Catatan Kecil

Catatan pengalaman pribadi. Ditulis sebagai sebuah hiburan dan sebagai sebuah kenangan.

Cerita Pendek

Cerita pendek yang ditulis sebagai pengungkapan perasaan, pikiran, dan pandangan.

Puisi

Ekspresi diri saat bahagia, suka, riang, ataupun saat sedih, duka, galau, nestapa.

Faksimili

Kisah fiksi dan/atau fakta singkat yang bisa menjadi sebuah hiburan atau renungan.

Jelajah

Catatan perjalanan, menjelajah gunung, bukit, sungai, pantai, telaga.

Sunday, January 1, 2017

Buku-buku yang Saya Baca Selama Tahun 2016


Tahun 2016 berlalu. Meninggalkan serpihan kenangan-kenangan. Meninggalkan pula buku-buku yang telah saya baca di balik kenangan. Meski saya tahu isi buku-buku itu tak sepenuhnya hilang lenyap. Ia mengendap di dalam pikiran, di dalam hati. Mewarnai karakter diri saya, sedikit ataupun banyak.

Sayangnya, saya tak memiliki daftar buku-buku yang telah saya baca. Mungkin mulai tahun ini saya akan membuat catatan buku apa saja yang sudah aku baca. Syukur-syukur bisa menuliskan sedikit catatan atau resensi tentang buku-buku itu.

Dengan mengandalkan sekilas ingatan, saya tuliskan beberapa buku yang telah saya baca selama tahun 2016.


Buku Nonfiksi
Buku nonfiksi yang telah saya baca tak banyak. Buku nonfiksi yang telah saya baca di antaranya buku-buku agama, buku how to, buku motivasi, buku biografi, dan buku sejarah. Koleksi buku agama saya cukup banyak. Jumlahnya bersaing dengan buku fiksi. Buku-buku agama saya rata-rata tebal dan hardcover. Saya jarang menuntaskannya hingga kandas. Seringnya membaca bagian-bagian yang saya perlukan saja. Misalnya ketika menghadapi sebuah permasalahan agama dan membutuhkan jawaban. Atau ketika akan menulis sebuah artikel dan membutuhkan rujukan.

Saya membaca sekilas Riyadhus Shalihin dan Hadits Arbain karya Imam Nawawi, Minhajul Muslim karya Al-Jazairi, Mukhtashar Fikih karya Al-Fauzan, Tazkiyatun Nafs karya Ahmad Farid, Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi, La Tahzan karya Al-Qarni, serta buku-buku lainnya. 



Saya suka dengan buku La Tahzan dan Shaidul Khatir. Keduanya enak dibaca kapan pun. Khususnya saat merasa tertekan, tertimpa masalah, dan merasa kesepian. Sayangnya, keduanya tebal sehingga terlalu merepotkan jika dibawa ke mana-mana.

Buku How to yang saya baca yaitu Menulis Novel itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto dan Aku Bisa Nulis Fiksi karya Joni Ariandinata. Menulis Novel itu Gampang sangat bagus. Tips-tips menulis novel disampaikan dalam bentuk dialog yang terkadang lucu dan konyol. Aku Bisa Nulis Fiksi punya kelebihan dalam analisis unsur fiksinya dengan disertai cerpen-cerpennya sehingga buku ini memuat banyak cerpen. Selain belajar menulis, dengan membaca buku ini sekaligus bisa membaca cerpen.







Buku Fiksi
Buku fiksi yang saya baca selama tahun 2016 cukup banyak. Terbagi dalam novel, cerpen, puisi, dan naskah drama.

Untuk novel, saya terkesan dengan tiga novel karya Chetan Bhagat: Idiots, 2 States, dan Revolution 2020. Membaca ketiga buku itu menjadi hiburan tersendiri. Kisah Idiots sangat menghibur dengan adegan dan dialog konyol mahasiswa perguruan tinggi favorit di India,namun sarat dengan kritik sistem pendidikan. Sangat menginspirasi. Novel ini sudah difilmkan dengan bintangnya Amir Khan dan sukses merajai Bolywood. 


 Novel 2 States tak kalah seru dan menghibur. Jika Idiots lebih banyak unsur konyol dan kritik sistem pendidikannya, 2 States lebih menonjol dalam keragaman budaya di India dengan cerita yang tak kalah konyol. Novel 2 States menceritakan dua kekasih yang ingin menikah tetapi terhalang budaya dan tradisi kedua keluarga yang berbeda. Isinya seru, lucu, dan penuh haru. Saya sangat suka dengan novel ini.
 


Novel Revolution 2020 lebih serius. Menceritakan bagaimana dua orang sahabat yang berlomba untuk memperbaiki negerinya yang digerogoti oleh korupsi. Namun, keduanya menempuh jalur yang berbeda dan harus berhadap-hadapan. Keduanya juga berlomba mendapatkan cinta gadis yang sama. Kisah cintanya bukan kisah cinta cengeng, tapi kisah cinta yang dewasa, penuh pertimbangan. Kisah cinta yang gelap. Bagian akhir novel itu sempat membuat mata saya berkaca-kaca. Duh, kasihan benar tokoh utamanya.

Novel lain yang saya baca berasal dari penulis India juga, Indu Sundaresan, yaitu Mehrunnisa, Nur Jahan, dan Jahanara. Ketiganya berlatar Kesultanan Mughal, India. Mehrunnisa adalah gadis yang mengejar cinta seorang pangeran, Salim. Salim, yang kelak menjadi Sultan Mughal dengan gelar Jahangir, juga mendambakan Mehrunnisa. Tapi, cinta saja tak cukup untuk menyatukan keduanya. Sebagai seorang pangeran, Salim harus menikah dengan seorang putri, dan Mehrunnisa yang hanya putri bangsawan harus mengiyakan saat dijodohkan. Pada akhirnya Mehrunnisa dan Salim pun menikah. Dan proses menuju ke sana sangat menarik untuk dinikmati.

Nur Jahan adalah gelar Mehrunnisa setelah menjadi istri kesayangan Sultan Jahangir. Dengan kasih sayang suaminya dan kecerdikannya sendiri, Mehrunnisa sedikit demi sedikit menghimpun kekuasaan di kesultanan. Dalam sejarah, ia adalah wanita di Mughal yang memiliki stempel atas namanya dan memiliki koin yang dicetak atas namanya. Novel Nur Jahan menyoroti perjalanan Mehrunnisa menapaki tangga kekuasaan kesultanan dengan didampingi suaminya sebagai Sultan.

Jahanara ialah putri sulung Sultan Shah Jahan. Shah Jahan adalah putra Jahangir. Shah Jahan memiliki istri yang sangat disayanginya, Arjumand Banu. Arjumand Banu meninggal setelah melahirkan anak ke-14. Karena kesedihan ditinggal istrinya, Sultan Shah Jahan menjadi terpuruk. Kesehatannya terganggu sehingga roda kesultanan terganggu. Di sinilah peran Jahanara. Di balik tembok harem, ia menjalankan roda kesultanan hingga ayahnya sehat seperti sedia kala. Oya, Arjumand Banu adalah wanita yang Taj Mahal dibangun untuknya oleh Shah Jahan.

Mehrunnisa, Nur Jahan, dan Jahanara memberi saya pengetahuan yang banyak tentang kesultanan Mughal di India. Penggambaran settingnya sangat detail. Seolah-olah saya melihat sendiri istana megah milik sang sultan, rumah-rumah mewah para istri sultan, lorong-lorong di dalam harem. Setelah membaca ketiga novel ini saya menjadi semakin tertarik untuk membaca tentang sejarah Mughal, baik sebelum maupun sesudahnya. Gengis Khan dan Timur Leng menjadi dua tokoh yang tak bisa lepas dari berdirinya kesultanan Mughal. Saya memiliki 2 jilid novel Gengis Khan dan 1 buku biografi Timur Leng. Buku sejarah Mughal yang ditulis ulama muslim, Ash-Shalabi menjadi salah satu buku yang semoga segera bisa saya miliki.





Novel Indonesia yang berkesan mungkin Kambing dan Hujan-nya Mahfud Ikhwan. Saya jarang menemukan novel Indonesia yang menarik. Namun, Kambing dan Hujan benar-benar menarik. Kisah cinta dua insan di sebuah kampung yang terhalang oleh perseteruan dua ormas Islam terbesar di negeri ini.

Novel-novel lain saya agak lupa. Mungkin ada beberapa yang sudah saya baca, atau saya membacanya tapi belum selesai. Satu novel yang saya baca selama setahun lebih tapi belum selesai adalah Musashi. Saya membacanya hanya ketika waktu luang saja sehingga sampai sekarang saya belum menamatkan novel setebal seribu halaman lebih itu. Padahal, itu novel yang sangat bagus.

Kumpulan cerpen yang saya baca selama tahun 2016 di antaranya karya Seno Gumira Ajidarma, Hamsad Rangkuti, Gunawan Tri Atmojo, Sungging Raga dan lainnya yang saya tak ingat lagi. Karya Seno (Saksi Mata dan Dunia Sukab) dan Hamsad (Seorang Wanita Muda di Hotel Mewah) sangat menarik alurnya, pesannya, dan kuatnya karakter. Karya Gunawan, sungguh lucu dan menghibur, saya suka kumcer-nya yang berjudul Tuhan Tidak Makan Ikan. Cerpen-cerpen Sungging Raga dalam Reruntuhan Musim Dingin yang kebanyakan bertema cinta juga sangat menarik.




Untuk puisi, saya membeli cukup banyak buku puisi tahun ini. Mungkin ada sepuluh lebih. Yang berkesan tentu bukunya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni. Saya sering mendengarkan musikalisasi puisinya dan baru pada tahun 2016 bisa membeli bukunya. Buku puisinya Tere Liye juga saya baca. Bukunya Andi Gunawan yang berjudul Hap! juga sangat menarik. Ada satu puisinya yang saya sangat suka berjudul Hap!
Kaupatahkan hatiku berkali-kali.
Dan aku tak mengapa.
Hatiku ekor cicak



Itulah beberapa buku yang telah saya baca selama tahun 2016. Ada beberapa buku lain yang sayangnya saya tak ingat judulnya. Mulai tahun 2017 saya akan mencatat buku-buku yang sudah saya baca. Saya juga akan berusaha untuk menuntaskan buku sampai selesai karena banyak buku yang saya baca pada tahun 2016 tapi tidak sampai selesai.








Friday, December 30, 2016

7 Alasan Mengapa Pembina Pramuka adalah Pendamping Idaman buat Kamu

Kemah di Buper Segorogunung, Karanganyar
Selamat pagi, Dek.

Setiap orang pasti ingin mendapatkan pendamping hidup yang diidamkan dan diharapkan. Yang setia dan penyayang, bertanggung jawab dan dapat diandalkan, jujur dan pengertian. Sebenarnya, kriteria pendamping hidup yang demikian ada pada seorang Pembina Pramuka, lho, Dek.

Pada kesempatan kali ini, akan Kakak sampaikan 7 alasan mengapa Pembina Pramuka adalah pendamping hidup idaman buat Adek. Simak baik-baik, ya.

1. Terbiasa Membina Pramuka, Jadi Lebih Siap Membina Rumah Tangga
Menjadi Pembina Pramuka itu tidak mudah, lho. Membina Pramuka tidak hanya mengajari tepuk-tepuk dan nyanyi-nyanyi. Ada banyak keterampilan yang harus dikuasai oleh seseorang sebelum menjadi Pembina Pramuka.

Seorang Pembina Pramuka setidaknya telah mengikuti kursus. Iya, untuk menjadi Pembina ada kursusnya. Ada dua tingkatan dalam kursus pembina, yaitu KMD dan KML. KMD merupakan singkatan dari Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar. KML merupakan singkatan dari Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan. Kursus itu bertahap. Seseorang tidak boleh mengikuti KML sebelum menempuh KMD.

Kursus biasanya dilaksanakan selama beberapa hari (5-6 hari) di dalam ruangan dan di luar ruangan. Jika di luar ruangan berarti peserta kursus tidur di tenda. Semacam kemah gitu lah. Jika seseorang lulus dalam kursus itu, ia akan mendapatkan ijazah sebagai Pembina Pramuka. Seorang Pembina Pramuka minimal memiliki ijazah KMD.

Membina Pramuka di sekolah merupakan tantangan tersendiri. Pendidikan kepramukaan sifatnya terbuka dan menantang. Pembina Pramuka harus kreatif dan inovatif agar kegiatan latihan Pramuka menjadi menyenangkan.

Hubungan antara Pembina Pramuka dan peserta didik (anggota Pramuka) seperti kakak-adik. Peserta didik memanggil Pembina Pramuka dengan sebutan Kakak dan Pembina Pramuka memanggil peserta didik dengan sebutan Adik (kecuali untuk golongan Siaga). Panggilan tersebut mengisyaratkan adanya kedekatan dan keakraban antara Pembina dengan peserta didik.

Semakin lama membina Pramuka, seorang Pembina akan semakin bertambah wawasannya, semakin kuat karakternya, dan semakin dewasa kepribadiannya.
Jadi, kapan adek siap membina rumah tangga dengan Kakak? : )


 

2. Terlatih untuk Hidup Mandiri
Kegiatan latihan Pramuka mengajarkan tentang kemandirian. Pembina Pramuka harus terlatih dan terbiasa hidup mandiri karena ia akan mengajarkannya kepada peserta didik. Latihan untuk menguatkan karakter kemandirian itu antara lain dengan mendirikan tenda, jelajah alam, berkemah, dan lain-lain.

Mendirikan tenda bukan perkara mudah, lho. Butuh kecermatan dan keterampilan dalam membangun sebuah tenda yang kuat. Begitu pula dalam jelajah alam dan berkemah. Dalam berkemah, Pramuka harus mandiri. Mau makan, harus mau masak terlebih dahulu. Selesai makan, harus mau mencuci piring dan gelas. Seseorang yang sering mengikuti kegiatan Pramuka, sikap manja dan cengengnya akan semakin berkurang, berganti sikap mandiri yang semakin kuat. 


Dalam hidup berumah tangga, kamu pasti nggak mau, kan, hidup dengan seseorang yang suka berlagak seperti bos di rumah yang selalu minta dilayani. Kamu pasti menginginkan seseorang yang sesekali bisa buatin kamu masakan spesial, yang bisa gantiin galon air kalau habis, yang bisa benerin genting kalau bocor, yang pandai merayu kalau kamu lagi merajuk.


Kemah di Buper Borobudur, Magelang

 
3. Selalu Riang Gembira

Jangan sepelekan kegiatan tepuk-tepuk dan nyanyi-nyanyi dalam Pramuka. Dalam Kepramukaan, keduanya berfungsi sebagai alat pendidikan. Salah satu prinsip dalam kepramukaan ialah belajar dengan cara menyenangkan. Latihan-latihan keterampilan kepramukaan harus diajarkan dengan cara yang menyenangkan. Jika kegiatan Pramuka tidak menyenangkan, lebih baik tinggalkan saja.

Oleh karena itu, Pembina Pramuka mestilah menunjukkan sikap riang gembira saat membina Pramuka. Kegiatan sesulit dan seberat apapun harus dilakukan dengan perasaan senang. Kegiatan Pramuka bukanlah beban, tapi kegiatan yang menantang dan menyenangkan.

Misalkan saja dalam materi menaksir kecepatan arus sungai. Nyerempet ilmu Fisika, nih. Dalam pelajaran Fisika di kelas, rumus kecepatan disampaikan secara teori yang harus dihafal peserta didik yang kemudian disusul oleh soal-soal yang mengalir deras. Penyampaikan rumus kecepatan dalam latihan Pramuka harus secara menyenangkan. Misalnya dengan permainan-permainan yang seru dan lucu.

Dengan tuntutan untuk menyampaikan materi dengan cara menyenangkan, Pembina Pramuka harus selalu kreatif untuk menciptakan kegiatan-kegiatan yang seru, menantang, menyenangkan, serta menghibur. Tak ayal, sering terdengar tawa riang dalam latihan Pramuka.

Pembina Pramuka sering terlihat riang gembira. Sikap riang gembira ini bukan hal yang sepele, lho, Dek. Humoris itu penting. Dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh tantangan dan cobaan ini, kamu perlu seseorang yang bisa membuat kamu tersenyum dan tertawa.

Saya ajari nyanyi, nih, biar kamu ikut senang:
Di sini senang...
Di sana senang...
Di mana ada kamu hatiku senang...
Lalalala... lalala...



4. Penuh dengan Kasih Sayang
Dasadharma butir kedua berbunyi, “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.” Inilah salah satu “doktrin” dalam kepramukaan. Pramuka harus memiliki sifat menyanyangi. Tak hanya menyayangi sesama manusia, tapi harus menyayangi binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Pembina Pramuka harus menanamkan cinta alam dan kasih sayang ini dalam kehidupan sehari-hari. Membuang sampah harus pada tempatnya. Tidak boleh menyakiti hewan. Tidak boleh memotong tumbuhan sembarangan. Melaksanakan kegiatan penghijauan. Menolong orang lain yang kesusahan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang.

Dalam kegiatan di alam terbuka, Pembina Pramuka akan sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar. Ia akan memastikan binatang dan pepohonan tidak terganggu. Tuh, pohon aja disayangi, lho, Dek. Apalagi kamu.


5. Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan

“Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan” adalah bunyi Dasadharma butir kesepuluh. Pramuka harus melatih diri untuk berpikiran baik, bertutur baik, dan berbuat baik. Pikiran-pikiran kotor harus dihilangkan. Perkataan-perkataan kasar harus dijauhi. Perbuatan-perbuatan buruk harus dihindari.

Berpikir, berkata, dan berbuat suci (baik) merupakan janji moral Pramuka. Seseorang yang melanggarnya akan terkena sangsi moral yang diterapkan oleh kelompoknya.

Setiap orang pastinya suka dengan orang yang pikiran, perkataan, dan perbuatannya baik. Orang yang suci pikirannya pasti tidak akan ingkar janji. Zaman sekarang banyak lho, Dek, orang yang sukanya PHP doang. Bilangnya mau ngelamar tahun depan, setelah lewat setahun ditanya lagi, dijawab lagi tahun depan. Pembina Pramuka itu teguh memegang janji, lho, Dek. Cuma ngasih tahu aja, sih. 



I Scout. Do you?

6. Terbiasa Hidup secara Hemat, Sederhana, dan Bersahaja

Hidup hemat, sederhana, dan bersahaja itu bukan soal seberapa besar harta yang dimiliki. Hemat, sederhana, dan bersahaja adalah soal gaya hidup. Hidup hemat itu dipuji, sebaliknya hidup boros itu dicela. Tapi, hemat tidak berarti pelit. Hemat itu membelanjakan harta sesuai kebutuhan.

Hidup hemat harus ditanamkan oleh Pembina Pramuka kepada peserta didiknya. Peserta didiknya dianjurkan untuk menabung. Dalam mencukupi kebutuhan regu, setiap anggota harus iuran. Hal tersebut akan melatih sikap hemat.

Hidup sederhana dan bersahaja juga penting untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap boros dan berlebihan adalah awal dari bencana. Sebaliknya, sikap sederhana akan melatih diri untuk menerima apa yang ada.

Kebahagiaan itu berasal dari dalam diri, dari hati. Sikap sederhana dan bersahaja akan melatih hati untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang sederhana. Misalnya, berdua menikmati senja di atas bukit sudah bisa mendatangkan kebahagiaan tak terkira.

Percayalah, Dek, bukan harta kekayaan yang kamu butuhkan untuk mendapatkan kebahagiaan rumah tangga. Justru dalam kesederhanaan dan kebersahajaan akan kamu dapatkan kebahagiaan itu bersama pasanganmu. Dan percayalah, Pembina Pramuka itu bisa hidup hemat, sederhana, dan bersahaja.


7. Dapat Dipercaya dan Diandalkan
Pramuka harus dapat dipercaya dan diandalkan. Tugas-tugas kepramukaan menuntut rasa saling percaya. Setiap individu harus bisa diandalkan dalam menjalankan tugasnya masing-masing.

Dapat dipercaya dan diandalkan ini terlihat dalam kegiatan berkemah. Ada yang bertugas mendirikan tenda, ada yang bertugas membuat pagar, ada yang bertugas membuat gapura, ada yang bertugas memasak, dan lain-lain. Setiap orang yang terampil dalam menyelesaikan tugasnya. Setiap orang harus dapat dipercaya dan diandalkan.

Dalam membangun rumah tangga, kamu membutuhkan orang yang dapat dipercaya dan diandalkan. Dapat dipercaya dan diandalkan dalam mencari nafkah, dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam menyelesaikan setiap masalah, dan lain-lain.

Kamu akan sangat membutuhkan orang yang selalu ada untuk kamu. Seseorang yang siap siaga ketika kamu butuhkan. Seseorang yang terpercaya dan andal untuk menjadi tempat bersandar bagimu.





***
Demikianlah 7 alasan mengapa Pembina Pramuka adalah pendamping idaman buat kamu. Dengan alasan-alasan di atas, adakah alasan untuk tidak menerima seorang Pembina Pramuka sebagai pendamping hidup kamu?




Sunday, November 13, 2016

Juara Umum Kemah Ukhuwah Wilayah (Kemwil) Jateng VII Pramuka SIT

Peserta Kemwil yang terdiri atas: para pembina, anggota regu putra, dan anggora regu putri.

Sepertinya sudah cukup lama saya tidak menulis. Adakah yang merindukan tulisan saya? Atau adakah yang merindukan... saya? : D

Kali ini saya mau cerita tentang kegiatan sekolah, yaitu kemah Pramuka. Saya menjadi pembina Pramuka di sekolah. Sejak tiga tahun yang lalu menjadi pembina, saya sudah mengikuti kegiatan kemah Pramuka sebanyak 5kali, di antaranya kemah internal sekolah, kemah tingkat kabupaten, kemah Jateng-DIY, dan Kemah Ukhuwah Wilayah Jateng. Yang disebut terakhir merupakan kemah yang paling besar karena melibatkan sebanyak 2.256 pelajar anggota Pramuka Penggalang dari SDIT dan SMPIT se-Jawa tengah. Kemah Ukhuwah Wilayah (Kemwil) VII dilaksanakan di Lapangan Tembak Akmil, Kabupaten Magelang, sekitar 4 km ke barat dari Borobudur.

Sekolah saya mengirimkan 2 regu: regu Elang (putra) dan regu Kamboja (putri). Regu kami memiliki julukan. Regu Elang berjuluk Sanggabara yang merupakan singkatan dari Pasukan Penggalang Bakti Negara. Regu Kamboja berjuluk Sanggadara, Pasukan Penggalang Mujahidah Mutiara Insan. Saya berlaku sebagai Koordinator Pramuka di sekolah, jadi saya bersama pembina lain menyiapkan peserta untuk mengikuti kemah dengan baik.

Pada Kemwil sebelumnya, tahun 2012 yang diadakan di Purbalingga, sekolah saya mengikutinya dengan persiapan yang belum optimal. Maklum saja karena masih sekolah baru. Kali ini, kami mempersiapkan dengan baik untuk mengikuti Kemwil, khususnya persiapan-persiapan lomba selama kemah. 



Logo Pramuka SIT dan logo Kemwil VII
Saya kebagian untuk melatih LKBB (Lomba Kreasi Baris-Berbaris). Pada Kembadharma yang dilaksanakan di Buper Borodubur bulan Mei 2016, saya juga melatih LKBB. Saat itu regu Elang memeroleh juara 2 LKBB (jumlah pesertanya cuma 9 sekolah). Kali ini, target saya tak muluk-muluk, bisa masuk final saja, Alhamdulillah, karena jumlah pesertanya ada 35 sekolah.

Dimulailah hari-hari berpanas ria berlatih LKBB. Tak ayal, kulitku semakin hitam saja. Tapi tak apa-apalah, hitam-hitam gini masih tetap cakep, kan. : D

Hari Jumat (4/11) malam kami berangkat ke Magelang dengan armada bus Wahyu Putra. Kemah selama 4 hari 3 malam berjalan seru dan begitulah-begitulah. Lomba-lomba kami ikuti dengan baik. Dan hasilnya di luar ekspetasi saya.

Kami berhasil mendapatkan 4 piala untuk regu putra dan 1 piala untuk regu putri. Salah satu piala itu ialah Juara 1 LKBB. Wow... luar biasa. Saya tak menyangka bisa mendapatkan juara 1 LKBB, padahal peserta lain juga menampilkan LKBB yang bagus-bagus. Piala yang kami dapatkan untuk regu putra ialah Juara 1 LKBB, Juara 2 Paradise Tent, Juara 2 Memanah, dan Juara 2 Semboyan (Semaphore), sedangkan untuk regu putri ialah Juara 3 Memanah.

Dan yang lebih emejing lagi ialah kami menjadi Juara Umum Kemwil Jateng VII. Kami mendapatkan piala Regu Tergiat. Sungguh, ini anugerah yang tiada terduga. Kami berangkat dengan rasa optimis yang biasa-biasa saja, pulang cukup membawa beberapa piala, tanpa berpikir akan menjadi juara umum. Sebagai pembina, saya merasa senang tiada terkira. 



Perolehan piala


Oleh karena itu, perlu kiranya saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak atas partisipasi, dorongan, dukungan, dan doa mereka.

Yang pertama dan utama ialah, terima kasih kepada Allah SWT. Segala puji bagi-Nya. Allah telah melimpahkan nikmat-Nya yang tiada terhingga. Di antaranya ialah kami bisa mengikuti kemah dengan lancar, tiada hambatan dan halangan yang berarti. Atas berkah dan rahmat-Nya sehingga kami menjuarai beberapa lomba dan menjadi Juara Umum Kemwil Jateng VII.

Selanjutnya, terima kasih kepada Ibu Maryati selaku kepala sekolah yang telah memberikan dukungan dan dorongan untuk kemajuan kegiatan Pramuka di sekolah. Juga selaku Kamabigus yang memberikan banyak kemudahan sehingga kegiatan kepramukaan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Juga selaku koki selama Kemwil –baru kali ini kepala sekolah menjadi koki selama kemah—yang telah menyediakan masakan yang enak selama 4 hari 3 malam di Kemwil. Sungguh, kebutuhan asupan makan yang enak dan bergizi sangat diperlukan selama kemah sehingga kami bisa menjalani kegiatan kemah dengan baik.

Terima kasih kepada pembina Pramuka putra: Kak Topik Budiantoro dan Kak Syaefudin. Terima kasih atas waktu, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan dalam melakukan persiapan dan selama mengikuti kegiatan Kemwil. Terima kasih kepada Kak Syaef yang membantu menyiapkan logistik dan makanan selama kemah.

Terima kasih kepada para pembina Pramuka putri: Kak Sugiyatmi dan Kak Dwi Safitri. Terima kasih telah membantu persiapan, melatih lomba, dan membantu membimbing para peserta putri.

Terima kasih kepada Bapak/Ibu guru di sekolah yang telah membantu, mendukung, dan mendoakan peserta Kemwil.

Terima kasih kepada adik-adik peserta Kemwil: 10 pelajar putra Tim Sanggabara dan 10 pelajar putri Tim Sanggadara. Kalian sungguh hebat dan luar biasa. Kalian telah menorehkan prestasi dalam bidang kepramukaan di tingkat Provinsi. Prestasi ini akan menjadi kenang-kenangan kalian bagi sekolah. Dan terkhusus, kenang-kenangan bagi saya pribadi karena kalian memberikan pengalaman yang sungguh berkesan bagi saya. Sanggabara dan Sanggadara, kalian sungguh hebat!

Atas kebahagiaan ini, sepertinya saya perlu untuk menghadiahi diri sendiri. Saya memang kadang menghadiahi diri sendiri, baik saat mengalami kegembiraan yang sangat maupun saat mengalami kesediahan yang mendalam. Kali ini saya akan menghadiahi diri saya sendiri berupa kaos dengan desain yang saya buat sendiri, 2 kaos sekaligus. Berikut ini desain kaos polo t-shirt yang berbahan lacoste dengan bordir tulisan.








Saturday, October 29, 2016

Kutipan Buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga


Cinta menjadi tema umum dalam cerpen-cerpen karya Sungging Raga yang terkumpul dalam buku Reruntuhan Musim Dingin. Tapi, ini bukan kisah cinta yang cengeng. Sungging Raga meramu kisah cinta yang tak biasa. Kalau kata Tia Setiadi dalam pengantarnya terhadap buku ini, "Sungging Raga bersikeras menampilkan kisah-kisah cinta yang, syukurnya, tak terjerumus ke dalam lautan klise."

Kisah-kisah cinta dalam cerpen-cerpennya ditulis dengan penggambaran yang datar, yang berjarak. Namun meski demikian, Sungging Raga tak membiarkan cerpennya kering kerontang. Penulis memainkan akrobat kata dan menampilkan atraksi frasa. Rangkaian kata-katanya seperti menari-menari dengan anggun dan indah saat menceritakan suatu keadaan atau perasaan. 


Silakan baca resensi lengkap buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga di sini.

Banyak rangkaian katanya bisa menjadi quote yang bagus. Berikut ini kutipan-kutipan bagus dari buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga.

Barangkali, tidak ada perpisahan yang lebih menyenangkan untuk dirayakan daripada sepasang kekasih yang berpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Sepasang kekasih yang kemudian akan saling bertanya: mengapa cinta tidak cukup kekal untuk menjadikan dua manusia bersama selamanya?
(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")

Cinta terkadang memang tak direncanakan, tapi ketika segalanya bersemi, artinya ada yang harus diperjuangkan.
(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")

Setelah kebersamaan yang begitu panjang, mengapa kini hanya tersisa setengah jam? Apakah cinta tidak bisa diisi ulang?
(Cerpen "Selebrasi Perpisahan")

Memang. Selalu saja ada kisah tentang perempuan yang menunggu. Dan tidak ada kisah yang lebih menyedihkan daripada perempuan yang merasa yakin bahwa penantiannya yakin akan berbuah manis. Apakah perempuan selalu ditakdirkan untuk menunggu?
(Cerpen "Dermaga Patah Hati")

Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin darimu, untuk kemudian ditinggalkan.
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Setiap kisah, setiap tokoh yang singgah dalam kehidupan kita, pada akhirnya akan menghilang, berpisah begitu saja, melanjutkan kisahnya bersama tokoh-tokoh lain yang tak kita kenal. Mereka hanya serpihan bagi kita, dan kita pun mungkin hanya selintas ingatan bagi mereka.
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Mengapa ia tak bisa melepas kenangan yang awalnya datang begitu ringan? Apakah kenangan memang bisa tumbuh dan berkembang, menciptakan cabang berupa anak-anak kenangan yang lain?
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Tidak terbayang jika aku hidup bersama seorang penulis. Pasti sangat menyusahkan. Menulis itu bukan pekerjaan, itu cuma semacam pengisi waktu luang.
(Cerpen "Reruntuhan Musim Dingin")

Silakan baca resensi lengkap buku Reruntuhan Musim Dingin karya Sungging Raga di sini.




Tuesday, October 18, 2016

Gugur


telah gugur sesosok daun
yang sebelumnya telah kering di ranting
ia awalnya adalah daun yang indah
mengelok pandang, mengundang sanjung
warnanya hijau meneduhkan
ia dibesarkan oleh hangatnya belaian matahari

tahtanya tinggi di pucuk ranting
berdekatan dengan bunga-bunga paling atas
dilihatnya tanah, rumput, buah yang jatuh lalu membusuk
di bawah sana
dipandangnya anak kecil yang berlarian mengitari pohon
yang duduk-duduk di akar besarnya yang mencuat keluar

telah gugur ia kini
usianya berbatas, tugasnya purna
ia melayang berkendara angin
tujuannya ialah tanah basah di bawah sana
tanah dan rumput yang dulu dipandanginya dari atas

tanah, aku datang padamu
daun, aku menyambutmu



(Sukoharjo, 31 Agustus 2016)


 

Pejalan


seorang pejalan itulah aku. yang mencari aliran air itulah aku. yang menyusuri jejak pendahulu itulah aku. ikutilah aliran air sungai hingga tiba di samudera kekayaan itulah wasiat yang ditanamkan dalam batinku. maka di sinilah aku di sepanjang tepi aliran sungai.

bekalku adalah sepotong roti dan sebotol parfum. separo potong roti untuk pagi hari dan sisanya untuk menutup hari. kucelupkan separo potong roti itu ke dalam air sungai agar ia lembut dan mudah ditelan dan basah dan memberikan kesegaran. dan sebotol parfum itu kucipratkan pada pakaianku saat malam hari. parfum yang mengusir hawa kejahatan. yang mendekatkan kebaikan. yang menjadi perantara untuk memanjat tangga yang tercipta dari cahaya.

penglihatanku adalah matahati dan pendengaranku adalah matabatin. pengabarku adalah burung-burung terbang yang berkicau tentang sebuah gunung di ujung samudera yang di puncaknya bertahta sang raja. peneduhku adalah awan putih yang kadang menjelma menjadi pekat dan mencurahkan air yang memadamkan hasratku.

akulah pejalan yang menyusuri jejak pendahulu di sepanjang tepi aliran sungai menuju samudera kekayaan dengan bekal sepotong roti dan sebotol parfum.



(Sukoharjo, 31 Agustus 2016)


Akulah Badai, Engkaulah Karang



akulah badai, engkaulah karang
purnama memanggilku
membakar renjana dalam diriku
memercik
memerciklah aku
membesar
membesarlah aku
menggunung
menggununglah aku

akulah badai, engkaulah karang
dihentak bisingnya langit
diguncang riuhnya kapal-kapal
melindas, terlindas, menabrak, tertabrak
hancurlah aku
dibakar asap-asap di udara
ditusuk racun-racun di air
dan pepohonan mengaduh dari kejauhan
merintih menuju kematiannya

akulah badai, engkaulah karang
purnama memanggilku
aku datang
aku terjang
aku yang malang
telah menerima panggilan

akulah badai, engkaulah karang
tenanglah, engkau membujuk dalam keteguhan
sabarlah, engkau merayu dalam kelembutan
akulah karang, engkaulah badai
hempaskan gejolakmu padaku

akulah badai, engkaulah karang
kuhempaskan hasratku padamu
kutumpahkan renjana yang telah dibakar purnama itu
kupadamkan apiku untuk menyatu denganmu
akulah badai, engkaulah karang



(Sukoharjo, 31 Agustus 2016)