. Dan waktu yang sedikit itu pun tidak digunakan sepenuhnya untuk berkomunikasi dengan anak. Orang tua tahunya anaknya selalu di rumah dan bersikap baik serta rajin belajar. Padahal, saat orang tuanya tidak ada di rumah, tak ada yang tahu apa yang diperbuat oleh si anak, atau si anak bermain ke mana dan bersama siapa.

dr. Marijati memberikan beberapa pertanyaan sebagai bahan introspeksi sebagai berikut.

  • Jam berapa Bapak/Ibu sampai di rumah?
  • Jam berapa anak sampai di rumah? 
  • Apakah ada waktu yang dialokasikan untuk bersama? Hari apa? 
  • Kegiatan apa yang biasa dilakukan? 
  • Adakah kesulitan untuk meluangkan waktu bersama? Bagaimana masalahnya?

Quality time (waktu yang berkualitas) itulah yang ditekankan oleh dr. Marijati. Waktu yang singkat di rumah, hendaknya digunakan sebaik-baiknya oleh orang tua untuk bersama anak. Kebersamaan ini pun tidak hanya sekadar bersama, tetapi kebersamaan yang berkualitas. Waktu yang sedikit yang dimiliki orang tua untuk berinteraksi dengan anak, hendaknya berkualitas.

Bagaimanakah waktu yang berkualitas itu? dr. Marijati memberikan beberapa tips untuk menjaga quality time antara orang tua dengan anak, di antaranya berikut ini.

1. Menyediakan hari khusus untuk bersama
Orang tua hendaknya menyediakan waktu khusus atau hari khusus bersama anak. Bisa akhir pekan, atau pada masa liburan. Jika untuk pekerjaan saja bisa dijadwal dan dilakukan setiap hari, tentu waktu untuk anak juga harus dijadwalkan.

2. Menentukan agenda utama
Kegiatan bersama anak perlu direncanakan dengan baik. Sebaiknya anak dilibatkan dalam musyawarah untuk menentukan kegiatan keluarga.

3. Memberi peran pada masing-masing anggota keluarga
Dengan memberikan peran (pembagian tugas) saat acara keluarga, anak akan merasa diperhatikan dan merasa penting di dalam keluarga. Misalnya dalam kegiatan piknik, anak bisa diberi tugas untuk menyiapkan bekal atau menyiapkan P3K.

4. Hindari konflik di waktu istimewa
Selama hampir sehari, anak belajar di sekolah, lalu bermain dengan teman-temannya. Ketika orang tua pulang kerja dan sampai di rumah, hendaknya menghindari konflik dengan anak. Misalnya, sang ayah pulang kerja mendapati anaknya langsung bertanya, “Sudah mengerjakan PR belum?” dengan muka datar. Seorang anak tentu merindukan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Wajah yang ceria dan sapaan yang hangat akan memberi pengaruh yang dalam kepada anak.

5. Banyak banyaklah mendengar tentang cerita anak anak
Seseorang biasanya akan bercerita kepada orang lain ketika menghadapi masalah. Seorang anak akan bercerita kepada temannya saat menghadapi masalah, baik masalah di sekolah maupun masalah di rumah. Di sinilah pentingnya peran orang tua, selain sebagai ayah-ibu juga sebagai teman. Jadikan anak sebagai teman sehingga anak akan mau bercerita kepada orang tua ketika ia tertimpa masalah. Seorang anak yang pendiam dan terlihat baik-baik saja, pasti juga memiliki masalah. Orang tua harus aktif berkomunikasi dengan anak agar orang tua bisa mengarahkan dan membimbing anak untuk menyelesaikan masalahnya.

 

Itulah beberapa tips untuk menjaga quality time antara orang tua dan anak. Lalu bagaimana peran guru (atau sekolah) dalam hal tersebut? Setiap guru dan sekolah tentu memiliki program masing-masing.

Saya sendiri terkadang berbincang-bincang dengan siswa untuk mengetahui bagaimana interaksi siswa dengan orang tuanya di rumah. Saya bertanya apa pekerjaan orang tua, pukul berapa orang tua pulang kerja, dll. Setelah liburan panjang, saya bertanya apa kegiatan bersama keluarga selama liburan?

Saya menyimpan beberapa foto tempat wisata yang pernah saya kunjungi. Terkadang beberapa siswa melihatnya, lalu mereka pun bertanya-tanya tentang obyek wisata tersebut. Setelah saya jelaskan, biasanya mereka tertarik dan mengajak untuk berlibur ke tempat wisata tersebut. Saya menanggapinya dengan antusias, tapi saya menyarankan mereka mengajak keluarganya. “Nanti pas liburan ajak bapak-ibu piknik ke sana,” begitu saran saya kepada mereka, boleh dibilang semacam provokasi agar mereka bisa berlibur bersama keluarga.

Saya pernah memberikan tugas kepada siswa yang melibatkan orang tua. Tugasnya sangat mudah: Bertanyalah kepada orang tua tentang hubungan antara pepohonan dan banjir.
Waktu itu materi yang dipelajari tentang berita dan laporan. Dan beberapa waktu sebelumnya beberapa wilayah di kabupaten memang dilanda banjir.

Saya meminta mereka menulis apapun jawaban orang tuanya. "Tulislah apapun jawaban dari orang tua kalian," kata saya waktu itu. "Kalau orang tua menjawab 'Tidak tahu', tulislah 'Tidak tahu',” demikian tekan saya pada mereka.

Dengan pertanyaan yang mudah tersebut, saya ingin para siswa berkomunikasi, bertanya, belajar bersama orang tua. Dengan pertanyaan tersebut, saya juga ingin mengetahui bagaimana tanggapan orang tua ketika anaknya bertanya terkait tugas sekolah.

Setelah tugas dikumpulkan, saya membaca beberapa hasil pekerjaan para siswa. Dan hasilnya sebagian besar siswa melaksanakan tugas dengan baik. Orang tua mereka memberikan jawaban dan dituliskan oleh mereka. Namun, ada beberapa tanggapan orang tua yang kurang diharapkan oleh mereka.

Saya bertanya bagaimana tanggapan orang tua kalian saat kalian bertanya? Pertanyaan itu saya ajukan kepada para siswa yang jawaban atas soal tugas tidak diberikan oleh orang tua atau jawabnnya seperti “Tidak tahu.” Anak-anak itu menjawab jujur.

Ada sang ayah yang ketika ditanya oleh anaknya, melemparkan pertanyaan tersebut kepada sang ibu. Atau melemparkannya kepada anak yang lebih besar. Ada orang tua ang ketika anaknya bertanya, dijawab bahwa ia sedang mengantuk dan si anak disuruh menulis (mengarang) jawaban sendiri.

Begitulah, kesibukan semakin padat dan waktu kebersamaan anak dengan orang tua semakin sedikit, namun sebagian orang tua belum bisa mengoptimalkan waktu yang sedikit itu untuk menciptakan kebersamaan yang berkualitas.


***
Sukoharjo, 22 Agustus 2016



Saturday, August 20, 2016

Membaca Buku 15 Menit Sebelum Pelajaran

Para siswi sedang khusyu membaca buku

Saya selalu bertanya kepada para siswa setelah mereka selesai mengerjakan Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional: soal apa yang sulit dikerjakan? Sebagian siswa mengeluhkan bahwa soal ujian Bahasa Indonesia terlalu banyak teksnya.

Dibandingkan pelajaran lain, soal Bahasa Indonesia memang yang paling tebal. Saya pernah menemukan soal ujian Bahasa Indonesia setebal 16 halaman. Butir soalnya memang didominasi oleh teks: kutipan berita, kutipan biografi, kutipan laporan, kutipan novel, kutipan cerpen, kutipan novel, puisi, dll.

Wajar menurut saya. Dan hal tersebut malah bagus. Pembelajaran Bahasa Indonesia memang diarahkan pada pembelajaran berbasis teks. Siswa dibiasakan untuk membaca teks secara langsung. Materi hafalan teori semisal kelas kata, pembentukan kata, pola kalimat tetap ada tetapi diintegrasikan dalam sebuah teks. Tujuannya memang bagus: agar siswa memiliki keterampilan membaca yang baik.

Kesulitan sebagian siswa dalam mengerjakan soal yang banyak teksnya tersebut membuat saya berpikir. Jika para siswa tidak terbiasa membaca, mereka tetap akan kesulitan memahami teks. Bahkan, tidak mungkin mereka akan merasa stres terlebih dahulu saat melihat soal yang berisi kutipan teks yang melimpah.

Saya pun mengambil sebuah hipotesis bahwa siswa perlu dibiasakan membaca teks agar pemahaman mereka terhadap teks bisa meningkat. Dengan demikian, soal ujian pun akan lebih mudah dikerjakan. Saya akan mengajak dan “memaksa” siswa untuk membaca.

Pada tahun pelajaran 2015/2016 lalu, saya pun menerapkan program “Membaca Buku 15 Menit Sebelum Pelajaran”. Saya memulainya dengan satu kelas terlebih dahulu. Saat itu saya masuk kelas dengan membawa sebuah boxset buku-buku karya Roald Dahl. Para siswa tampak tertarik dengan apa yang saya bawa.

Saya menjelaskan program “Membaca Buku 15 Menit Sebelum Pelajaran” yang segera diikuti sorak kegembiraan oleh mereka. Mereka bersorak mungkin karena mereka bisa membaca buku sebelum pelajaran atau mungkin juga karena bisa bersantai sejenak sebelum pelajaran. Mulai saat itu saya meminta mereka membawa bahan bacaan (nonpelajaran) setiap pelajaran Bahasa Indonesia. Bisa majalah, koran, novel, cerpen, puisi, ensiklopedia, pengetahuan umum, dll.

Progam saya tersebut memang seiring langkah dengan program Penumbuhan Budi Pekerti yang termuat dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yang ditandatangi oleh Mendikbud saat itu, Anis Baswedan. Pada bagian lampiran tentang kegiatan gerakan Penumbuhan Budi Pekerti disebutkan salah satunya ialah mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh dengan kegiatan wajib “menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari)”.

Saya menduga tidak banyak sekolah yang sudah menerapkan apa yang digariskan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tersebut, khususnya tentang kegiatan membaca buku 15 menit sebelum hari pembelajaran. Termasuk sekolah tempat saya mengajar, tidak ada program membaca buku di pagi hari karena setiap pagi di sekolah saya sudah dijalankan program yang sangat bagus, yaitu membaca dan menghafal Al-Quran.

Oleh karena itu, saya mencoba mengajak dan “memaksa” siswa untuk membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran Bahasa Indonesia. Jika dalam satu minggu ada dua kali pertemuan berarti siswa minimal membaca buku selama 15 menit selama dua kali dalam seminggu. Hal tersebut bagi siswa yang belum terbiasa membaca atau bahkan merasa “terpaksa” membaca. Bagi siswa yang sudah terbiasa membaca tentu mereka memiliki waktu luang yang bisa digunakan untuk membaca buku.

Pada tahun pelajaran 2016/2017 ini, saya mengajar Bahasa Indonesia di tiga kelas. Saya menerapkan program “Membaca Buku 15 Menit Sebelum Pelajaran” pada satu kelas. Dalam waktu dekat akan saya terapkan lagi pada satu kelas. Sedang, satu kelas sisanya mungkin baru tahun depan. Saya memang perlahan-lahan menerapkannya, mengingat kondisi dan karakteristik para siswa di setiap kelas.

Harapan saya, agar aktivitas membaca menjadi aktivitas harian siswa dan buku menjadi teman setia sepanjang waktu. Dengan kebiasaan membaca mereka akan mendapatkan pengetahuan yang melimpah yang sangat berguna bagi masa depan mereka, bahkan bisa menjadikan mereka tokoh pembaru di masa yang akan datang. Sebagaimana diungkapkan oleh Antoni Ludfi Arifin dalam bukunya Be A Reader bahwa kegemaran membaca (reading interest) akan menjadi sebuah kebiasaan membaca (reading habits). Kebiasaan membaca akan menciptakan karakter yang haus ilmu atau bacaan (reading character) sehingga mampu mengubah peradaban, yaitu budaya masyarakat yang suka membaca (reading culture).

 

***
Sukoharjo, 21 Agustus 2016



Friday, August 19, 2016

Anak Adalah Ahli Copy-Paste

Sumber: the-pics.com

Pelajaran Bahasa Indonesia siang itu saya akhiri dengan sebuah permainan ringan yaitu lompat-lompat. Setelah itu saya menutup pelajaran dengan mengucap salam yang segera dijawab serentak oleh para siswa. Saya berjalan hendak keluar kelas. Sebelum sempat melewati pintu, beberapa siswa mencegat saya dengan sepotong pinta. Mereka meminta saya memotret mereka.

Karena luluh dengan pohonan dan rengekan mereka, saya pun mengiyakan yang segera disambut sorak kegembiraan oleh mereka. Lalu mereka menempatkan diri di dekat dinding kelas. Saya bersiap-siap memotret. Mereka bergaya. Gaya yang pernah saya lihat pada sebuah foto yang pernah tersebar di dunia dalam jaringan.

Ada empat siswi yang berada dalam frame kamera. Dua di tengah, berdiri depan belakang dengan sedikit menekuk lutut. Dua yang lain berdiri di sebelah kanan dan kiri dengan jarak sekita dua langkah dari yang tengah. Yang tengah mengacungkan lengan ke depan dengan tangan tertutup, lalu kepada di benamkan di balik kedua lengannya. Yang di kanan dan kiri, kepala menunduk, ditutup satu lengan yang ditekuk di depan wajah, lengan satunya diacungkan serong ke atas –semacam pose pahlawan bertopeng, hanya saja wajahnya tertutup lengan. Begitu gaya berfoto mereka.

Cekrik. Suara potret yang setelahnya disambut sorak oleh mereka. Saya heran, mengapa mereka senang sekali bersorak.

Saya bukan termasuk orang yang pandai bergaya di depan kamera sehingga pose foto saya cenderung standar, biasa saja, dan membosankan. Sedang, anak-anak itu –yang tadi berpose seperti gaya pahlawan bertopeng—suka-suka saja berpose di depan kamera.

Yang jadi, pertanyaan saya: dari mana mereka mendapat “wangsit” untuk berpose seperti itu. Tentu tidak ujug-ujug, secara tiba-tiba mereka berkreasi seperti itu. Saya menduga mereka pernah melihat sebuah foto yang memperlihatkan gaya serupa. Gaya berfoto yang terlihat bagus di mata mereka. Lalu, mereka pun menirunya.

Begitulah, anak memang mudah terpengaruh hal-hal yang dilihat dan didengarnya untuk kemudian ditirunya. Anak adalah seorang ahli copy-paste. Gaya berfoto, gaya rambut dan berpakaian sebagai contohnya.

Dalam keluarga, tingkah laku orang tuanya yang setiap hari dilihat, akan ditiru olehnya. Begitu juga cara bertutur dan pilihan kata. Orang tua yang suka minum air dengan duduk, akan ditiru oleh anaknya. Orang tua yang bertutur dengan kata-kata yang baik, juga akan ditiru oleh anaknya.

Masa remaja ialah masa meniru. Sebagian mengatakan sebagai masa mencari jati diri. Ia suka meniru sesuatu untuk menemukan jati dirinya. Ia meniru untuk menuju jati dirinya.

Tak salah pula, jika televisi dikatakan sebagai guru bagi anak yang sering menontonnya. Generasi ‘90-an ketika kecil bakal menyanyikan lagu “Pada Hari Minggu”, “Menanam Jagung”, “Bintang Kecil” dan lagu-lagu anak lainnya. Sedang, generasi sekarang sudah fasih menyanyikan lagu dengan lirik orang dewasa yang sebagiannya menjurus ke hal yang tabu. Mereka meniru dari televisi, dari panggung-panggung hiburan, dari Youtube.

Orang tua mesti lebih ekstra mengawasi dan membimbing anak yang memasuki masa remaja. Salah satu sifat remaja yaitu memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka suka melihat dan mencoba hal-hal yang baru. Hal-hal baru yang dicoba dan ditirunya itu akan memengaruhi kepribadiannya.

Anak yang tinggal dalam keluarga dan lingkungan yang baik akan meniru perbuatan-perbuatan baik yang dilihatnya setiap hari. Sebaliknya, keluarga dan lingkungan yang mencontohkan hal yang tak baik, akan dengan mudah ditirukan oleh anak.

Oleh karena itu, kita perlu memberi contoh yang baik bagi anak. Agar apa yang dilihat dan didengar oleh anak ialah hal-hal yang baik. Jika setiap hari anak melihat dan mendengar hal-hal yang baik, ia akan berusaha untuk menirunya. Itulah sesungguhnya proses pembelajaran yang dilakukan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari.


***
Sukoharjo, 19 Agustus 2016



Wednesday, August 17, 2016

Kemerdekaan bagi Anak Kita

Ilustrasi gambar: www.sorotklaten.co

Pada HUT Republik Indonesia ke-71 ini, dilaksanakan upacara pengibaran bendera di sekolah. Seusai upacara bendera, dilakukan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba 17-an yang dilaksanakan pada hari sebelumnya. Pada cabang pertandingan sepakbola, diumumkan pemenang dan para top scorer.

Salah satu top scorer yang mendapat hadiah tersebut –kebetulan—termasuk siswa yang kurang pandai dalam akademis. Semua orang mengetahui keterbatasan kemampuan akademisnya, termasuk orang tuanya. Namun, prestasinya dalam bidang olahraga ini menjadi bukti bahwa ia memiliki kecerdasan tersendiri.

Saya hubungkan kisah di atas dengan salah satu film India yang berkesan bagi saya yaitu “3 Idiot”. Film yang dirilis akhir tahun 2009 ini merupakan salah satu film tersukses di India. Film yang dibintangi oleh Aamir Khan ini banyak menampilkan adegan yang menggambarkan “pemberontakan” terhadap sistem pendidikan yang kaku yang telah berjalan selama ini. Pendidikan yang memandang anak sebagai sebuah bahan baku untuk dibentuk menjadi sebuah produk oleh pabrik yang bernama sekolah dan perguruan tinggi. Di akhir film itu, diceritakan salah satu tokoh akhirnya direstui oleh orang tuanya untuk menjadi fotografer alam liar –sesuai cita-citanya, padahal sebelumnya sang orang tua memaksanya agar menjadi seorang insinyur.

Itulah salah satu makna kemerdekaan bagi anak. Selama ini, kita memahami teori bahwa setiap anak terlahir unik. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita juga cenderung menyetujui pendapat bahwa setidaknya ada delapan jenis kecerdasan yang menjadi potensi anak sebagaimana diungkapkan oleh Howard Gardner.

Dengan keunikan potensi kecerdasan tersebut, tentu perlakuan terhadap masing-masing anak berbeda-beda. Misalnya, siswa yang mendapat hadiah top scorer tadi, potensinya ialah dalam kinesik (olah tubuh). Tentu sangat sulit baginya mengejar prestasi teman-temannya yang pandai dalam logika ataupun bahasa. Begitu juga sebaliknya, teman-temannya belum tentu bisa mencapai prestasi dalam bidang olahraga sebagai yang diraih olehnya.

Namun, masih ada yang menganggap bahwa kecerdasan itu hanya satu atau dua jenisnya. Anak yang cerdas ialah anak yang pandai berhitung dan menghafal rumus. Anak-anak dimasukkan ke dalam bimbingan belajar mata pelajaran yang dianggap penting tersebut. Potensi, minat, dan bakat yang dimiliki anak dikesampingkan. Mungkin karena potensi tersebut tidak bisa menghasilkan nilai-nilai apik di rapor. Nilai rapor menjadi tolok ukur kecerdasan.

Dengan demikian, dengan ataupun tanpa sadar, terkadang tindakan yang diambil orang tua menjadi semacam “penjajahan” terhadap kebebasan anak. Ada anak yang benar-benar pusing dengan pelajaran Fisika, misalnya, dipaksa oleh orang tuanya untuk mengikuti les. Tapi, bakat musiknya yang menonjol diabaikan. Ada anak yang selalu lupa rumus Matematika, dipaksa oleh orang tuanya untuk mengikuti les. Namun, keterampilannya berbahasa Inggris tak dioptimalkan.

Anak dianggap sebagai “bahan mentah” yang harus dibentuk menjadi “produk yang cerdas”. Tentu cerdas yang dimaksud ialah bermakna sempit yang dibatasi oleh angka-angka di rapor. Anak dalam kondisi “terjajah”.

Ia tidak merdeka untuk mempelajari apa yang disukainya. Ia tidak merdeka untuk melakukan kegemarannya. Ia tidak merdeka untuk menentukan jalan hidupnya. Yang kita inginkan ialah kemerdekaan sepenuhnya. Kemerdekaan yang bisa dicecap oleh anak-anak kita. Kemerdekaan yang tidak hanya disimbolkan oleh kibaran merah putih atau hadiah yang dipajang di atas pinang, tetapi kemerdekaan yang bisa dirasai oleh jiwa, hati, dan pikiran.

Kita --Orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah-- mestinya mendukung anak-anak dalam menikmati kemerdekaannya. Kita tidak mengambil kemerdekaan tersebut, tapi kita membimbing, mengarahkan, membina, mendidik agar anak-anak kita menggapai apa yang dicita-citakannya.

***

Sukoharjo, 17 Agustus 2016




Dilarang Membaca Novel Saat Belajar

Ilustrasi gambar: www.desainrumahnya.com

Saya bukan orang yang benci dengan pelajaran eksakta semacam Matematika dan Fisika. Nilai pelajaran Matematika saya rata-rata bagus sejak SD, baik nilai ulangan harian maupun nilai ujian akhir. Nilai Ujian Nasional saya pun patut dibanggakan. Nilai sembilan pada UN SMP dan nilai sempurna pada UN SMA. Kalau Fisika, kadang bagus, kadang lumayan bagus. Saya akui, dengan pelajaran Fisika saya memang tidak terlalu akrab. Bahkan, saat SMP dan SMA saya kadang tidak mengikuti pelajaran Fisika tanpa izin. Jika takdir mengantarkan saya menjadi guru Bahasa Indonesia –dan bukan guru Matematika—itu tidak terlalu saya risaukan. Saya berusaha menikmati apa peran saya.

Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah terkadang terasa “dipinggirkan”. Materinya dianggap mudah hingga tak ada orang tua yang memasukkan pelajaran Bahasa Indonesia dalam daftar bimbingan belajarnya. Matematika, Fisika, atau Bahasa Inggris lebih penting untuk diperhatikan. Ada satu pengalaman yang menurut saya termasuk hal yang menggelikan sekaligus memprihatinkan. Salah satu materi Bahasa Indonesia di kelas delapan yaitu membuat sinopsis novel remaja. Tentu saja, materi tersebut saya ajarkan di kelas.

Setelah menjelaskan seluk beluk sinopsis novel remaja, saya memberikan tugas kepada siswa pada akhir pembelajaran. Tugas itu ialah membuat sinopsis novel remaja yang pernah dibaca. Untuk membuat sinopsis novel, tentu saja mereka –para siswa—harus membaca novelnya sampai selesai. Saya memberi waktu kepada mereka selama dua minggu untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Waktu selama dua minggu itu relatif --lama ataukah singkat—tergantung mereka memandangnya. Bagi siswa yang sudah terbiasa membaca novel, waktu dua minggu tersebut termasuk longgar untuk membuat sinopsis. Tapi, bagi yang belum terbiasa –atau yang belum pernah membaca satu novel pun—waktu dua minggu terasa sangat singkat.

Saya mengetahui secara umum bahwa setidaknya sepertiga siswa di kelas sudah terbiasa membaca novel. Sepertiganya sudah pernah membaca novel, tapi hanya terbilang satu sampai tiga judul. Terhadap mereka, saya yakin tugas ini tidak terlalu sulit dikerjakan. Sepertiga sisanya belum pernah membaca novel, paling banter membaca cerpen, komik, dongeng, atau cerita anak. Kelompok terakhir inilah yang kiranya perlu saya perhatikan secara khusus. Saya menyarankan bagi yang belum terbisa membaca agar membaca novel yang tidak terbal. Saya meminta mereka mencari novel di perpustakaan dan pinjam kepada teman, selain tentu saja saya membawakan beberapa novel tipis untuk mereka pinjam.

Setelah satu minggu berjalan sejak tugas membuat sinopsis itu saya berikan, saya mengecek hasil aktivitas membaca para siswa. Lebih dari setengah dari jumlah siswa di kelas sudah membaca satu judul novel. Sebagian malah sudah mulai membuat sinopsis. Setengah sisanya belum menyelesaikan. Ada yang baru sampai bab-bab awal, ada yang sudah hampir di bab-bab akhir.

Saya menanyakan kepada para siswa: bagaimana tanggapan orang tua saat kalian membaca novel?

Ada yang menjawab, “Tidak boleh membaca, jadinya membaca novel hanya hari Sabtu dan Minggu.” Mereka boleh membaca pada hari Sabtu dan Minggu karena merupakan libur pekanan. Hari Sabtu masuk untuk kegiatan ekstrakurikuler saja.

“Lebih penting Matematika,” tambah yang lain. Di sini, terlihatlah dengan jelas kedudukan pelajaran Bahasa Indonesia dibandingkan pelajaran lain di mata sebagian orang tua.

“Disuruh belajar,” kata siswa lainnya. Mendengar jawaban itu, saya merasa geli. Jadi, dalam pandangann sebagian orang, yang namanya belajar yaitu mengotak-atik angka atau menulis sesuatu di buku tulis. Aktivitas membaca cerita tidak dianggap sebagai aktivitas membaca.

Pandangan tersebut terasa menggelikan sekaligus memprihatinkan menurut saya. Jadi, membaca novel itu tidak dianggap sebagai aktivitas belajar.

“Kalau kalian belajar Matematika, yang dipelajari ya angka-angka. Kalau kalian belajar Bahasa Indonesia, yang dipelajari ya kata-kata,” demikian kata saya kepada mereka sambil menengadahkan harap agar mereka lebih sering membaca buku.

Pandangan seperti ini –bahwa membaca buku cerita tidak dianggap belajar-- masih dianut sebagian orang tua –atau bahkan malah guru? Seorang teman bercerita bahwa ada sebuah sekolah yang di perpustakaannya tidak ada novel dan para siswanya tidak diperbolehkan membaca novel. Novel dianggap sebagai barang hiburan yang membuat anak menjadi malas. Lebih banyak keburukan dalam membaca novel daripada kebaikannya.

Menghadapi persoalan tersebut, saya pun tak bisa berbuat banyak. Yang bisa saya lakukan ialah menularkan kecintaan membaca kepada para siswa saya. Saya memberikan contoh dengan membaca buku saat waktu luang di sekolah dan membawa buku-buku bacaan ke sekolah –kadang juga saya bawa ke kelas.

***
Sukoharjo, 16 Agustus 2016



Tulisan Terbaru

Recent Posts Widget